• Yani Kurniawan

SASTRA DAN NASIONALISME: Lima Buku Rekomendasi Zen Hae

Sastra Indonesia masa awal adalah serangkaian ekspresi nasionalisme yang lantang tetapi juga terbata-bata. Ia merupakan adukan antara bakat alam, pendidikan modern dan godaan nasionalisme. Kesusastraan yang tidak mempunyai pendahulu atau preseden historis—kecuali bentuk-bentuk tradisional seperti pantun, syair, serat, sureq, babad, hikayat—tiba-tiba harus mengatakan segala sesuatu yang baru dalam bentuk yang baru pula di masa yang tengah berubah. Kesusastraan itu, dalam lukisan Bakri Siregar, adalah “…hasil-hasil kalangan borjuasi Indonesia yang baru tumbuh, yang dalam batas-batas tertentu mempunyai segi positifnya dalam menentang tradisi dan eksploatasi feodalisme.” [1]



Kondisi ini setidaknya disebabkan oleh belum dikuasainya dengan baik kecakapan menulis (craftsmanship), atau wawasan kesusastraan secara umum, tetapi pada saat yang sama mereka telah digoda habis-habisan untuk menempatkan kesusastraan sebagai aspek yang penting dalam pergerakan kebangsaan. Karya sastra dianggap akan mampu menyuarakan semangat nasionalisme, yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh pidato atau rapat umum. Banyak hal penting yang mesti dikatakan oleh kesusastraan: nasionalisme, sikap anti-kolonial, anti-feodalisme, pertentangan kelas dan lain-lain soal. Bentuknya belum stabil, tetapi isinya bergolak terus, seperti hendak meledak. Kelak, Sutan Takdir Alisjahbana punya ungkapan pas untuk kondisi ini: sastra Indonesia tumbuh dalam bahasa “yang muda, tapi harus melakukan pekerjaan orang dewasa.”[2]


Para penulis sastra generasi pertama itu bukanlah mereka yang tumbuh dalam lingkaran seni atau sastra, tetapi para aktivis pemuda, wartawan, anak sekolahan, tidak terkecuali Muhammad Yamin, Roestam Effendi, Mas Marco Kartodikromo, Tirto Adhi Soerjo atau Kwee Tek Hoay. Saat itu belum terbayangkan pentingnya lingkaran seni—sebagaimana kemudian dibentuk oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Chairil Anwar atau yang dilembagakan seumpama Keimin Bunka Shidosho/Kantor Pusat Kebudayaan di masa pendudukan Jepang. Adapun Bataviaasche Kunstkring—juga lembaga serupa yang berdiri di Bandung dan Surabaya—lebih berorientasi kepada seni rupa dan seniman Belanda dan Eropa yang bermukim di Hindia Belanda


Jika ada lembaga yang kemudian mendorong pertumbuhan kesusastraan adalah Balai Pustaka sebagai organ penerbitan kolonial. Balai Pustaka tentu saja mendorong penerbitan buku-buku bacaan dan perpustakaan hingga ke desa-desa, tetapi sebagai lembaga kolonial ia punya garis estetik-politiknya sendiri. Paling tidak, ia tidak menerbitkan karya-karya sastra yang menyebarkan permusuhan kepada pemerintah—dengan kata lain: tidak berpolitik—atau karya yang merongrong kesopanan publik dan agama tertentu. Garis estetik-politik inilah yang kemudian dimainkan oleh para penulis generasi Balai Pustaka. Acuannya adalah “Nota Rinkes 1911”.


Namun, mereka yang berada di luar itu—sebutlah para pengarang nasionalis-kiri dan Cina Peranakan—bisa bergerak lebih lincah dan berani. Ekspresi anti-kolonial dan anti-feodalisme sangat kencang terpancar pada karya-karya Tirto Adhi Soerjo, Mas Marco Kartodikromo dan Semaun. Sementara, pada saat yang sama para pengarang China Peranakan memainkan banyak sekali isu sosial: perdagangan candu, asimilasi, pernyaian, poligami, dan soal-soal lain yang tidak mungkin ditulis oleh pada pengarang Balai Pustaka. Penerbitan dan perusahaan pers partikelir juga banyak diusahakan oleh para penulis dan pengusaha China Peranakan dan kaum nasioanlis demi menampung tingginya gairah kepenulisan di kalangan mereka.


Para penulis non-Balai Pustaka juga mengambil sikap yang lebih rileks terhadap bahasa. Karena saat itu bahasa Melayu mulai dilembagakan oleh Balai Pustaka, artinya para penulis lingkaran penerbit kolonial ini mesti menulis dalam langgam Melayu Tinggi atau Melayu Balai Pustaka, para pengarang nasionalis-kiri dan China Peranakan—bahkan para pengarang Indo-Belanda di masa sebelumnya—justru mendayagunakan bahasa Melayu yang lebih populis, yang secara pejoratif disebut sebagai bahasa Melayu Rendah atau Melayu Pasar. Dengan begitu, mereka bukan hanya bisa menulis tema-tema yang lebih beragam dan berani, tetapi juga bisa diakses oleh lebih banyak pembaca. (Pada saat yang sama berkembang pula genre kesusastraan di luar orbit Balai Pustaka, yaitu “Roman Medan” oleh para penulis yang berproses di Medan, Sumatra Utara.)


Risikonya kemudian adalah karya mereka dikategorikan sebagai “Bacaan Liar”, yang dianggap merongrong wibawa pemerintah kolonial, hanya sekadar cari untung dan berpotensi merusak moral masyarakat. Karya mereka dilarang, disita, dan dibakar.

Pada kondisinya yang wajar sastra Indonesia bersoal bukan melulu dengan nasionalisme, tetapi juga soal-soal lain di dunia fana ini. Perkembangan bentuk juga lebih berkembang. Artinya, tidak melulu pada roman realis atau sajak Romantik, tetapi bentuk-bentuk lain yang seiring dengan perkembangan sastra sezaman di Indonesia dan dunia. Baru pada masa yang lebih kemudian, sastra Indonesia menunjukkan, setidaknya, keseimbangan antara apa yang hendak dikatakan dengan apa bentuk-bentuk yang dipilih untuk mengatakannya; keseimbangan antara bentuk dan isi.


Sastra juga bukan disiplin yang berdiri sendiri. Ia pekerjaan multi- dan interdisiplin, yang memperlihatkan saling pengaruh bukan hanya dengan bidang-bidang seni yang lain, tetapi juga dengan sains, ilmu sosial, dan lain-lainnya. Dalam soal membicarakan nasionalisme, misalnya, sastra juga berbagi kewajiban dengan tradisi penulisan yang lain, termasuk jurnalisme dan studi sejarah.


Buku-buku yang saya rekomendasikan berikut ini memang tidak sepenuhnya menyangkut karya sastra. Saya juga memilih buku-buku penelitian sejarah dan himpunan surat yang selama ini dikategorikan sebagai karya nonfiksi, sebab buku-buku itu berbicara lebih mendalam tentang apa yang kita bayangkan tentang nasionalisme, tentang Indonesia yang kelak lahir, tentang komitmen sosial pada “komunitas imajiner” yang karenanya dari generasi ke generasi kita rela mati, demi rumah bersama bernama Indonesia.


Sebenarnya, adalah tidak masuk akal memantapkan pilihan kepada lima buku di tengah lautan buku dan karya sastra yang telah mencatatkan prestasi penting atau menyisakan kesan tersendiri di hati pembaca mereka. Namun, memilih lima artinya saya berketat dalam khazanah bacaan saya—yang terbatas dan dalam konteks ini hanya mengacu kepada nasionalisme Indonesia. Mudah-mudahan cukup memuaskan.


Silakan klik di masing-masing gambar sampul buku untuk membaca resensi terkait



Zen Hae menulis cerpen, puisi, esai dan kritik sastra. Menerbitkan buku kumpulan cerpen Rumah Kawin (2004) dan buku puisi Paus Merah Jambu (2007). Yang terakhir beroleh penghargaan Karya Sastra Terbaik 2007 dari majalah Tempo. Buku terakhirnya adalah kumpulan cerpen dalam tiga bahasa (Indonesia, Jerman, Inggris) The Red Bowl and Other Stories (2015). Di juga ko-editor untuk dua jilid The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories dan Antologi Cerpen Indonesia (keduanya diterbitkan Yayasan Lontar, 2017). Pernah menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012). Pada 2012 ia bergabung dengan Komunitas Salihara dan sejak 2018 menjadi kurator untuk program Gagasan di komunitas tersebut. Pada 2017 ia menjadi seniman mukiman di Praha dan Český Krumlov, Republik Ceko, atas dukungan Komite Buku Nasional-Kementerian Pendidikan Kebudayaan.


[1] Bakri Siregar, Sedjarah Sastera Indonesia Modern Jilid 1 (Jakarta: Akademi Sastera dan Bahasa “Multatuli”, 1964), 40. [2] Sutan Takdir Alisjahbana, Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (Jakarta: Dian Rakyat, 1978), 127.

66 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram