• Admin

Resensi: Orang-Orang Oetimu (Felix K. Nesi)

Updated: Jul 1


“Maka sesaklah dada Am Siki. Ia menjadi bersedih hati, sebab orang-orang asing itu selalu datang silih berganti, tetapi tak ada satu pun yang mau belajar berbicara dengan bahasa yang baik dan benar. Selalu saja orang-orang Timor yang dipaksa untuk mempelajari arti dari bunyi-bunyi aneh yang keluar dari mulutnya; mulai dari Portugis, Belanda, Jepang, sampai Indonesia".

Resensi oleh: Dewi Ria Utari


Resensi singkat:


Jika dulu muncul istilah Sastra Wangi untuk menyebut karya-karya para penulis wanita Indonesia yang memunculkan polemik, maka Orang-Orang Oetimu bagi saya adalah Sastra Maskulin. Cara Felix bercerita, bagi saya sangat lelaki. Seolah di setiap jengkal kata dan bahasa yang ia gunakan, saya bisa menghidu aroma testosteron. Lantas, jika dikaitkan dengan asal daerah Felix, apakah kejantanan ini bisa dijadikan ciri khas sastra Indonesia timur? Entahlah, saya sendiri bukan seorang pakar yang berhak memberikan klaim.


Aroma maskulinitas Felix, oh maaf, Orang-Orang Oetimu, muncul sedari awal ketika ia memulai novelnya dengan adegan kegembiraan penduduk kampung Oetimu menonton sepakbola. Dan lembar demi lembar berikutnya, saya merasa berada di arena pertandingan sepak bola yang riuh dan penuh peluh keringat laki-laki. seperti bola yang digiring ke sana kemari seolah permainan tiki taka Brazil.


Dengan lincah dan gaya penuturannya yang lugas dan jantan, Felix menggiring pembaca bertemu dengan orang-orang Oetimu ini. Ada Sersan Ipi yang pemberang tapi noraknya minta ampun ketika bertemu dengan Sylvia, gadis tercantik di Oetimu yang membuat “tukang-tukang ojek menawarkan tumpangan, para berandal menawarkan perlindungan, dan duda menawarkan kenyamanan”; Am Siki, kakek sakti mandraguna yang membesarkan Ipi dan mengajarkan slogan bagi anak-anak kampung berupa : “tidak boleh dibunuh sekalipun itu orang jahat, tidak boleh diperkosa sekalipun itu kuda.”; Romo Yosef yang tampan dan naif; Maria yang berapi-api dan idealis; Laura, ibu Ipi yang cantik dan malang; hingga si bodoh Linus yang menyebalkan.


Tak ada tokoh yang menonjol dalam Orang-Orang Oetimu. Semua sama porsinya untuk menuntun pembaca memahami kehidupan yang telah lama menjadi korban atas konflik dan agresi politik dari sejumlah negara yang silih berganti. Mereka, orang-orang Oetimu ini tetap bertahan dengan segala satir yang mau tak mau dan telah otomatis menjadi bagian dari hidup mereka, sebagai upaya untuk menjaga kewarasan mereka dalam menjalani hidup yang terpinggirkan.

Yang disukai: Kemalangan hidup dan nasib bukanlah tema yang baru dalam novel, namun Felix berhasil mengatasi tema yang tak baru ini dengan latar kehidupan masyarakat Indonesia Timur yang masih jarang muncul di sastra Indonesia dan berhasil mengolah cara bertutur yang tidak cengeng, tidak bertele-tele, dan over dramatik. Diksi yang digunakannya juga sangat kaya namun tidak terkesan mengumbar atau pamer. Novel ini juga menurut saya berhasil memunculkan premis bahwa tokoh utama cerita bukanlah satu atau dua karakter. Melainkan Oetimu itu sendiri, yaitu sebuah daerah dan orang-orang yang hidup di dalamnya.

Yang tidak disukai: Hampir tidak ada. Hanya ada kesalahan minor pada halaman 120 di mana tokoh Tante Yuli ditulis sebagai Tante Maria.

Layak direkomendasikan? : Ya


#sudahbacaapa

13 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram