• Yani Kurniawan

Resensi: Arus Balik (Pramoedya Ananta Toer)

Oleh Zen Hae


Di luar ketebalannya yang 751 halaman, Arus Balik adalah sebuah ironi dan kritik yang menohok tentang hancurnya kekuatan maritim Nusantara yang pernah dicapai oleh Majapahit-Gajah Mada, yang disusul dengan kemunculan kerajaan-kerajaan Islam yang lebih kecil dan bertikai satu sama lain, sementara ancaman serbuan Portugis hanya tinggal menunggu waktu. Nusantara yang dahulu menyumbangkan banyak hal ke kawasan Atas Angin di utara, kini sebaliknya, makin kehilangan perannya. Arus berbalik dari utara ke selatan yang membuat kawasan selatan tidak banyak berkutik. Adalah Wiranggaleng, tokoh utama novel ini, pemuda kampung yang membunuh dan mengangkat dirinya sebagai Senapati Tuban yang baru, yang berjuang membuat perhitungan kepada Portugis di Melaka—dan kalah.



Arus Balik adalah salah satu roman sejarah terpenting dalam khazanah sastra Indonesia modern. Berbeda dari Bumi Manusia, sebagai satu dari kwartet Pulau Buru, yang berwatak bildungsroman dan berlatar saat menyingsingnya fajar nasionalisme awal abad ke-20, novel ini dibangun dengan fokus zaman yang hampir tidak pernah disentuh penulis Indonesia sebelumnya, yakni abad ke-16. Disusun dengan rinci yang kuat dan ensiklopedik, novel ini melukiskan berubahnya secara drastis budaya maritim di Nusantara—saat itu belum muncul konsep Indonesia, bukan?—menjadi budaya agraris, dengan simbolisasi Wiranggaleng yang undur diri dari dunia kewiraan kemudian menempuh hidup barunya sebagai petani di hutan pedalaman.


Hancurnya budaya maritim, terlebih-lebih di masa Indonesia modern, adalah pokok soal yang sering dijadikan bahan kritikan terhadap pemerintah Orde Baru hingga orde sekarang ini. Namun, dengan mengambil bentuk novel yang cenderung dianggap sebagai buah imajinasi pengarang, kritik dalam Arus Balik merasuk ke dalam renungan dan raungan sejumlah tokohnya yang kalah, terutama Rama Cluring dan Wiranggaleng. Menjadikan para pengkritik sebagai pihak yang kalah—Rama Cluring mati diracun, Wiranggaleng menjadi petani—adalah sebuah strategi juga dijalankan oleh Pramoedya dalam novel-novelnya yang lain. Dalam Bumi Manusia, kita menyaksikan kekalahan Minke dan Nyai Ontosoroh dalam menghadapi pengadilan kolonial Belanda, yang membuat mereka terpisah dari orang terkasih mereka: Annelis Mellema.


Dengan menjadikan sejarah sebagai tulang punggung cerita, membuat Arus Balik sering kali harus mengejar kecocokan fragmen-fragmen fiksionalnya dengan fakta-fakta sejarah yang ada. Novel ini masih dibebani oleh distingsi yang tegas antara fiksi dan sejarah. Pramoedya kurang punya sikap bermain-main yang asyik dengan keduanya. Di beberapa bagian malah tampak sebagai semacam kronik—jenis karangan yang juga dikerjakan Pramoedya—dengan imbuhan penjelasan pengarang dalam bentuk catatan kaki tentang ini dan itu. Di sini fiksi dan sejarah bukan hanya berkelindan, tetapi juga bersaing untuk tampil secara masuk akal dalam tangkapan pembaca. Pada saat yang sama perwatakan tokoh berkembang bukan hanya mengikuti nalar fiksi, tetapi juga menautkan diri dengan bukti-bukti sejarah.


Kutipan


“Jaman Gajah Mada, jaman anak desa dapat mengedepankan pendapatnya pada Kaisar, telat lewat. Kita tak pernah lagi punya Kaisar selama ini. Raja-raja semakin jadi kecil dan anak, anak desa jadi lebih kecil lagi.

“Aku menyadari tak ada kemampuan membendung arus utara, arus balik yang semakin besar juga ini. Maka akulah orang yang paling menderita karena kesedaran ini. Jaman bukan hanya tak membantu, bahkan melawan kita. Itu sebabnya akan kutinggalkan pada kalian, dan semua kuserahkan pada kalian.”


“Senapatiku!” Banteng Wareng menyela.


“Aku sadar tak ada kemampuan untuk pekerjaan besar itu. Aku tak ada kemampuan mempersatukan raja-raja dan para sultan. Itu sebabnya akan kutinggalkan kalian, dan semua kuserahkan pada kalian. Setelah ini kalian harus atur dan urus semua tanpa aku. Jangan berdukacita, karena surya enggan memancarkan rahmatnya pada yang berdukacita.”


Wiranggaleng melepas bungkusan di punggung dan meletakkan di hadapannya. Semua mata mengawasi bungkusan itu.


“Lihatlah ini,” katanya lagi dan membuka bungkusan, dan meletakkan isinya satu per satu di atas destar Kala Cuwil, “cincin, kalung, destar, kain, ikat pinggang, tilam, semua bertanda kupu-tarung. Hanya kasut tidak ada, hilang, karena keteledoran pembawanya. Nah, ini gelang,” kemudian Senapati menarik keris dari pinggangnya, “dan ini keris bersarung dan berbulu mas dengan kupu-tarung pula. Kalian tahu lambang siapa ini. Jangan pegang. Lihat saja baik-baik.”


Dan semua menjalankan apa yang diperintahkan.


“Kutinggalkan dan kuserahkan semua ini pada kalian—peninggalan Gusti Kanjeng Adipati Unus, melalui Gusti Ratu Aisah, melalui Pada alias Mohammad Firman, melalui aku, Wiranggaleng, Senapati Tuban…


“Nah, kalian, empat orang, masing-masing pegangi sudut apa yang diperintahkan. Benda-benda itu menggelantung di tengah destar.”


“Pegangi terus dan jangan lepaskan. Barang siapa di antara kalian,” ia pandangi para pemimpin pasukan itu seorang demi seorang, “dapat memahami kata-kataku, memahami arus utara dan selatan, dapat menyelami arus balik dan pesan Gusti Kanjeng Unus, ambillah dan pergunakanlah semua peninggalan itu. Tegakkan Tuban, usahakan mengusir Peranggi dari jalan laut, Pasai, Selat, Semenanjung, Malaka dan Maluku. Lepaskan arus selatan ke utama bergelombang-gelombang sepanjang jaman.


“Perhatikan barang-barang itu dan jangan perhatikan Wiranggaleng, Senapati kalian. Wiranggaleng sekarang sudah tidak ada. Sekarang dia hanya seorang petani bernama Galeng. Tinggallah kalian dalam kerukunan, karena perpecahan adalah pembunuh kalian yang pertama. Aku akan pergi dan jangan kalian cari. Hanya bila Peranggi datang lagi, Wiranggaleng akan datang untuk memusnahkannya.”


(Jakarta: Hasta Mitra, 1995), 751 hlm.


#sedangbacaapa

13 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram