• Yani Kurniawan

Resensi: The Day the War Came – (Nicola Davies & Rebecca Cobb)

Oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.


Ketika bicara soal bacaan anak dengan tema yang gelap, nama Rebecca Cobb selalu muncul di kepala. Pertama kali berkenalan dengan ilustrator ini melalui “Missing Mommy” yang menceritakan tentang bagaimana seorang anak menanggapi kematian ibunya, saya segera menemukan bahwa beliau tidak pernah segan menyertakan luka dalam karyanya. Dan 2018 lalu, ia menelurkan salah satu karya paling menakutkan yang pernah saya temui: The Day the War Came.

“Just after lunch, the war came”—perang datang tanpa peringatan—“It came into my teacher’s face”—menyerang siapapun tanpa pengecualian—“I was ragged, bloody, all alone”. Namun apakah kehancuran dan kehilangan lah yang paling menyedihkan dari perang? Buku ini berkata, tidak. Kesendirian yang datang bukan hanya dari kematian dan perpisahan, tapi juga penolakan, terus menyayat seperti pisau di tangan yang tak pernah tidur.

Namun kebaikan kecil, seperti kursi, bisa menawar rasa sakit. Ditutup dengan nada yang penuh harapan dan penerimaan, ada banyak hal yang bisa dirasakan selepas membaca buku ini. Keingintahuan—Mengapa perang terjadi? Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana cara kita membantu?—kesedihan, kengerian… Ini adalah buku yang bisa membawa perasaan dan percakapan yang kompleks, tetapi kekayaan emosi dan empati ada di ujungnya.


Didasarkan pada puisi Nicola Davies yang muncul di The Guardian setelah Britania Raya menampik 3,000 anak korban perang dari negerinya, serta terbitnya berita penolakan anak pengungsi dari sekolah karena “tidak ada bangku”, kolaborasi Davies x Cobb menghasilkan buku bergambar yang meremukkan hati, dan menyatukannya kembali.



The day war came there were flowers on the windowsill and my father sang my baby brother back to sleep.
My mother made my breakfast, kissed my nose, and walked with me to school.
That morning I learned about volcanoes.
I sang a song about how tadpoles turn at last into frogs.
I drew a picture of a bird.
Then after lunch, war came.
At first, just like a spattering of hail, a voice of thunder.
Then all smoke and fire and noise that I didn’t understand.
It came across the playground.
It came into my teacher’s face.
It brought the roof down.
And turned my town to rubble.
I can’t say the words that tell you about the blackened hole.
That had been my home.
All I can say is this.
War took everything.
War took everyone.
I was ragged, bloody, all alone.

#sedangbacaapa



0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram