• Yani Kurniawan

Resensi: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan (Sulastin Sutrisno)

Oleh Zen Hae


Buku ini adalah terjemahan dari sehimpunan surat yang dikumpulkan oleh J.H. Abendanon Door Duisternis Tot Licht (1911), dan terbilang yang paling lengkap dalam memuat surat-surat Kartini, melebihi apa yang termuat dalam Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane.



Sebagai sehimpunan surat, kita akan mendapatkan dari buah pikiran seorang perempuan muda Jawa yang tergoda oleh modernitas, tetapi tetap terjebak dalam kehidupan tradisional ningrat Jawa. Pikiran-pikiran Kartini terbilang sangat maju dan revolusioner dan masih tetap aktual hingga hari ini. Ia berbicara bukan hanya mengenai sikapnya sebagai perempuan ningrat Jawa yang berhasil mendapatkan pendidikan Belanda, tetapi juga kritiknya terhadap pelbagai hal yang menyangkut kehidupan masyarakat Hindia Belanda pada umumnya: ortodoksi agama, dominasi budaya patriakhi, diskriminasi perempuan, penjajahan Belanda hingga masalah pendidikan bagi warga Hindia Belanda.


Di masa hidupnya yang singkat (1879-1904) Kartini telah tumbuh dengan pemikiran yang tajam-cemerlang. Kecerdasan dan ketajaman pikiran berimbang dengan kehalusan perasaan dan kesetiaan pada budaya Jawa yang telah membesarkannya. Itulah yang kemudian menimbulkan paradoks dalam kehidupannya dan membuat pemikirannya terus-menerus menarik. Modernitas Eropa yang merembes dari pendidikan Belanda yang ia terima bersinergi dengan sulingan paham-paham kebudayaan tradisional Jawa yang terbaik. Kompleksitas hidupnya (termasuk hidup dalam pingitan dan mesti terperangkap dalam poligami) juga membuat sosoknya menjadi model dan inspirasi perjuangan perempuan hingga masa yang jauh ke depan.


Merumuskan pemikiran ke dalam surat—bukan artikel atau karya sastra—adalah kelebihan lain Kartini. Perjuangan, pada akhirnya, bukan melulu turun ke dalam praksis dalam sebuah organisasi pergerakan, tetapi juga dalam pergulatan ide dan cita-cita yang luhur untuk kelebihbaikan umat manusia. Meskipun fokus perhatian Kartini banyak kepada perempuan Jawa, sebenarnya ia tengah menyasar seluruh aspek kehidupan masyarakat di Hindia Belanda, saat itu dan yang lebih kemudian. Semacam nubuat yang terus-menerus menemukan pembuktiannya, dan semua itu karena dirumuskan dalam kata-kata yang verbatim sifatnya. Tanpa disadari sepenuhnya, Kartini telah memilih budaya tulis yang akan jauh lebih kekal dan meluas dalam kehidupan manusia yang gampang lupa.

Kutipan

25 Desember 1902

(N.v.Z.)

Harapan kami: tolonglah, bantulah kami agar usaha kami berguna bagi bangsa kami dan terutama bagi kaum perempuan bangsa itu. Tolonglah kami untuk membebaskannya dari beban berat, yang diletakkan di atas bahunya oleh adat lama turun-temurun. Tolonglah kami untuk menarikkan derajatnya, untuk menjadikan perempuan dan ibu sejati agar lebih siap menjalankan kewajiban yang besar. Kewajiban yang ditetapkan oleh ibu alam sendiri kepada perempuan yaitu: pendidik pertama umat manusia!


Bukan tanpa alasan orang mengatakan: kebaikan dan kejahatan diminum anak bersama air susu ibu. Kami yakin seyakin-yakinnya, bahwa pekerjaan yang mendatangkan banyak berkah itu tidak akan dapat maju dengan pesat, selama perempuan Jawa tidak mengambil bagian dari pekerjaan peradaban, dalam pendidikan bangsanya, betapa pun banyaknya orang-orang kulit putih yang berbudi luhur mencurahkan segala kasih sayang dan tenaganya terhadap pekerjaan itu.


Simpati Saudara sekalian terhadap usaha kami membuat kami bahagia, simpati seperti itu bagi kami merupakan bantuan batin yang besar dan membuat kami memiliki harapan yang lebih banyak lagi, memiliki keberanian yang lebih banyak dan kepercayaan yang lebih banyak menghadapi hari depan, yang pasti sekali bukan hanya akan membawakan bunga dan cahaya matahari bagi kami, melainkan banyak sekali perjuangan, kesusahan dan barangkali duka cita pula.


Tetapi tanpa perjuangan dan susah payah di manakah akan kita peroleh sesuatu yang bernilai?

Kami sudah dapat memastikan harus berjuang dengan gigih dan tegar hati. Sebab pendapat lama yang turun-temurun, pikiran yang telah berkarat, tidak akan tersisihkan dengan satu helaan napas. Harus banyak air mata meleleh, harus banyak darah luka hati mengalir, untuk menghanyutkan warisan pikiran turun-temurun yang tak membawa rahmat, untuk menghapus pikiran yang telah berkarat.


Kami tahu, tetapi kami tetap berlutut juga di muka altar keinginan jiwa kami, cita-cita kami!


Keberatan, kesukaran, tak dapat diingkari adanya. Tetapi haruskah karena segala itu kami mengabaikan perkara kami dan duduk bertopang dagu? Berhakkah kami meninggalkan usaha mulia itu, karena usaha tersebut melibatkan kami dalam bahaya?


Begitu indah kemenangan yang hendak kami capai atas kebodohan, atas prasangka bangsa kami bangsa itu sendiri. Kemenangan yang gilang- gemilang patut kami perjuangan seumur hidup, sebab kemenangan itu akan mendatangkan rahmat bagi amat banyak orang.


Semoga Tuhan mengaruniai kami kekuatan untuk berjuang dan mencapai kemenangan.


Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno (Jakarta: Djambatan, [1979] 1985), 406 hlm. Pada 2014 diterbitkan ulang oleh Jalasutra dengan judul Emansipasi: Surat-Surat Kartini kepada Bangsanya 1899-1904.


#sedangbacaapa


9 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram