• Admin

Membaca untuk Anak Sedini Mungkin Demi Mencapai Kesuksesan

Updated: Aug 3

Oleh: Arleen A

Mengapa bayi anjing hanya butuh waktu satu bulan saja untuk bisa berjalan dan bahkan bayi kuda dapat berjalan satu hari setelah lahir namun bayi manusia tidak bisa berjalan sampai berusia kurang lebih dua belas bulan? Itu karena walaupun manusia adalah makhluk paling pintar, saat lahirnya, otak manusia paling tidak sempurna. Sebagai makhluk yang berdiri di atas dua kaki, panggul wanita lebih sempit daripada panggul makhluk yang berdiri di empat kaki. Karena itulah, demi dapat melewati jalan lahir yang sempit, bayi manusia terpaksa dilahirkan sebelum lingkar kepalanya terlalu besar, yaitu jauh sebelum otaknya menjadi sempurna. Inilah kenapa pada usia 0-6 tahun pertama hidupnya, otak manusia mengalami perkembangan yang luar biasa yang dinamakan the golden period of the absorbent mind.


Otak pada dasarnya sama dengan otot. Seperti otot yang hanya akan menjadi besar dan kuat bila dilatih dengan cara digunakan, otak pun demikan. Otak hanya akan menjadi pintar bila dilatih untuk berpikir sedini mungkin. Bayangkan bila bayi Einstein dikunci di dalam lemari setiap hari. Sangat kecil kemungkinannya dia akan tumbuh menjadi seseorang yang pandai. Salah satu cara membuat otak berkembang secara maksimal adalah dengan membaca pada anak sejak sedini mungkin, sejak di dalam kandungan bila memungkinkan. Janin sudah dapat mendengar sejak minggu ke 18 kehamilan. Dan pernah ada sebuah study pada beberapa ibu yang sedang hamil pada trimester ke tiga di mana mereka diminta untuk membaca sebuah paragraf setiap harinya. Setelah bayi mereka lahir, sang bayi lalu direkam detak jantungnya sambil dibacakan dua paragraf. Yang satu adalah paragraf yang sama seperti yang dibacakan sebelum mereka lahir dan satunya lagi adalah paragraf baru. Dari detak jantung si bayi, diketahui bahwa bayi dapat membedakan antara bacaan yang pernah didengarnya dan yang belum pernah.



Jika belum sempat membaca pada janin di kandungan, jangan terlalu galau karena masih banyak kesempatan membaca pada anak setelah mereka lahir. Dokter-dokter anak di Amerika, selain bertugas untuk memastikan bayi-bayi mendapatkan gizi baik dan imunisasi yang lengkap, sekarang ini mereka punya tugas tambahan yaitu mengingatkan para orangtua untuk membaca pada bayi mereka. Mengapa demikian? Karena anak-anak yang kurang dibacakan di masa kecilnya akan punya kemampuan berbahasa dan berpikir yang jauh di bawah anak-anak yang lebih banyak dibacakan. Hal ini ditakutkan akan menyebabkan melebarnya kesenjangan sosial.

Untuk lebih mengerti mengapa demikian, perlu kita cermati bahwa di dunia ini ada dua cara manusia belajar membaca: cara umum yang dianggap normal tapi sebenarnya abnormal dan cara normal yang benar yang belum banyak diketahui orang.

Cara normal yang sebenarnya abnormal itu adalah sbb:

· Anak berusia 5 atau 6 thn (setelah masuk sekolah TK) diberitahu bentuk dari 26 huruf

· Anak disuruh menghafalkan 26 huruf ini

· Anak lalu diberitahu bunyi masing masing huruf

· Anak disuruh menghafalkan bunyi itu

· Anak diajari mengeja

Hasil dari anak yang belajar membaca dengan cara seperti ini:

· Otak anak dibiasakan untuk dipakai untuk menghafal dan bukan memproses

· Anak tidak terlatih menganalisa

· Anak tidak menikmati momen-momen eureka karena menemukan pola (dan karenanya rasa percaya diri tidak sempat tumbuh)

· Anak kebiasaan menunggu diberitahu (disuapi) dan bukan mencari tahu sendiri

· Anak tidak terbiasa untuk berpikir kritis

· Anak tumbuh menjadi orang yang mudah terprovokasi (karena tidak biasa menganalisa sendiri)

Bagaimana dengan cara normal yang tidak diketahui banyak orang? Seperti apa cara membaca yang satu ini?

· Anak usia 0-6 dibacakan cerita secara rutin oleh ibu/ayah mereka

· Anak melihat kata “bola” dan mendengar suara ibu/ayah mengatakan “bola”

· Anak melihat kata “batu” dan mendengar suara ibu/ayah mengatakan “batu”

· Anak mendengar kata “baru” dan mendengar suara ibu/ayah mengatakan “baru”

· Anak tiba-tiba menemukan bahwa coretan yang berbentuk “b” itu berbunyi “b” (tanpa mengetahui bahwa itu adalah huruf b)

· Anak melakukan penemuan pola pada semua huruf lainnya. Otak anak berpikir dan membuat koneksi-koneksi sendiri sampai ia mengenal bunyi semua huruf.

· Setiap kali menemukan pola, menemukan bentuk baru dan bunyinya, terbentuk momen eureka yang membuat jiwa anak gembira.

Hasil dari anak yang belajar baca dengan cara ini:

· Anak jadi terbiasa berpikir

· Anak jadi terbiasa menganalisa

· Anak jadi terbiasa mencari pola dan menemukan solusi

· Anak yang otaknya sering digunakan, dengan sendirinya akan menjadi pandai

· Anak jadi punya rasa percaya diri yang tinggi

· Anak jadi punya motivasi untuk mencari tahu

· Anak tidak langsung menerima bulat-bulat hal-hal yang diberitahukan kepadanya

Jadi membaca untuk anak sebelum anak itu bisa membaca amat penting, bukan karena bertujuan supaya anak itu bisa cepat membaca, tapi lebih supaya perkembangan otaknya maksimal. Anak yang sering dibacakan sejak dini, di permukaan tentu akan terlihat sebagai anak yang punya kosa kata lebih banyak dari teman seusianya yang tidak sering dibacakan seperti dirinya, tapi ini hanya satu keuntungan “kecil” dari membaca pada anak sejak dini. Keuntungan yang lebih besar lainnya yang tidak terlihat adalah terbentuknya otak yang terbiasa berpikir dan juga terbentuknya pribadi yang percaya bahwa ia punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah.


Ingat, hal terpenting yang paling berharga yang dapat Anda berikan pada anak-anak Anda bukanlah warisan uang, perusahaan, rumah, mobil atau perhiasan. Hal terpenting yang dapat Anda berikan pada mereka adalah otak yang hebat dan rasa percaya diri yang tinggi. Karena itu, baca untuk anak-anak Anda sedini mungkin karena masa depan mereka tergantung dari hal ini.

Sumber-sumber:

https://www.healthline.com/health/pregnancy/when-can-a-fetus-hear

https://www.sciencemag.org/news/2013/08/babies-learn-recognize-words-womb

https://pediatrics.aappublications.org/content/134/2/404

Arleen A

Lahir di Jakarta, Arleen A adalah ibu dua anak. Ia mulai menulis buku anak di tahun 2004 karena saat itu ia mendapati tidak mudah untuk mencari buku anak yang baik dan terjangkau di Jakarta. Buku pertamanya diterbitkan pada 2005. Arleen memegang gelar MBA dari Santa Clara University dan bekerja penuh waktu di sebuah perusahaan distribusi di Jakarta. Walaupun latar belakang pendidikan dan pekerjaannya membuatnya lebih banyak berurusan dengan angka-angka, Arleen tumbuh sebagai sosok pencinta buku. Dalam lima belas tahun terakhir ini, ada kurang lebih 280 buku anak dan 15 novelnya yang diterbitkan oleh lebih dari 30 penerbit di Indonesia, Malaysia, Vietnam, India dan Saudi Arabia.

“I write not to fill the pages with words, but to fill the hearts with warmth.” Arleen A.

Arleen dapat dihubungi via instagram @arleen315

Buku-bukunya dapat dilihat di situs http://arleen315.webs.com

0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram