• Admin

Resensi: Membangun di Atas Bukit Batu: Uraian mengenai Khotbah di Bukit (Aurelius Augustinus)

Oleh Mario F. Lawi


Membangun di Atas Bukit Batu: Uraian mengenai Khotbah di Bukit, Aurelius Augustinus, Kanisius, cetakan pertama, 2016, penerjemah: Aloysius Hadiwiyata dan Nico Syukur Dister, OFM; penerjemah bagian pengantar: Aloysius Hadiwiyata dan Karel Steenbrink.


Augustinus saya tahu pertama kali dari buku cerita santo-santa pada masa SD. Ketika masuk seminari menengah, saya tahu dari seorang guru pelajaran Sejarah Gereja bahwa ia menulis sebuah biografi yang bagus berjudul Confessiones (Pengakuan-Pengakuan). Itulah karya pertama Augustinus yang saya baca. Bertahun-tahun kemudian, saya mengumpulkan pula beberapa terjemahan karya-karyanya yang dikerjakan ke dalam bahasa Indonesia, Membangun di Atas Bukit Batu adalah salah satunya. Judul asli karya ini adalah De sermone Domini in monte, yang bisa kita terjemahkan secara harfiah ke bahasa Indonesia sebagai “tentang Khotbah Tuhan di Bukit”. De sermone dibagi menjadi dua buku, berisi uraian tentang khotbah Yesus di bukit seperti dicatat dalam Injil Matius bab 5 sampai bab 7. Meskipun hanya tiga nama penerjemah yang dicantumkan di halaman judul, buku ini adalah kerja serius sebuah tim yang nama-namanya baru kita peroleh di bagian terakhir Pengantar: Leo Wenneker menerjemahkan De sermone dari bahasa Latin ke bahasa Belanda, Hans van Reisen menyediakan Pengantar, A.E.J.J. van der Meijs menyempurnakan terjemahan Belandanya, serta ahli bahasa klasik H.L. van Dolen, A.J.M. Hertogh, G.J.M. Bartelink dan A.L. van Dijk yang menyediakan “catatan-catatan stimulatif” untuk penerjemahan karya ini dari bahasa Latin ke bahasa Belanda. Terjemahan Indonesia menggunakan sumber utama berbahasa Belanda Het huis op de rots, Verhandeling over de bergrede yang dikerjakan oleh tim di atas, tetapi tentu saja menggunakan teks Latin Augustinus sebagai pembanding. Seperti Lysis, terjemahan karya Augustinus ini adalah terjemahan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan dapat dijadikan standar penerjemahan buku dengan tujuan akademik. Bagian Pengantar menyediakan perangkat-perangkat yang dibutuhkan pembaca untuk memasuki uraian Augustinus tentang khotbah di bukit: dari latar belakang Augustinus dan khotbah di bukit hingga titik tolak terjemahan Indonesia dalam versi terjemahan berjudul Membangun di Atas Bukit Batu.




Menurut saya tidak masuk akal bahwa kita harus ramah tamah dengan iblis, artinya: menjadi sehati sejiwa dengan dia. Karena beberapa orang telah menerjemahkan kata Yunani eunoöon dengan “satu hati”, lainnya “satu jiwa”. Tetapi, kita tidak diperintahkan untuk ramah dengan iblis. Di mana ada keramahan, ada persahabatan. Dan tidak seorang pun akan menyatakan bahwa kita harus bersahabat dengan iblis. Begitu juga tidaklah tepat menjadi sehati dengan dia. Kita telah menyatakan perang kepada dia dengan sekali untuk selamanya menolak dia dan sesudah kemenangan kita atas iblis, kita akan menerima mahkota kemenangan. Kita pun jangan sejiwa dengan dia. Andaikata kita tidak pernah setuju dengan iblis, maka kita juga tidak pernah sampai pada situasi sekarang ini yang sarat akan susah. (hlm. 101)


#sedangbacaapa

1 view
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram