Search
  • Yani Kurniawan

Review: Perempuan Yang Dihapus Namanya (Avianti Armand)


Di tempat ia berdiri, tanah menjauh

dari telapaknya yang telanjang.

Bayangan melata dari pasir

sebelum menjelma selubung

yang berkabung

Angin berdebar.

Padang kehilangan diam

dan tepi.

Dari udara berhembus

kata-kata

(Tamar, Perempuan yang Dihapus Namanya)


Resensi oleh: Fariq Alfaruqi


“Selubung yang berkabung,” salah satu frasa dalam puisi berjudul “Tamar” itu, merupakan lanskap yang terhampar di sekujur buku Perempuan yang Dihapus Namanya karya Avianti Armand. Selubung, dalam artian, bagaimana watak naratif dalam puisi tersebut bersembunyi di balik selimut lirikal.

Lima puisi yang termaktub dalam buku pemenang Khatulistiwa Literary Award 2011 tersebut hendak berkisah, berkisah tentang para perempuan yang, menggunakan istilah Avianti Armand dalam kata pengantar bukunya, “berada di balik selubung” atau “ada yang dihapus kehadirannya dari dalam Kitab.” Ya, kelima puisi di buku ini merupakan hasil pembacaan ulang terhadap Perjanjian Lama. Alusi tentang peristiwa-peristiwa kitab suci, lebih tepatnya alusi tentang empat perempuan yang termaktub dalam kitab suci tersebut masing-masing dipiyuhkan lagi dalam empat puisi. Kisah tentang Hawa, Tamar, Batsyeba, dan Jezebel. Sementara satu puisi lagi, puisi pertama, adalah semacam pintu masuk, pintu masuk alternatif menuju alusi-alusi kitab suci tersebut.

Namun kisah yang dituturkan tidaklah lengkap sebagaimana jika sebuah narasi dituturkan melalui kaidah prosa. Narasi dalam puisi tersebut tidaklah kronologis, tapi bergerak serentak. Perpindahan dari satu kalimat ke kalimat lain, dari satu stanza ke stanza lain, didasarkan pada pertimbangan puitika, pergantian perspektif, perubahan siapa yang berbicara, atau perpindahan dari deskriptif ke afrimatif. Memang ada tokoh dalam puisi tersebut, tapi tokoh yang tidak bulat dalam pengertian novel atau cerita pendek. Tokoh-tokoh yang timbul-tenggelam dalam nyanyian muram “Aku-lirik”.

Sementara berkabung, adalah aroma frasa yang bergelantung di setiap larik puisi ini. Frasa-frasa yang muram dan murung: bulan yang gelap, tujuh bintang redup, bayangan melata dari pasir, tiang awan hitam. Satu frasa berkabung ditimpali frasa berkabung ditimpali frasa berkabung lain, begitu seterusnya. Namun berkabung juga adalah tema puisi. Secara keseluruhan, puisi tersebut bisa dikatakan sebagai sebentuk perkabungan untuk empat perempuan yang “dihapus namanya” dari kitab suci. Empat perempuan tersebut tidak memaki atau menggugat, akan tetapi sekadar memperlihatkan bagaiman ia “dihapus” dengan berbagai cara dari narasi agama.

Begitulah buku puisi Perempuan yang Dihapus Namanya secara cermat menghadirkan bentuk yang sesuai untuk menyuarakan tema-tema yang ia kemukakan. Tarik menarik antara watak naratif dan figuratif, bukankah juga kita temukan sebagai karakteristik bahasa kitab suci? Dengan cara yang sama, ia mempertanyakan posisi perempuan di sana, meskipun pada bagian “catatan penulis” Avianti Armand telah mengantisipasinya dengan asumsi “perempuan itu hilang bahkan sebelum bernama. Atau mungkin sudah, tapi seseorang, atau lebih, menghapusnya.”

Yang tidak disukai dalam buku ini?

Mungkin ini bukan ketidaksukaan, tapi semacam pertanyaan: kenapa para perempuan tersebut masih dilihat sebagai pihak ketiga? Kenapa sang aku dalam puisi ini tidak membiarkan para perempuan tersebut berbicara sendiri?

Buku ini layak direkomendasikan?

Selain kualitas puisinya, di masa pandemi ini kita punya banyak waktu luang untuk memeriksa kembali alusi-alusi yang hadir dalam buku ini, membandingkannya dengan narasi kitab Perjanjian Lama.


#sedangbacaapa

0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram