Search
  • Yani Kurniawan

Upaya Daring Industri Penerbitan dan Ancaman Pembajakan

Updated: Jun 5

Oleh:

Dewi Ria Utari

Tahun ini, hampir semua pameran buku internasional batal diadakan secara biasanya. Sebagian di antaranya mencoba bersiasat dengan mengadakannya secara daring. Di antaranya Bologna Children Book Fair dan Thai Book Fair yang diadakan Publishers and Booksellers Association of Thailand (PUBAT). Di pameran buku-buku daring ini, pengunjung bisa melakukan transaksi pembelian buku dan mengikuti sejumlah acara tanpa harus hadir secara fisik.


Antisipasi cepat diperlihatkan oleh PUBAT yang setiap tahun bertanggungjawab mengurus acara pameran buku-buku fisik dan pameran hak cipta buku yaitu National Book Fair yang tahun ini berusia 48 tahun dan Bangkok International Book Fair yang berusia ke-18 di tahun 2020 ini. Mereka memutuskan untuk mengubah format acara menjadi daring pada akhir Februari.


“Melihat kondisi yang berkembang, kami melihat bahwa tanggungjawab sosial adalah prioritas. Terutama melihat bahwa pameran buku adalah tempat bertemunya banyak orang di mana pecinta buku akan berbincang dengan penjual dan penerbit, dan mereka akan memilih, membaca, dan membeli buku-buku favorit mereka. Karena itulah, untuk menghindari segala risiko, pada 29 Februari, kami mengumumkan keputusan untuk menjadikan pameran buku Thailand dalam bentuk online untuk pertama kalinya dalam sejarah,” ujar Chonrungsri Chalermchaikit, Presiden PUBAT dalam sebuah wawancara yang diberitakan di Bangkok Post, 1 April 2020.


Dalam waktu hanya sekitar satu bulan, Thai Book Fair akhirnya berhasil diselenggarakan secara daring pada 25 Maret hingga 5 April 2020. Penyelenggaraan ini melibatkan sejumlah kemitraan. Di antaranya dengan penyelenggara market place yaitu Lazada dan Shopee, perusahaan ekspedisi, dan service provider situs belanja daring LNWShop. Selama penyelenggaraan acara tersebut, total 182 penerbit dari 470 anggota PUBAT berpartisipasi di bursa buku tahun ini. Total tercatat 660.000 kunjungan selama acara dan angka penjualan mencapai US$ 1,1 juta


“Dibandingkan dengan bursa buku fisik yang biasa kami selenggarakan, bursa daring hanya berbujet 15% dari bursa fisik dan keuntungan penjualan yang kami dapatkan adalah 10% dari bursa fisik,” ujar Chonrungsi dalam acara pertemuan zoom bertajuk PUBAT’s Online Book Fair: From Concept to Operation yang diselenggarakan PUBAT dan ABPA (ASEAN Book Publishers Association) pada 22 Mei 2020. Seluruh total penjualan ini dihasilkan dari buku-buku fisik, karena Thai Book Fair memang tidak menyelenggarakan penjualan untuk buku-buku digital.


Cara daring ini kemudian diikuti oleh Vietnam yang untuk pertama kalinya menyelenggarakan bursa buku daring pada 19 April sekaligus untuk merayakan Vietnam Book Day ketujuh yang jatuh setiap 21 April. Diselenggarakan hingga 20 Mei, bursa buku Vietnam menggunakan layanan e-commerce Book365.vn dengan menampilkan 10 ribu judul buku dan lebih dari 50 perusahaan penerbitan. Untuk jasa antar, mereka menggunakan Vietnam Post dan National Newspaper Distribution Company. Pengelola juga menawarkan potongan harga 25% dan bebas biaya pengantaran untuk 20 ribu pemesanan.


Lima hari sebelum bursa ini berakhir, tercatat hampir dua juta views dan 200 ribu visit tercatat di bursa buku Vietnam. “Melihat antusiasme ini, kami memperpanjang acara hingga 20 hari,” menurut Hung Nguyen Manh, international affairs di Vietnam Publishers and Printers Association dan pendiri Thai Ha Books, sebuah penerbitan swasta di Vietnam.


©lambokhutabarat

Catatan menggembirakan lainnya menurut Hung adalah 50% pemesanan buku datang dari provinsi-provinsi di luar Hanoi dan Ho Chi Minh City, memperlihatkan bahwa para pembaca dari daerah-daerah terpencil dan terisolasi yang selama ini kekurangan buku, kali ini mendapatkan akses buku.

Mengikuti cerita Thailand dan Vietnam ini, kita melihat bahwa saat krisis seperti ini, format daring cukup memadai untuk menjadi solusi. Persiapan untuk itu tentu sangat menuntut kerja keras.

Pekerjaan besar dilakukan PUBAT dari segi teknologi. Amy – sapaan Chonrungsi – bahkan harus menyediakan waktu khusus untuk melakukan pelatihan di bidang teknologi informasi bagi para penerbit untuk bisa terlibat dalam bursa buku daring. Terutama karena sebagian besar penerbit di Thailand bahkan belum memiliki situs.


Kemitraan juga sangat penting. Pihak PUBAT memastikan bahwa mitra-mitra yang terlibat mampu menunjang berlangsungnya acara, meski misalnya kemitraan itu tidak berimplikasi pembagian keuntungan. Misalnya dengan Lazada dan Shopee, pihak PUBAT tidak menjalin kesepakatan pembagian keuntungan apa pun. Namun yang mereka kejar adalah traffic kunjungan.


Traffic sangat penting. Karena itu kami bermitra dengan Lazada dan Shopee yang sudah memiliki 200 juta pelanggan,” kata Amy. Sebagai bursa buku daring yang baru pertama kali diadakan, Amy melihat bahwa kunjungan ke situs sangat memegang peranan.


Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada penyelenggaraan bursa buku daring secara nasional di Indonesia yang bisa memenuhi kebutuhan para pelaku industri penerbitan di masa pandemi saat ini. Meski, sejumlah penerbit dan pelaku industri perbukuan sudah melakukan penjualan buku secara daring dan mandiri ataupun bekerja sama dengan market place. Contohnya yang diselenggarakan Big Bad Wolf dengan Tokopedia pada 27 April hingga 3 Mei lalu. Kemudian Ikapi DKI Jakarta yang bekerja sama dengan Shopee menyelenggarakan Jakarta Book Fair Online pada 29 Juni – 2 Juli.


Seluruh infrastruktur yang dimiliki Thailand dan Vietnam dalam menyelenggarakan bursa buku daring, juga kita miliki. Begitu pula dengan kendala yang mereka hadapi, juga kita alami pula. Yaitu buku-buku bajakan yang beredar di market place. PUBAT juga tidak bisa memastikan apakah buku-buku yang diperjualbelikan saat acara tersebut adalah asli dan bukan bajakan. “Apalagi acara bursa buku ini, kami tidak didukung oleh pemerintah. Kami menyelenggarakannya secara mandiri,” ujar Amy.


Di Indonesia, bahkan sebelum pandemi, para penulis dan pemilik usaha penerbitan buku, telah mengeluhkan ketiadaan upaya pemerintah dan pemilik market place untuk menertibkan para pemilik lapak yang menjual buku-buku bajakan.


Dalam wawancaranya di womenpublishing.org, sebuah platform komunitas pelaku industri penerbitan internasional yang didirikan oleh Bodour Al Qasimi, Vice President International Publishers Association, Ketua Yayasan Tujuhbelasribu Pulau Imaji, Laura Bangun Prinsloo, turut menyampaikan kendala besar yang dihadapi dunia penerbitan di Indonesia. “Di satu sisi, Indonesia memiliki minat baca yang rendah, namun di sisi yang lain, pembajakan buku merajalela. Kedua hal ini berkontribusi pada turunnya industri penerbitan,” tulis Laura dalam salah satu jawaban di artikel wawancara tersebut.


Merajalelanya para pembajak buku di platform perdagangan elektronik (e-commerce), juga mengemuka dalam artikel Ancaman Parasit Perbukuan di Tengah Pandemi di kumparan.com. Dalam artikel tersebut, Laura menuturkan bahwa market place sebenarnya memiliki protokol untuk menurunkan iklan yang terindikasi menjual barang ilegal. Biasanya, penerbit atau pemilik karya harus lebih dulu melaporkan ke pengelola market place. “Tapi kan almost impossible untuk penerbit dan pengarang melacak itu semua,” kata Laura.


Selain itu, mengidentifikasi buku legal dan ilegal yang beredar di market place juga tak semudah itu. Banyak penjual menampilkan foto buku yang tampak asli. Begitu barang pesanan tiba di konsumen, baru ketahuan bahwa buku pesanannya bajakan.


Tere Liye adalah salah satu penulis yang paling lantang dalam memberikan bukti-bukti pembajakan terang-terangan yang beredar di market place melalui laman media sosialnya. Kemarahannya sangat dibenarkan. Bagaimana tidak, para penjual buku bajakan, menjual dagangannya dengan rata-rata harga buku Rp 20 ribu. Keuntungan yang mereka dapatkan bisa lebih dari Rp 1 Miliar sebulan. Tidak ada sepeser pun untuk penulis dan penerbit sah dari buku tersebut yang harus membayar pajak pada pemerintah.


Berikut beberapa contoh tautan dari media sosial milik Tere Liye yang menyoal tentang pembajakan buku, bisa dibaca di sini dan di sini.


Dua di antara sekian banyak unggahan Tere Liye tersebut mewakili jeritan hati para pelaku industri perbukuan dan penerbitan di Indonesia. Namun protes tersebut selalu diabaikan oleh pemerintah.


Parahnya, penyebaran buku-buku bajakan ini juga tidak hanya berada di lapak-lapak market place, tapi juga di jejaring grup percakapan (whatsapp group) dengan cara meneruskan pdf buku-buku dan media-media cetak. Sulit juga jika upaya meningkatkan literasi, tidak dibarengi dengan pemahaman akan pentingnya melindungi hak cipta.


Menjadi daring dalam situasi saat ini adalah keniscayaan. Penyelenggaraan acara-acara yang berpotensi menciptakan kerumunan memang harus ditunda atau dicari alternatifnya, yaitu dengan cara daring. Penjualan buku, pertemuan para penerbit, agen literasi, penulis, dengan para pembacanya, tak bisa ditunda lama-lama. Karena melalui ekosistem itulah, para pelaku industri perbukuan bisa melanjutkan hidupnya.


Para pelaku industri penerbitan di tanah air saat ini telah berinisiatif secara mandiri untuk mengadakan kegiatan-kegatan ekonomi secara daring. Namun hingga saat ini permintaan kepada pemerintah untuk menjalankan fungsinya sebagai pengayom warga negaranya yang telah membayar pajak secara legal untuk menindak secara tegas para pembajak buku dan mereka-mereka yang menyediakan ruang bagi para pembajak serasa pungguk merindukan bulan.


#newsletter #suratdaripulauimaji #dewiriautari

0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram