Search
  • Yani Kurniawan

Siaran Pers: Menyelamatkan Industri Perbukuan Asia Tenggara di Masa Pandemi

Updated: Jun 14

Sejumlah pelaku industri perbukuan di wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya, pada Jumat (24/4) lalu mengadakan diskusi daring dalam rangka World Book Day yang jatuh setiap tanggal 23 April. Pembahasan ini diinisiasi oleh Publishers Without Borders, sebuah kelompok yang didirikan pada awal pandemi virus corona oleh Simon de Jocas dari Editions Les 400 Coups yang berbasis di Montreal, Kanada dan dikelola dengan bantuan Prashant Pathak dari Wonder House Book India, Fatimah Abbas dari Fala Agency di Mesir, dan Emma House, konsultan penerbitan internasional yang berada di Inggris.


Pada Jumat (24/4) itu, Publishers Without Border mengadakan empat sesi diskusi daring di mana Indonesia diundang untuk menjadi pembicara di sesi pertama pada pukul 15.00 WIB dengan tema “A Look Into The Publishing World in South East Asia” yang menghadirkan tiga tokoh perbukuan dari tiga negara, yaitu Laura Bangun Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional 2016-2019 dan Ketua Yayasan Tujuhbelasribu Pulau Imaji; Arief Hakim Sani, President Malaysian Book Publishers Association dan Managing Director PTS Media Group yang berbasis di Selangor, Malaysia; dan Maria Karina Africa Bolasco, Direktur Ateneo University Press. Ketiganya memaparkan memburuknya penjualan buku sejak wabah pandemi ini dan karenanya sangat memerlukan dukungan pemerintah. Diskusi ini bisa disimak di https://youtu.be/9JKno7HgUh0.

Di Malaysia, Arief Hakim menjelaskan bahwa pemerintah Malaysia yang tahun ini tengah merayakan terpilihnya Kuala Lumpur sebagai Unesco World Book Capital City 2021, mengadakan kampanye membaca nasional setiap pukul 11 siang. Karena pandemi corona, negara tersebut mengubah semua perayaan Unesco World Book Capital City yang diselenggarakan pada 24 April, menjadi acara-acara berbasis daring. Di Malaysia, penjualan buku turun 80-90 persen karena seluruh toko buku tutup yang menyebabkan arus keuangan para pemilik usaha menjadi sangat berkurang. “Setelah lockdown, akan banyak orang kehilangan pekerjaan dan sejumlah penerbitan tutup,” ujar Arief Hakim.

Bantuan pemerintah Malaysia sejauh ini diberikan untuk penerbit-penerbit skala kecil dan menengah dalam bentuk pinjaman bank selama 6 bulan dan subsidi untuk gaji para pekerja perbukuan. “Kami sebenarnya mengharapkan bantuan dalam bentuk pembelian dan mengizinkan toko buku untuk buka dalam periode tertentu, karena pendapatan kami masih sangat bergantung pada penjualan buku fisik,” kata Arief.

Di Filipina pun situasinya tak lebih sama. April yang harusnya menjadi perayaan literasi di Filipina berupa International Literary Festival yang tahun ini menginjak tahun kesebelas, harus dibatalkan. Namun mereka mencoba mengatasi situasi ini dengan beberapa cara, misalnya program pemberian buku gratis setiap minggu di provinsi Naga, bekerjasama dengan jasa pengantar makanan, supermarket dan restoran.

Pada September nanti, mereka berharap bisa melaksanakan pameran buku tahunan yang tahun ini menginjak ke-41 tahun. “Semoga situasinya sudah membaik, sehingga festival tersebut masih bisa dilangsungkan, meski bisa jadi pemerintah akan menarik dukungannya,” ujar Karina Bolasco yang berharap Agustus nanti, saat sekolah mulai dibuka, para penerbit bisa kembali menjalankan penjualan di toko buku. “Karena di Filipina, kebanyakan penerbit adalah penerbit buku pelajaran dan pendidikan,” kata Karina.

Di Indonesia, Laura Bangun Prinsloo menyatakan bahwa pihak Yayasan Tujuhbelasribu Pulau Imaji telah mengirimkan surat usulan kepada Presiden Joko Widodo melalui Kantor Staf Kepresidenan RI pada 15 April 2020 dan jajaran kementerian terkait di bidang perbukuan (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan, Kemendikbud, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), untuk menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi penyelamatan industri perbukuan di Indonesia. Keenam usulan tersebut adalah:

  1. Memberikan dukungan dana bagi pelaku industri perbukuan untuk membuka akses membaca gratis secara online dan bergiat untuk mengonversi buku terbitan mereka ke dalam bentuk digital, audio, video, dan program online agar mudah diakses selama masa #dirumahaja.

  2. Memberikan dukungan dana bagi Perpustakaan, lembaga pendidikan, dan komunitas masyarakat untuk membeli buku, buku digital, buku audio dari para penerbit untuk mendorong dan masyarakat membaca di rumah.

  3. Memberikan dukungan dana bagi pelaku industri perbukuan untuk menerbitkan buku bertema kesehatan dan hidup higienis dengan sasaran pembaca mulai dari balita hingga lansia untuk meningkatkan gaya hidup sehat di masyarakat.

  4. Menyiapkan kampanye bersama dengan membentuk jejaring komunikasi yang lebih intensif untuk mensosialisasikan budaya baca melalui media sosial dan platform-platform komunikasi massa lainnya.

  5. Memberikan dukungan dana bagi pelaku industri perbukuan untuk pengiriman gratis buku-buku fisik kepada taman baca, perpustakaan daerah, dan komunitas-komunitas literasi yang memerlukan, supaya setiap lapisan masyarakat tetap bisa mendapatkan akses pada buku.

  6. Memberikan dukungan dana baik bagi industri penerbitan untuk terus melanjutkan kegiatan produksi dan promosi perbukuan maupun bagi kegiatan kerja sama lintas sektor untuk menghidupkan kembali industri perbukuan dan juga industri kreatif secara umum.

Keenam usulan ini mengacu pada sejumlah bantuan pemerintah yang diberikan kepada perbukuan yang dilakukan sejumlah negara. Di antaranya:

  1. Republik Ceko Perpustakaan Nasional Republik Ceko membeli buku elektronik (e-book) dari para penerbit senilai 370.000 Euro selama masa Pandemi di mana toko-toko buku di negara tersebut tutup.

  2. Inggris Pemerintah memberikan dana kepada perpustakaan umum senilai 1 juta Poundsterling untuk membeli buku elektronik dan buku audio

  3. Irlandia Pemerintah mengeluarkan dana tambahan 200.000 Euro untuk pembelian 5000 buku elektronik dan buku audiobook bagi perpustakaan umum.

Usulan-usulan kepada pemerintah ini disampaikan pihak Yayasan setelah melihat memburuknya kondisi industri perbukuan di Indonesia. Sebagai contoh, dengan ditutupnya 61 toko buku Gramedia, maka rata-rata para penerbit mengalami penurunan penjualan dari 40-70 persen sejak Maret 2020. “Jika kondisi ini tidak segera mendapat perhatian pemerintah, maka sejumlah penerbit tingkat kecil dan menengah tak lagi bisa melanjutkan hidupnya,” ujar Laura Bangun Prinsloo. Bahkan jika para penerbit harus mulai menyesuaikan bisnisnya dengan situasi social distancing saat ini, tetap saja memerlukan biaya yang tak sedikit. “Mengubah buku menjadi buku elektronik (e-book) atau buku audio (audio-book) pun tidak secepat itu dan semudah itu dari segi biaya. Belum lagi tidak semua penerbit siap dengan cara penjualan e-commerce,” kata Laura melanjutkan.

Melihat situasi inilah, Yayasan Tujuhbelasribu Pulau Imaji telah menjalin kerja sama dengan sejumlah platform industri kreatif dan jejaring industri perbukuan di tingkat kawasan Asia maupun internasional untuk terlibat dalam acara Jakarta Content Week pada November 2020 yang diselenggarakan Yayasan bersama Frankfurt Book Fair. Acara ini diharapkan bisa membangkitkan sekaligus mempertemukan para pelaku industri perbukuan dan konten yang terdampak oleh pandemi Covid-19.



Untuk informasi lebih lanjut: contact@pulauimaji.org Dewi Ria Utari (+62 813 1465 1475) Benedicta (+62 818 807 506)


0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram