• Yani Kurniawan

Resensi: Pangeran Diponegoro, Babad Dipanegara (Terjemahan Gunawan, Apriyanto, Nana, Yeri, Isidora)

Oleh Zen Hae


Ada banyak versi Babad Dipanegara. Ada versi Surakarta, versi Yogyakarta, versi Diponegoro. Babad ini ditulis pada 1831-1832 oleh Pangeran Diponegoro saat menjalani pengasingan di Manado, Sulawesi Utara. Terdiri atas empat jilid yang tiap jilid terbagi atas 9-12 pupuh atau bab dan dinamai berdasarkan jenis-jenis sajak dalam bahasa Jawa (Mijil, Kinanthi, Sinom, Dhandhanggula, Durma, Maskumambang, Asmaradana… dan seterusnya). Pada 2013 naskah ini—setelah Nagarakertagama karya Mpu Prapanca beberapa tahun sebelumnya—diakui sebagai “Warisan Ingatan Dunia” (Memory of the World) oleh UNESCO.



Membaca babad ini dalam bahasa aslinya, Jawa, tentu saja akan lebih menarik, terutama karena kita bisa menikmati kesusastraan Jawa dan jenis-jenisnya, di samping kisah yang dituturkan oleh pengarangnya. Namun, dalam versi terjemahan Indonesia, jika kita tidak bisa mendapatkan kenikmatan puisi Jawa itu, pada babad ini kita masih mendapatkan “cerita”: yang bergerak dari masa akhir Majapahit, munculnya kerajaan Mataram Islam, terbelahnya Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta, hingga perlawanan Pangeran Diponegoro dan masa-masa akhir hidupnya di pengasingan. Diponegoro dengan asyik menuturkan semua itu, tanpa dibebani oleh data ketat sejarah, sebagaimana yang terjadi pada Pramoedya Ananta Toer.


Tentu saja, Diponegoro tidak bersoal dengan nasionalisme Indonesia. Ia bersoal kepada kedaulatan Yogyakarta, atau Jawa secara keseluruhan, saat menghadapi kolonialisme Belanda. Pemberontakannya kemudian memicu Perang Jawa (1825-1830) yang membuat keuangan Belanda morat-marit dan untuk memulihkannya dirancanglah Tanam Paksa setelah itu. Di saat sebelumnya meletus Perang Padri di Sumatra Barat—juga daerah-derah lain sebelum dan sesudahnya. Perlawanan provinsional ini pada akhirnya adalah penafsiran lokal atas nasionalisme, atau katakanlah semacam “pronto-nasionalisme”, yang oleh Sutan Takdir Alisjahbana disebut sebagai zaman “Prae-Indonesia”. Sebab Indonesia sepenuhnya proyek politik abad ke-20.


Pangeran Diponegoro adalah contoh paling menarik tentang gerakan mileniarisme masa kolonial. Dalam gerakan perlawanan seperti ini selalu ada unsur wahyu Tuhan—yang kedatangannya mengambil model Muhammad di Gua Hira atau Musa di Bukit Tursina—yang memberikan penguatan, bahkan pengesahan, terhadap revolusi. Dengan kata lain, perlawanan atas kolonialisme, seberapa pun kecilnya dan betapa pun ia kelak akan kalah, bukan sepenuhnya kehendak manusia, tetapi takdir Tuhan yang mesti dijalani manusia. Manusia harus menjalani dan menerima semua itu dengan rela dan tetap dalam iman.


Kutipan


1. Menjadi kesenangannya, di dalam gua sebagai rumahnya, mata air sebagai kamar mandinya, bergemerecik airnya seakan membentuk sumur, Widarakandang ruang tengahnya, pintu gerbang besar mudah dinaiki, Kanjeng Pangeran sayup-sayup seperti tertidur.

Lalu ada seseorang datang di hadapannya bersama dengan angin, pakaiannya yang berumbai bagaikan haji, kaget Kanjeng Pangeran dan berkata, “Aku tidak mengetahui akan engkau?” Orang yang ditanya menjawab, “Saya tidak mempunyai rumah.

2. “Kedatangan saya diutus (yang) memanggil.” Kanjeng Pangeran berkata, “Siapa namanya yang menyuruh dan di mana rumahnya?” Dan orang ini menjawab, “Ya, tanpa rumah, semua Jawa ini sebagai rumahnya. Sekarang diberi julukan Ratu Adil yang menyuruh saya.

3. “Memanggil Paduka, sebab ia bertakhta di puncak gunung, dari sini arahnya tenggara Gunung Rasamuni, hanya Paduka sendiri, tidak diizinkan membawa teman.” Segera berangkat Kanjeng Pangeran dengan diiringi orang tersebut.

4. Seperti sudah takdir Allah, Kanjeng Pangeran menurut saja, tidak berapa lama sampai di bawah gunung, yang memanggil lenyap tidak terlihat, Ratu Adil itu bertakhta di puncak gunung, berebut cahaya dengan sang surya, lama-lama meredup di atas gunung.

5. Kanjeng Pangeran tidak kuasa melihat wajahnya, sang Ratu Adil cahayanya kalah di gunung, hanya busana Kanjeng Pangeran terlihat serba-hijau sorbannya, memakai jubah putih dan celana putih, memakai selendang haji merah, menghadap ke barat daya.

6. Berdiri di puncak gunung menghadap batu pertapaan saja, tidak ada perindangnya, rerumputan terlihat bersih bagai disapu, Kanjeng Pangeran di bawah melihat ke atas, ke arah tenggara menghadapnya, Ratu Adil lalu berkata, “Hei, kau, Abdulhamid!

7. “Karena itu kau kupanggil, prajuritku semua kautolak. Di Jawa nanti rebutlah, seandainya ada orang bertanya kepadamu, suruhlah mencari pada surat dalam Quran.” Kanjeng Abdulhamid berkata, “Mohon maaf, hamba sudah tidak kuat berperang.

8. “Dan tidak sanggup melihat kematian, dan lagi dulu saya sesungguhnya sudah menjalani, melakukan perbuatan buruk kepada sesama manusia.” Sang Ratu Adil bersabda, “Tidak diperbolehkan itu. Itu sudah menjadi takdir Allah untuk tanah Jawa, engkau yang mempunyai cerita.

9. “Tidak ada yang lain lagi.” Sesudah mendengar suaranya bagaikan piring yang dibanting pada batu besar, lalu hilang keduanya, seperti tidak dapat diceritakan, lalu perasan Kanjeng Pangeran sendiri yang berdiri di gunung.


(Yogyakarta: Narasi, cet. ke-2, 2019), 678 hlm.


#sedangbacaapa

12 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram