• Yani Kurniawan

Resensi: Si Bandel (Edith Unnerstad)

Oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.


Cerita di masa kecil kerap membentuk masa depan seseorang. Bagi saya, cerita itu adalah cuplikan-cuplikan keseharian Si Bandel dari keluarga Larsson.

Berfokus pada anak lelaki termuda dari tujuh bersaudara Larsson, Si Bandel memaparkan betapa besarnya tiap-tiap pengalaman kecil bagi anak yang mengalaminya. Hal-hal sederhana yang kini menjadi bagian dari keseharian, pada suatu masa pernah menjadi petualangan besar bagi kita. Naik bus sendirian, menavigasi hidup di tengah lautan saudara, bersenang-senang dengan bersandar pada imajinasi semata…

Mengangkat narasi dari sudut pandang bocah berusia lima tahun, buku ini menjauhkan pembaca dari tokoh

suci serba-manis. Si Bandel, seperti namanya, sangat bandel dan keras kepala, dan sering kali menimbulkan kerusuhan. Namun tindakan-tindakan yang kini kita pandang sebagai kenakalan, bagi anak yang menjalankannya, benar-benar hanya keingintahuan belaka! Sangat mudah dan sangat merepotkan, menjadi anak kecil!

Hasil terjemahan Priscilla Tan Sioe Lan ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama di tahun 1989 dan merupakan salah satu buku full-text pertama yang saya baca. Menyimak kesan Si Bandel yang diam-diam menggerogoti pinggiran roti gandum sambil membawanya pulang dari toko, serta bayangan nikmatnya biskuit yang ditunggui sekeluarga Larsson semalaman, adalah pengalaman yang membuat saya ingin benar-benar bisa membaca, dan, akhirnya, menulis.




Si Bandel ikut-ikut masuk ke balik meja, tengok sana, tengok sini.
“Mau apa kau, mau ke mana?” Pak Lillicross bertanya.
“Di mana Bapak simpan Bajak Laut itu?” bisik si Bandel.
“Hrr,” geram Pak Lillicross sambil memalingkan wajah. Kayaknya sih ia terbatuk-batuk hebat---bahunya terguncang dan ia menggeram aneh.
“Bajak, bajak laut,” katanya sejenak kemudian.
“Lagi keluar dia, semiggu sekali ia datang untuk kutusuk dan kuambil darahnya---cukup.”
“Kok mau-maunya ya ia Bapak tusuk? Apa dia tidak menjerit?”
“Tidak, dia malah ketawa-ketawa sampai nyaris tersedak. Geli, katanya. Dia senang kok. Bajak laut macam dia memang begitu adatnya.”
Si Bandel ikut-ikutan tertawa, begitu pula Pak Lillicross. Terbahak malah. Ia tak ,lagi bertampang seram. Si Bandel betul-betul senang pada pak tukang arloji itu, kalau ia sedang tertawa begitu.
“Yuk kita lihat---mungkin kita bisa bujuk si kukuk supaya keluar lagi,” ajak Pak Lillicross. Ia naik ke kursi, mengutak-atik jam jelek kitu sejenak.
“Kita bujuk dia pelan-pelan,“ pesan si Bandel.

#sedangbacaapa



21 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram