• Yani Kurniawan

Resensi: Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa, 1944-1946 (Ben Anderson)

Oleh Zen Hae


Jika dibandingkan dengan buku Nasionalisme dan Revolusi Indonesia karya George McTurnan Kahin, buku ini terasa lebih padat dan penuh dengan rincian. Aspek naratifnya lebih terasa mengalir sehingga bergerak menjelma prosa, semacam laporan pandangan mata, tentang masa-masa singkat sejarah Indonesia modern, tetapi sangat menentukan karakter Indonesia di masa mendatang. Cara Ben Anderson menuturkan fakta-fakta sejarah terasa sangat filmis sehingga membuat sebuah buku sejarah penuh dengan lukisan biografis dan aliran kisah, bukan sekadar fakta-fakta sejarah yang berisi angka, tahun dan peristiwa.



Buku ini memberikan gambaran penting tentang peran pemuda Indonesia, terutama di Jawa, pada masa pendudukan Jepang hingga 1946. Mengikuti alur yang telah terbangun sejak awal abad ke-20 bahwa ide-ide kemajuan untuk Indonesia digerakkan oleh kaum muda yang mendapatkan pendidikan Belanda. Namun, pendudukan Jepang membuat semua itu berhenti. Jepang kemudian mendirikan sejumlah pusat pendidikan baru untuk pemuda yang terbukti sangat menentukan terbentuknya nasionalisme Indonesia: Pembela Tanah Air (Peta), Heiho, Barisan Hizbullah, Jawa Hokokai.


Di saat yang sama muncul pula sejumlah gerakan bawah tanah penentang Jepang, yang kebanyakan digerakkan oleh para pemuda dan mahasiswa di Jakarta—beberapa dari mereka dekat dengan Sutan Sjahrir. Sjahrir dan gerakan bawah tanah pemuda inilah yang kemudian menjadi penekan utama golongan tua nasionalis yang memilih bekerja sama dengan Jepang. Jadi, konfrontasi ini bisa digambarkan antara golongan muda yang berada di luar struktur kekuasaan dan kaum tua yang masuk dalam struktur badan persiapan kemerdekaan bikinan Jepang. Kaum muda menginginkan proklamasi kemerdekaan yang revolusioner, sementara kaum tua bertahan dengan mengikuti skenario Jepang. Meskipun tekanan sudah ditambah dengan penculikan Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, kendali tetap ada pada golongan tua.


Ketika Proklamasi dikumandangkan pada pukul 10 pagi, Jumat, 17 Agustus 1945, di depan rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56, Sjahrir tidak hadir. Tan Malaka entah di mana. Namun, pemuda kemudian mengambil alih keadaan dengan serangkaian revolusi sosial yang berlangsung setelah Proklamasi: melucuti tentara Jepang dan aksi-aksi revolusioner lainnya. Bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di Bandung, Semarang dan Surabaya dan kota-kota kecil lainnya, hingga kudeta diam-diam yang dilakukan kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifudin dengan menguasai Badan Pengurus Kominte Nasional Indonesia Pusat (KNIP)—yang menjadi cikal bakal DPR-MPR.


Sejumlah krisis selanjutnya di Republik Indonesia yang masih muda itu memperlihatkan kelanjutan perseteruan Sukarno dengan Sjahrir, yang juga melibatkan tokoh tua banyak menginspirasi kaum muda, tetapi agak misterius: Tan Malaka. Termasuk ketika terjadi penculikan Sjahrir dan pemberhentian Kabinet Sjahrir, yang mengakibatkan gerakan pemuda yang sudah tumbuh sejak zaman pendudukan Jepang menemui jalan buntu. “Pemuda itu tidak pernah menemukan sopir mereka,” tulis Ben Anderson.


Kutipan


Delegasi Wikana meninggalkan Laboratorium Bakteriologi dan terus menuju kantor Kaigun, tempat mereka berjumpa dengan Subardjo dan sahabat-sahabatnya, Iwa, Buntaran, dan Samsi, sedang minum-minum dan bercakap-cakap. Adalah mungkin bahwa Wikana menanyakan kepada Subardjo tentang informasi terakhir mengenai penyerahan Jepang dan mendengar tentang rencana-rencana untuk rapat PPKI pada keesokan harinya. Rombongan pemuda itu kemudian pergi ke Pegangsaan Timur untuk menemui Sukarno. Subardjo dan sahabat-sahabatnya turut belakangan dengan mampir ke rumah Hatta, dan menemukannya masih sibuk dengan pembuatan konsep proklamasi. Berjanji akan datang menemui dia lagi kemudian, mereka bergegas mengikuti Wikana. Di Pegangsaan Timur 56, sementara itu, suasana telah semakin hangat, karena Wikana mendesak dengan keras supaya Sukarno sendiri segera mengumumkan kemerdekaan.


Orang yang lebih tua itu menyerukan kepada pemuda supaya bersabar, dan menambahkan bahwa bagaimanapun ia tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bermusyawarah dengan para anggota PPKI lainnya, teristimewa Hatta. Ia menjelaskan bahwa ia tidak rela menanggung risiko pertentangan dengan pejabat-pejabat Jepang ketika segala sesuatu belum pasti, terutama sekali apakah Jepang masih akan menempuh pengaturan-pengaturan yang telah diambil untuk kemerdekaan itu. Bagaimanapun hanya tiga hari yang lalu ia dan Hatta diberikan jaminan sepenuhnya mengenai hal ini oleh Terauchi sendiri. Wikana, yang pernah menjadi anak emas Sukarno, menimbulkan suasana emosional dalam rapat itu dengan menyatakan terang-terangan bahwa Sukarno sedang gagal berbuat sebagai bapak. Keretakan terakhir terjadi ketika Wikana mencetuskan, “Apabila Boeng Karno tidak maoe mengoetjapkan pengoemoeman itu malam ini djoega, beresok akan terdjadi pemboenoehan dan penoempahan darah.” Dengan marah sekali Sukarno berkata dengan keras, “Ini leher saja, seretlah saja ke podjok itoe, dan soedahilah njawa saja malam ini djoega, djangan menoenggoe beresok.”


Benedict Anderson, Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa, 1944-1946, terjemahan Jiman Rumbo (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988), 554. Sekarang diterbitkan oleh Marjin Kiri.

#sedangbacaapa




18 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram