• Admin

Resensi: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

Updated: Jul 1


Aku mulai mengambil alat tulis. Aku tahu apa yang mau kuguritkan, tapi aku belum menemukan judul yang tepat. Barangkali aku akan menamainya Kisah Malang Raden Mandasia dan Dua Puluh Enam Saudaranya serta Ayah Mereka dalam Penyerbuan Sia-sia ke Kerajaan Gerbang Agung. Tapi itu rasanya terlalu panjang. Mungkin juga, aku akan memberi judul yang menyebut nama Raden Mandasia dan kegemarannya mencuri daging sapi dan untuk isinya aku akan mengarang sendiri hal-hal yang tak kuketahui tentang temanku itu. Aku masih belum yakin. Aku meneguk kahwa. Sebuah judul baru terpikir olehku. Aku yakin judul ini bakal membuat gusar banyak orang jika aku jadi memakainya: Babad Tanah Jawa.


Resensi oleh: Nataresmi Abd. Hanan


Resensi Singkat

Nama Raden Mandasia disematkan sebagai judul, tapi sesungguhnya buku ini bercerita tentang banyak tokoh yang berkelindan menyusun plot cerita yang berlapis-lapis. Ditulis dari sudut pandang Sunggu Lembu, ksatria dari kerajaan kecil yang menjadi taklukan kerajaan paling jaya di Kepulauan Rempah-rempah yaitu kerajaan Gilingwesi. Sungu Lembu membawa dendam kesumat kepada raja Gilingwesi yang dianggapnya telah memberikan penghinaan kepada tanah asalnya, dan menyebabkan penderitaan kepada keluarganya. Ia berambisi menghabisi nyawa Prabu Watugunung. Dengan dendam itu, ia justru melakukan perjalanan panjang bersama seorang pangeran dari kerajaan Gilingwesi, yaitu Raden Mandasia, anak raja yang ingin ia penggal kepalanya. Sosok Mandasia digambarkan sebagai pangeran berkarakter unik yang punya hobi aneh: mencuri daging sapi untuk diambil bagian daging terbaiknya. Tidak sepenuhnya mencuri, karena si pangeran akan mengganti sapi dengan kepingan logam berharga, bahkan bisa berkali-kali lipat nilainya.

Saga perjalanan kedua sahabat ini berlangsung di alam kerajaan fiktif, tapi pembaca mungkin akan menghubung-hubungkan dengan sejarah masa lalu. Sebuah kerajaan besar di Timur, yang berani menantang perang kerajaan agung di Barat, imajinasi kita akan membayangkan adaptasi Majapahit dan Romawi. Tentu saja, faktanya periode kejayaan kedua kerajaan tidak berada dalam rentang waktu yang sama, juga tidak pernah ada perang terbuka antara Majapahit dan Romawi. Namun, di situlah kekuatan fiksi, ada panggung imajinasi yang bersenyawa dengan pengetahuan sejarah. Dalam buku Raden Mandasia ini, Yusi Pareanom sangat lentur meramu latar sejarah dan plot cerita yang melibatkan tokoh-tokohnya. Pembaca dapat mengikuti perjalanan mereka sejauh ribuan kilometer, dari pelabuhan di Pulau Padi (Jawadwipa), menyebarangi anak benua Asia dan mencapai batas Eropa: mengarungi lautan dan menikmati deskripsi teknis perjalanan menggunakan perahu, mendarat di kota-kota pelabuhan besar, mengenal makanan-makanan terbaik setiap tempat, dan petualangan erotis yang menyertai. Perjalanan panjang ini didasari motivasi agung Raden Mandasia: mencegah perang besar antara Gilingwesi dan Gerbang Agung.

Saat puncak pertempuran antara prajurit Gilingwesi dan prajurit kerajaan Gerbang Agung, Sungu Lembu akhirnya berperan sebagai juru catat yang membantu pujangga kerajaan menuliskan peristiwa apa saja yang terjadi di medan perang. Termasuk kematian para pangeran anak Prabu Watugunung yang berjumlah dua puluh tujuh orang. Nasib Raden Mandasia kebalikan dari cita-citanya: perlaya juga di medan perang.

Dari catatan Sungu Lembu setelahnya, buku setebal 500 halaman ini ditutup dengan plot twist yang menjelaskan apa penyebab kerajaan Gilingwesi melakukan serbuan ke Barat yang sangat jauh. Yang dari luar tampak sebagai ambisi kekuasaan, jauh di dalamnya ternyata selalu ada bagian paling rapuh untuk ditanggung seorang manusia, yaitu cinta.

Yang disukai:

Membaca Raden Mandasia serasa menikmati paket sajian komplit: cerita yang mengalir dan plot yang sangat lancar, narasi teknis yang luar biasa, misalnya tentang definisi bagian-bagian daging sapi, dan deksripsi teknis lain yang membutuhkan “ketukangan” (craftsmanship) penulis dengan jam terbang tinggi.

Buat saya, membaca buku haruslah memberi pengalaman batin imajinatif dan wawasan baru yang melebur dalam narasi. Keduanya saya peroleh dari buku Raden Mandasia.

Yang tidak disukai:

Tidak ada sih. Hanya ada sedikit yang mengganggu pembaca dengan selera seperti saya yang tidak menyukai plot twist.

#sudahbacaapa

15 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram