Search
  • Admin

Tak Ada Masa Depan tanpa Buku

Updated: Jun 14

Oleh: Fariq Alfaruqi


Semua umat manusia, saat ini, agaknya disatukan oleh pertanyaan sama: Kapan pandemi akan berakhir? Karena kau manusia biasa, pertanyaan itu tentu juga menghimpit pikiranmu saban hari seperti cangkang di punggung umang-umang. Ada banyak spekulasi, mulai dari analisa ilmuwan ahli virus sampai pada cuitan twitter dari para penghayat teori konspirasi. Sebagai makhluk gelisah, kaupun memamah semua informasi. Berharap sesegera mungkin memperoleh semacam pil penenang untuk membuai tidurmu. Sebentar lagi, tidak lama lagi, semua kesulitan ini akan berakhir.


Namun spekulasi adalah spekulasi, salah satu ranting dalam cecabang pikiranmu tahu benar konsekuensi dari ketidakpastian. Ia adalah wilayah abu-abu, campuran antara putih harapan dengan hitam ketakutan. Bagaimana jika pandemi ini baru akan berakhir dalam hitungan tahun? Bagaimana jika tepat sehari sebelum WHO dan pemerintah mengumumkan masa-masa kritis telah lewat, kau malah terjangkit virus itu?


Lelah berada dalam tegangan kemungkinan, kau tentu akan menyelamatkan diri dengan memikirkan hal lain. Serba-serbi aktivitas yang tidak bersoal secara langsung dengan hidup dan mati. Kau mencari kegiatan yang bisa menyibukkan diri, menonton serial televisi secara streaming, berkontak dengan orang-orang terdekat menggunakan fitur tatap muka, mengikuti berbagai kelas daring, membaca buku yang sebelumnya tidak sempat kau baca.


Tapi konsentrasi membacamu, akhir-akhir ini, hanya mampu bertahan tak lebih dari lima menit. Belum sampai sehalaman, kilasan bayangan lain membuyarkan upaya kerasmu memahami arti susunan hurufnya. Maka kau sekadar membolak-balik halamannya, sementara pikiranmu sibuk membayangkan bencana yang mempengaruhi berbagai sektor ekonomi dunia ini, apakah juga berdampak pada dunia perbukuan.


Sebagai orang yang berhubungan dekat dengan buku sedari belia, bagaimana mungkin kau tidak peduli dengan situasi itu. Gambaran pertama yang membayang di ingatanmu adalah bunyi kring sepeda dan wajah seorang bapak tersenyum sembari menyodorkan majalah Bobo, momen yang dulu selalu kau nantikan setiap minggu. Kau pun mulai mencari tahu apa yang tengah terjadi pada aktivitas produksi dan distribusi buku serta bagaimana nasib orang-orang yang menggelayutkan hidup pada industrinya. Memikirkan ini, meskipun pahit, toh tetap lebih baik ketimbang berhadapan dengan ketakutan tak berujung. Kau meraih gadget dari atas meja dan mulai berselancar di jagad maya.


Dengan asumsi sederhana, kau tahu bahwa yang pertama kali terdampak adalah bagian distribusi. Toko buku offline, tangan terakhir yang mempertemukan buku dengan pembaca, pasti lumpuh seketika dihantam pembatasan sosial yang belum lama ini diterapkan.


Kau mengecek toko-toko buku kecil dengan konsep indie di berbagai daerah, mereka semua tutup karena sebelumnya, di sana, penjualan buku selalu beriringan dengan obrolan buku yang mensyaratkan pertemuan langsung. Sementara hanya sejumlah toko buku besar yang masih beroperasi, itupun dengan pembatasan jam kerja, itupun sangat sepi pengunjung.


Padahal, sebagaimana yang kau ketahui, bahwa aktivitas di toko buku tradisional tersebut sebelumnya menjadi jantung distribusi buku di negeri ini. Dengan kata lain, toko buku yang memungkinkan penjualan buku terjadi dan akumulasinya bisa dipompakan lagi ke bagian produksi. Kalau toko buku tutup atau tidak beroperasi secara maksimal, niscaya penjualan akan terjun bebas.


Demikianlah ketika kau menemukan data dari Ikatan Penerbit Indonesia. Hampir semua penerbit mengalami penurunan penjualan, sebagian besar turun melebihi 50% dari penjualan masa normal. Banyak penerbit kemudian memutuskan untuk berhenti produksi dan fokus menjual stok buku yang sudah ada, banyak penerbit yang sudah memikirkan akan melakukan PHK terhadap karyawan. Jika situasi ini terus berlanjut, 60% lebih penerbit hanya mampu bertahan sampai tiga bulan ke depan.


Meski terkesiap, kau sudah memutuskan untuk menuntaskan rasa ingin tahumu terkait apa-apa yang terjadi pada dunia perbukuan di masa pandemi ini. Mestinya ada jalan lain untuk mengatasi penurunan penjualan buku, selain menghentikan produksi atau memecat karyawan.


Bukankah dalam beberapa tahun ini, penjualan online di berbagai marketplace atau media sosial atau platform online lain mulai marak? Kau kemudian ingat, beberapa temanmu bekerja di penerbitan. Dionisius Wisnu editor di Gramedia Pustaka Utama dan Suhindrati Shinta editor di Noura Publishing. Mungkin dari kedua teman itu kau bisa peroleh gambaran yang lebih menyeluruh atau malah sudut pandang lain.


Kau pun mempersiapkan wawancara kecil-kecilan, menyodorkan mereka beberapa pertanyaan terkait kondisi dapur produksi di kantor masing-masing dan upaya untuk tetap membuatnya mengepul. Dengan murah hati, kedua temanmu menceritakan apa yang sedang terjadi di tempat mereka bekerja.


Sejalan dengan data yang kau temukan sebelumnya, mereka saat ini memang sedang berkutat dengan persoalan distribusi buku. Toko-toko buku tradisional, saluran utama produk-produk mereka, tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Informasi spesifik dari Wisnu, 48 toko Gramedia tutup dan 73 toko Gramedia lainnya tetap buka dengan pambatasan jam kerja. Dan yang tetap buka itu pun sepi luar biasa, kata Shinta melengkapi. Imbasnya, untuk sementara waktu kedua penerbitan tempat temanmu bekerja itu juga berhenti produksi buku cetak untuk sementara.


Bagaimana dengan penjualan online atau kenapa tidak beralih pada produksi ebook, bukankah masyarakat kita menduduki peringkat ke empat dalam jumlah pengguna media sosial? Kau mengejar mereka dengan pertanyaan yang kau anggap akan jadi solusi untuk persoalan ini.


Menurut Wishnu dan Shinta penjualan melalui berbagai platform online adalah cara yang saat ini sedang ditempuh oleh kantor mereka. Di kantor Wisnu, penjualan online naik empat kali lipat pada bulan Maret jika dibandingkan dengan penjualan online di bulan Februari. Sementara di temapt Shinta bekerja, memang ada peningkatan penjualan buku melalui online, namun sama sekali tidak bisa menggantikan penjualan melalui toko buku tradisional. Sementara itu, produksi ebook yang juga bisa menjadi harapan, masih butuh waktu agar masyarakat kita terbiasa menggunakannya.


Tidak terlalu melegakan memang, tapi setidaknya teman-temanmu yang bekerja di dunia penerbitan masih berupaya keras mencari cara untuk memaksimalkan model penjualan dan produksi alternatif tersebut. Selain strategi-strategi penjualan umum seperti pemberian diskon belanja, ada inovasi-inovasi lain juga yang sedang diuji-coba. Semua karyawan di Gramedia Pustaka Utama, kantornya Wisnu, ikut melakukan promosi melalui akun media sosial masing-masing. Bahkan penulis pun mau terlibat.


Sama halnya dengan penulis Gramedia Pustaka Utama, para penulis yang bukunya terbit di Noura Publishing juga sangat kooperatif menanggapi situasi ini. Menurut Shinta, mereka mau meluangkan waktu untuk tampil di fitur live instagram, misalnya, atau bahkan ikut memberi saran dan usulan kreatif.


Sembari membandingkan dengan data IKAPI, obrolan dengan Wisnu dan Shinta memberimu gambaran yang lebih holistik. Saat ini kau sedang mereka-reka apa kemungkinan terbaik dan terburuk yang akan terjadi pada dunia perbukuan. Kemungkinan terbaik tentu saja pandemi segera berakhir dan penerbit malah bisa menemukan inovasi-inovasi baru, terutama terkait penggunaan teknologi digital. Membayangkan kemungkinan terburuknya, kau hanya bisa teringat wajah-wajah temanmu yang lain, mulai dari penulis, editor, penerjemah, desainer, penjaga toko buku, sampai pengecer di media sosial.


Tapi untuk menghapus pikiran buruk itu, wajah-wajah temanmu itu, kau tahu caranya. Ranting lain dari cecabang pikiranmu segera bekerja mencari pegangan bernama harapan. Dan kau ingat-ingat lagi perkataan Wisnu dan Shinta: Tantangan utamanya adalah seberapa besar penurunan ini dan bagaimana cara-cara kreatif kita untuk memperlambat penurunannya. Dan ini menjadi usaha bersama dalam “memperjuangkan” buku-buku. Ya, semoga banyak penerbit juga berpikir bahwa saat ini kesampingkan dulu akumulasi laba dan menjadikan kerja-kerja perbukuan jadi sebuah perjuangan.


#essay #fariqalfaruqi #newsletter

0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram