Search
  • Yani Kurniawan

Resensi: The Vegetarian (Han Kang)


"Ia bisa saja melompat terbang melewati pagar tempat wanita itu bersandar jika ia berlari ke beranda sekarang. Kepalanya bisa pecah jika ia terjatuh dari lantai tiga. Bisa saja seperti itu. Itu satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya dengan bersih. Namun, ia hanya berdiri terpaku, seakan-akan ini saat terakhir hidupnya, dengan mata terpancang memandang tubuh wanita itu yang serupa bunga merekah; tubuh berkilauan yang ia rekam semalaman sebagai karya paling dahsyat yang pernah ia buat".

Resensi oleh: Siti Gretiani



Resensi singkat:

Melalui novelnya yang meraih Man Booker International Prize 2016 ini pengarang Korea Selatan Han Kang mengungkapkan sebuah kisah psychological thriller tentang seorang perempuan bernama Kim Yeong-hye.

Novel ini tersusun dalam tiga bagian. Setiap bagian memiliki karakter utama yang berlainan. Namun, uniknya, tak satu pun menampilkan sosok Kim Yeong-hye sebagai narator atau karakter primer. Padahal, dialah sesungguhnya tokoh protagonis novel ini.

Di bagian pertama, sosok narator adalah yang berkisah dari sudut orang pertama adalah suami Kim Yeong-hye yang melulu bercerita tentang hubungannya dengan perempuan itu. Salah satunya adalah keganjilan perubahan perilakunya setelah Yeong-hye berubah menjadi vegetarian gara-gara diganggu mimpi buruk. Obsesi menjadi vegetarian inilah yang menjadi awal beragam kisah mencekam dalam buku ini.

Di bagian kedua, karakter primer adalah abang ipar Kim Yeong-hye alias suami kakak perempuannya, Kim In-hye. Sang abang ipar adalah seorang art photographer yang ternyata diam-diam menyimpan obsesi terhadap adik iparnya sendiri. Obsesi ini terutama terkait tanda lahir berupa Mongolian mark (bercak kebiruan di daerah bokong) yang dimiliki Yeong-hye hingga dewasa.

Di bagian ketiga alur cerita bergerak dengan Kim In-hye—kakak perempuan Yeong-hye—sebagai karakter utama meski pusat cerita tetaplah Yeong-hye. Dalam bagian terakhir ini, obsesi Yeong-hye berkembang makin liar dan ganjil hingga berujung pada akhir yang tak terduga.

Dalam novel ini, tokoh-tokoh perempuan (Yeong-hye dan In-hye) menjadi figur utama yang digambarkan tangguh dan tegar dengan cara mereka sendiri meski tetap tampil dalam kelembutan, termasuk dalam menghadapi kenyataan pahit seperti pengkhianatan orang yang dicintai. Sementara, tokoh-tokoh lelaki, yakni suami Yeong-hye, ipar Yeong-hye, dan ayah Yeong-hye ditampilkan sebagai sosok-sosok egois, asyik sendiri, terkalahkan, dan akhirnya tersingkir dari pusat cerita.

Yang disukai:

Novel ini menampilkan gagasan-gagasan liar dengan menarik. Dalam beberapa bagian, imaji tentang sensualitas digambarkan dengan terbuka. Namun, uniknya, semua itu dikisahkan dengan pilihan diksi dan metafora yang indah.

Yang tidak disukai:

Gaya tutur novel yang terkadang surealistis mungkin agak membingungkan bagi sebagian pembaca. #sudahbacaapa

0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram