• Yani Kurniawan

Seputar Pendanaan Penerjemahan Sastra


Oleh Ronny Agustinus

Peraih Hadiah Nobel Sastra dari Portugal José Saramago pernah berkata, “Penulis menulis dengan bahasa nasionalnya masing-masing. Sastra dunia yang sesungguhnya diciptakan oleh penerjemah.” Tak bisa disangkal, penerjemahan sastra adalah bagian penting dari dialog global, bahkan jauh sebelum jargon-jargon soal globalisasi mengisi ruang percakapan kita. Bangsa-bangsa dan masyarakat saling mengenal dengan membaca hasil produksi literer satu sama lain. Situasinya sekarang memang tidak ideal. Suka atau tidak suka, akibat warisan kolonialisme dan Perang Dingin, bahasa Inggris menjadi bahasa dominan dengan penutur terbanyak di dunia, meski jumlah penutur aslinya (native speaker) sebenarnya jauh di bawah bahasa China dan Spanyol. Dalam industri penerbitan, hegemoni ini terlihat jelas. Kemampuan berbahasa Inggris menjadi keniscayaan untuk memperantarai para penerbit bahkan yang masing-masingnya bukan berasal dari negara berbahasa Inggris.



Di tengah situasi tersebut, bagaimana para penulis dari berbagai bangsa dan bahasa tampil di pentas sastra dunia dan ikut memberi suara dalam percakapan global? Bila kita ingat ungkapan Saramago di atas, maka di sinilah negara jadi punya peran konkret dalam mendukung kesusastraan dan kebudayaannya. Sudah menjadi fitrah dan tugas penulis untuk menulis sebaik-baiknya dalam bahasa nasionalnya, tetapi penerjemahannya (oleh si penerjemah) dan penerbitannya dalam bahasa asing (oleh si penerbit asing) umumnya bukan sekadar kerja kebudayaan semata. Pertanyaan umum di benak penerbit saat mempertimbangkan karya terjemahan selalu: bagaimana penerimaan pembaca di negeri saya terhadap suatu cerita dari kultur yang asing bahkan tidak dikenal? Bagaimanapun, penerbitan adalah bisnis yang tidak murah, karena itu penerjemahan suatu karya asing akan selalu memiliki pertimbangan bisnis selain pertimbangan ideologis dan kultural.


Untuk itulah negara-negara memiliki lembaganya sendiri-sendiri guna menopang penerjemahan karya sastra mereka ke dalam bahasa asing. Bahkan negara sekecil Georgia—yang luasnya hanya seperduapuluhtujuh Indonesia dan jumlah penduduknya sepertujuhpuluhdua—rutin memberikan dana subsidi penerjemahan sastra Georgia ke bahasa asing setiap tahunnya. Beberapa negara multibahasa bahkan memiliki beberapa lembaga pendanaan penerjemahan sekaligus di satu negeri untuk bahasa yang berbeda. Di Spanyol misalnya, bila Anda ingin meminta subsidi pendanaan terjemahan penulis Spanyol berbahasa Spanyol, Anda harus mengajukan ke Acción Cultural Española. Lain halnya bila Anda ingin menerjemahkan penulis Spanyol berbahasa Katalunya atau Ositan, maka Anda harus mengajukan permohonan ke Institut Ramon Llull. Negara-negara Amerika Latin, meski sama-sama berbahasa Spanyol, memiliki organisasinya masing-masing yang saling bersaing dalam mempromosikan karya sastra mereka agar diterjemahkan ke bahasa asing.


Tiap negara dan organisasi pun mempunyai ketentuan yang berbeda-beda untuk program subsidinya ini, baik dalam besaran maupun cakupan. Mereka juga punya syarat masing-masing dalam meloloskan bantuan dana penerjemahan. Ada yang tergolong sederhana sampai sangat rumit. Belanda misalnya, melalui Nederlands Letterenfonds, mewajibkan penerjemah penggarap karya harus terdaftar dulu dan terverifikasi dalam pusat data mereka sebagai penerjemah yang diakui setelah melalui serangkaian tes. Syarat lain misalnya adalah jangka waktu penerbitan setelah permohonan subsidi disetujui. Ada negara-negara yang sangat ketat dalam hal ini, ada juga yang lebih bertenggang rasa dengan jadwal terbit yang mungkin mulur karena berbagai alasan. Di antara semuanya, menurut saya pribadi Kanada adalah yang paling rumit. Bantuan penerjemahan sastra dikelola oleh divisi Arts Abroad dalam Canada Council for the Arts, dan kerumitan awal untuk mendaftarkan organisasi—jauh sebelum berbicara soal karya yang hendak diterjemahkan—sudah membuat saya keder untuk tidak mengulangi atau menindaklanjutinya lagi.


Namun demikian, meski ketentuan masing-masingnya bisa beraneka ragam, tentu ada poin-poin pokok yang berlaku sama untuk semua program subsidi terjemahan ini, yang bisa dirangkum sbb:

  1. Buku diterjemahkan dengan izin resmi pemilik hak penerbitan dan semua biaya dari hak ini sudah dibayarkan (bukti kontrak dilampirkan);

  2. Buku diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya dengan penerjemah yang kompeten (pihak pemberi subsidi akan meminta riwayat hidup penerjemah dan menjalin kontak langsung dengannya);

  3. Buku harus dicetak dan beredar secara luas.

Sepanjang pengalaman saya mengelola penerbitan dan menerjemahkan karya-karya dari bahasa asing, penerbitan saya sudah dua kali lolos dalam subsidi penerjemahan macam ini. Pertama, untuk buku Eine kurze Weltgeschichte für junge Leser karya Ernst H. Gombrich (diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Elisabeth Soeprapto-Hastrich sebagai Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda). Sayangnya, penerbitan edisi Indonesia ini mulur berkepanjangan dari ketentuan karena kelambatan pihak kami, sehingga subsidi terjemahan dari Goethe Institut pun menjadi tidak valid. Namun tak masalah, ketiadaan subsidi tidak membuat kami mundur dalam menerbitkan buku yang terbukti sukses ini. Kedua, untuk buku Genanse og verdighet karya Dag Solstad (diterjemahkan dari bahasa Norwegia oleh Irwan Syahrir sebagai Aib dan Martabat). Penerjemahan novel ini disubsidi oleh Norwegian Literature Abroad (NORLA) dan berhasil kami selesaikan sesuai ketentuan. Kedutaan Besar Argentina juga sudah dua kali berkirim surat agar penerbitan saya memanfaatkan subsidi penerjemahan dari Programa Sur. Ke depan, kami memang berencana mempergiat pemanfaatan program-program ini untuk memperluas cakupan kebahasaan terbitan kami.


Perlu diingat bahwa dana subsidi penerjemahan ini pada akhirnya diterima oleh penerjemah, bukan oleh penerbit. Tujuannya adalah untuk menunjang kerja si penerjemah buku agar mendapat upah yang layak, sementara si penerbit diringankan dengan tidak usah mengeluarkan ongkos penerjemahan. Mekanismenya bergantung pada masing-masing organisasi pemberi dana. Ada yang langsung mentransfer ke rekening penerjemah, dan ada juga yang memakai sistem reimburse. Penerbit mengirimkan bukti bahwa mereka sudah membayar si penerjemah, dan dana subsidi akan dikirimkan ke rekening penerbit.


Lalu bagaimana dengan Indonesia? Saya sempat meyakini pernyataan sejarawan Anthony Reid bahwa Indonesia adalah bangsa yang paling tidak efektif dalam menjelaskan dirinya sendiri kepada dunia.


Keyakinan tersebut sempat berkurang ketika pemerintah selama beberapa tahun terakhir—setidaknya sejak 2014—tampak memberi dukungan kepada kerja-kerja Komite Buku Nasional (KBN), yang selain menjadi representasi perbukuan Indonesia di ajang internasional, juga memberi bantuan dana penerjemahan sastra Indonesia ke bahasa asing melalui program LitRI. Penerbitan kami belum pernah mengajukan pendanaan ini, sehingga saya cukup yakin saya tidak bias ketika mengatakan program ini berguna. Berkat program LitRI kita saksikan novel Putu Wijaya bisa terbit di Mesir, cerita-cerita Azhari terbit di Maroko, novel Eka Kurniawan terbit di Swiss, buku bergambar Rassi Narika terbit di Inggris, komik-komik Is Yuniarto dan Andik Prayogo terbit di Jepang, dan masih banyak lainnya. Kemajuan ini menggembirakan: kita ikut serta dalam percakapan global melalui penerjemahan karya literer ke bahasa asing. Edisi Jerman Amba, Alle Farben Rot karya Laksmi Pamuntjak meraih LiBeraturpreis pada 2016, sementara Eka Kurniawan meraih Financial Times/OppenheimerFunds Emerging Voices melalui edisi Inggris Man Tiger.


Bukan berarti upaya itu sudah maksimal dan tidak ada kritik yang bisa diarahkan kepada program LitRI. Perbaikan jelas perlu dan mungkin, tetapi ini sudah terbaik daripada tidak ada sama sekali. Perlu diingat bahwa sejak KBN berdiri, sudah seribu lebih rights buku Indonesia terjual di luar negeri dan pada 2019, jumlah subsidi terjemahan dalam program LitRI mencapai maksimal AS$7.000 per proyek. Angka-angka ini jelas tidak jelek-jelek amat. Namun kerja keras ini tiba-tiba dimentahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Akhir Februari 2020 KBN bubar jalan begitu saja, dan kelanjutan program subsidi penerjemahan maupun keikutsertaan Indonesia di ajang-ajang perbukuan internasional menjadi tidak jelas nasibnya. Para penulis dan penerbit tentu saja akan terus berkarya, tetapi bagaimana jadinya peran negara?


Sinyalemen Anthony Reid jadi kembali terngiang-ngiang. Rasanya memang masih terlampau banyak kaum philistine sebagai pengendali kebijakan di negeri ini, yang berpikir jangka pendek dan memandang rendah sumbangsih karya literer bagi citra tentang Indonesia di mata dunia. Seumpama pergaulan dunia internasional adalah grup Whatsapp, Indonesia tampak tidak tertarik untuk bertukar gagasan dan berbagi tulisan-tulisan terbaiknya. Ia hanya muncul sebagai pedagang, dengan kalimat asal-asalan dan penuh salah ketik menggempur seisi grup dengan iklan obral sumber daya alam dan bujuk rayu kemudahan investasi.

Ronny Agustinus

(Penerjemah sastra Amerika Latin, pendiri penerbit Marjin Kiri)

1,354 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram