• Yani Kurniawan

LitBeatLite!: Memperingati Hari Buku & Hak Cipta Sedunia Bersama Dee Lestari

Updated: Aug 3

Dunia perbukuan kita juga tak luput dari gejolak pandemi. Para penulis, editor, atau orang-orang yang terlibat dalam dunia perbukuan tentu mengalami tekanan psikologis yang mebuat produktivitas menurun; toko-toko buku fisik yang sebelumnya masih menjadi sarana distribusi mesti tutup atau mengalami penurunan penjualan,; beralih pada distribusi online, malah muncul pembajakan yang masif; dan tentu masih banyak lagi soal-soal lain yang dihadapi dunia perbukuan kita.


Pada sesi diskusi ini, kita akan mengajak Dee Lestari membahas berbagai persoalan tersebut. Strategi apa, menurut Dee, yang mesti kita tempuh untuk menghadapinya. Kemudian, bersama kita bisa memproyeksikan model-model baru, baik itu dalam segi produksi sampai distribusi buku, yang akan berubah bahkan jika masa pandemi ini usai.


Pandemi ini kan efeknya terasa sekali. Dari toko buku offline sudah banyak yang tutup, tim editorial juga banyak yang bekerja di rumah. Lalu penjualan juga menurun. Tapi di sisi lain pasti ada celah. Di mana saat krisis biasanya ada solusi baru yang muncul.

Saat pandemi mulai muncul, orang-orang sudah disarankan untuk tetap di rumah. Mereka bisa beraktifitas dengan menonton atau membaca. Tapi justru yang muncul paling awal adalah link buku bajakan yang disebar secara illegal.



Memperingati Hari Buku & Hak Cipta Sedunia Bersama Dee Lestari:


1. Di sebuah artikel LA Times, seorang literary agent, Andrew Blauner mengirimkan PDF "The Patient’s Checklist " oleh Elizabeth Bailey ke teman-temannya. Buku tersebut sudah tidak dicetak lagi. Blauner ingin orang-orang memiliki akses ke sebuah referensi jika mereka jatuh sakit dan harus pergi ke rumah sakit. “Anda dapat mengirim versi ini kepada siapa pun yang Anda suka, siapa pun yang Anda pikir mungkin terbantu olehnya. Itu buku yang [dokter dan penulis] Atul Gawande katakan 'bisa menyelamatkan hidupmu.'


Untuk menyaingi laju pembajakan (penyebaran naskah digital ilegal melalui sosmed, whatsapp) apakah memungkinkan penulis bekerjasama dengan penerbit menyebarkan naskah mereka secara gratis dan legal? Misal untuk buku-buku yang memang sudah tak dicetak lagi. Atau bahkan buku yang memang belum ada naskah digitalnya.


Saya merasa bahwa usul itu sangat bisa dilakukan. Terutama untuk naskah-naskah yang sudah langka atau masuk kategori klasik dan umurnya sudah puluhan tahun. Karena kan sebenarnya intinya adalah bagaimana kita memperbanyak konten, yang berkualitas, mempunyai unsur edukasi dan hiburan. Konten itu bisa datang dari berbagai zaman. Ngga harus karya-karya baru.

Jadi untuk karya-karya yang sudah lewat masa produktifnya, inilah saatnya penerbit bisa memperlebar katalog mereka dan menangkap para pembaca baru.

Namun untuk naskah yang masih produktif, sepertinya akan kasihan penulisnya.

Tapi kalau itu disebarkan lewat cara lain. Misal, saya suka aplikasi ipusnas. Perpustakaan yang daring dan berbasis aplikasi, di mana orang bisa membaca tanpa embel-embel memberatkan atau mengeluarkan biaya ekstra. Menurut saya ini terobosan yang patut kita eksplorasi lebih lanjut. Di mana naskahnya masih legal, tapi tidak memberatkan secara ekonomis kepada pembaca.


2. Di kondisi krisis seperti ini. Banyak penerbit yang tutup produksi sementara, banyak toko buku yang juga tutup dan beralih ke online. Industri penerbitan di Indonesia kan bukan industri yang besar. Kebanyakan penerbit bertahan dari bulan ke bulan.

Jadi bentuk insentif apa yang bisa diusulkan ke pemerintah untuk membantu pelaku industri penerbitan di Indonesia agar bisa bertahan? Mulai dari penulis, penerbit sampai percetakan?


Kayanya kalau kita pukul rata semua agak sulit ya? Karena kebutuhan tiap lini berbeda, walaupun di industri yang sama. Saya baca rekomendasi dari IKAPI - salah satu rekomendasi IKAPI ke Pemerintah adalah pengadaan buku (pendidikan) tetap diadakan.


Tapi permintaan tersebut lebih berdampak ke penerbit, belum tentu berdampak pada penulis. Terutama penulis di luar buku-buku pendidikan, seperti penulis fiksi misalnya. Saya rasa solusi yang merata untuk semua adalah solusi pajak. Karena kalau kita bicara soal bantuan tunai, ngga semua penulis berada di garis yang membutuhkan bantuan tunai. Tapi itukan patokannya bukan berdasarkan profesi tapi lebih ke garis income.


Jadi perlakuan yang menurut saya adil adalah relaksasi pajak. Entah itu mungkin pph tahun ini dihapuskan atau dikurangi. Atau insentif untuk penanggulangan pembajakan atau subsidi kertas. Tapi kan ini lebih ke buku cetak, di mana saat ini justru lebih aman kalau dipindah ke buku digital.

Memang belum ada satu tindakan yang meruncing dan koheren untuk dunia penerbitan. Tapi mungkin usulan soal pajak ini bisa jadi solusi yang menjangkau semua.


3. Dulu Jeff Besoz pernah meramalkan bahwa ebook akan jadi besar ketika dia mengenalkan kindle. Tapi kenyataannya, buku cetak masih mendominasi sampai sebelum covid-19 menerpa. Ada informasi kalau di Gramedia jumlah penjualan buku digital naik sampai 10%. Apakah ini saat yang tepat untuk beralih ke buku digital/ebook? Apakah tren ini bisa sustainable?


Seharusnya secara teori, momentum bagi buku digital untuk mencuri pasar. Dan kondisi sekarang ini kan memaksa orang untuk banyak pindah platform. Dari meeting offline menjadi meeting online. Saya rasa sebetulnya buku mempunyai momen yang sama. Hanya entah kenapa, Indonesia cukup unik menurut saya, adaptasi kita ke medium digital dalam hal buku itu tidak secepat kita di musik. Kayanya ada factor sentimental, yang membuat kita sangat attach ke buku fisik. Buku fisik juga masih laris di lapak-lapak online. Saya ngga tau juga apakah kita butuh waktu lebih panjang untuk beradaptasi, tapi memang sejauh ini kendalanya adalah sulit kita memproduksi buku baru.

Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk merilis buku digital, tapi mungkin bukan saat yang tepat untuk merilis buku baru.


4. Apakah ada teman penulis yang mengalami penundaan penerbitan bukunya karena pandemi ini? Atau, Mbak Dee sendiri mungkin? Kalau ada, sampai kapan mereka menunda tanggal terbitnya? Atau ada strategi lain? Mengingat di Indonesia, buku bukan prioritas utama – apalagi dengan pandemi ini, bagaimana strategi untuk mengejar ketertingalan ini?


Setahu saya ada. Saya sendiri termasuk korban delay. Rencananya ada naskah yang harusnya terbit bulan Mei. Buku ini kerjasama dengan sebuah yayasan yang kebetulan berulang tahun juga di bulan Mei. Tapi dengan kondisi seperti sekarang, otomatis terjadi kemunduran waktu. Entah sampai kapan. Kita semua masih wait and see. Saya juga tahu ada teman saya yang rilis tepat saat pandemic baru mulai. Dia juga mengalami drop di PO (pre-order). Turunnya sangat signifikan. Kan sangat nanggung ya? Mau diteruskan promo, tapi kok narasinya kontradiktif dengan mood orang-orang di sekitar kita. Jadi serba salah.


Menurut saya pribadi, saat ini saat yang tepat untuk produksi. Tapi ini saat yang tepat untuk engagement. Ini sebetulnya advise untuk brand, kan banyak yang sedang nyungsep. Buat mereka untuk stay afloat, bagaimana mereka tetap bisa komunikasi dan branding tapi sifatnya bukan ke promosi sesuatu, tapi lebih ke pesan-pesan yang lebih mengikat ke pelanggan-pelanggannya. Lebih simpatik.


Jadi mungkin para penulis dan penerbit juga bisa menjalin komunikasi dengan pembaca. Saya lihat banyak penerbit yang sudah melakukan diskon. Atau rilis kutipan dari penulis, yang sifatnya lebih ringan dan menghibur. Jadi ini memang saatnya untuk engagement.

5. Kita sudah bicara soal ebook. Bagaimana soal audiobook? Sekarang kan sudah mulai banyak podcast. Dulu ada selentingan kalau orang Indonesia itu tergolong visual. Lebih suka teks yang pendek, lebih suka membaca komik. Tapi apakah kecenderungan itu bergeser? Dengan maraknya podcast?


Ini teori pribadi saya ya. Kalau menengok sejarah manusia, kita kan satu-satunya spesies yang punya kemampuan untuk bercerita. Sebelum mata uang berlaku, kita sudah mengenal tukar cerita. Ada satu hal yang primordial, ada yang primitif – tentang bagaimana kita mendengar cerita.

Dulu kita kenal drama radio. Kan ngga ada visual? Kita membayangkan sendiri. Kan pasti juga ada orang yang mungkin lebih baik dalam hal mendengar daripada membaca. Tapi ini mungkin baru mulai, seperti matahari mau terbit lah, sudah kelihatan tapi belum ada tanda-tanda lebih pasti.

Saya ingin coba sih, hanya saat ini waktunya belum pas. Karena orang-orang masih pada tiarap dan memilih untuk tidak produksi.


Tapi betul sih, menurut saya audiobooks ini salah satu wahana yang patut kita eksplorasi.


6. Kembali ke soal wacana keringanan pajak. Sebenanya sudah ada yang menyuarakan ke Pemerintah ngga sih? Mbak Dee sebagai seorang penulis, dan juga anggota Satu Pena. Dulu ada KBN, tapi kan sekarang sudah ngga ada lagi. Apakah sudah ada pihak menyuarakan ini ke Pemerintah? Apalagi Penerbit ini kan salah satu yang terkena dampak paling besar, terlebih lagi karena kebanyakan penerbit bertahan dari bulan ke bulan.


Yang saya tahu, IKAPI sudah mengeluarkan rekomendasi. Tapi IKAPI ini kan asosiasi penerbit. Di Satu Pena belum ada sebuah himbauan resmi untuk membuka keringanan ini atau rekomendasi. Tapi kan bukan Satu Pena aja ya. Kan ada asosiasi lain juga.


Tapi saya lihat di Indonesia belum ada satu sosok leading figure ya. Satu sosok yang jadi payung besar untuk bersama-sama. Ini lho, ada masalah besar, ayo duduk bersama kita mari kita rumuskan rekomendasinya.

Kan belum ada. Masih terpecah konsentrasinya, belum ada yang sama-sama meruncingkan sebuah rekomendasi.


7. Dulu Tere Liye pernah bersuara kencang soal pajak. Menurut saya sih, ini momen yang tepat. Apalagi penulis seharusnya lebih punya suara untuk menyuarkan sebuah agenda ke pemerintah. Kan sebetulnya kan semua kan jadi di satu ekosistem. Kalau penerbit kolaps, maka penulis juga akan bermasalah. Dan kalau kita bicarakan soal fokus yang terpecah, perlu ngga sih sebuah lembaga yang menaungi ekosistem industri penerbitan di Indonesia? Yang menaungi semua stakholders, dari penulis, penerbit sampai percetakan?

Sejujurnya menurut saya perlu sih. Karena kalau kita ada di cangkang kita masing-masing. Penulis punya keterbatasan untuk melihat kepentingan penerbit. Begitu juga sebaliknya. Dan juga dengan pihak-pihak lain.


Selain masing-masing asosiasi lebih solid, saya rasa harus punya juga sense of priority, untuk hal-hal yang bersifat makro. Kalau mikro saja, ya bisa jadi akhirnya kongkow-kongkow, komunitas saja.

Tapi kalau badan, kan bisa berbicara ke regulasi, pajak.

Kita bicara penulisan, kan bisa jad terbengkalai. Kan ngga bisa diatasin oleh satu dua orang. Harus komunal.


Dan biasanya kalau sudah sampai di tahap pembuatan kebijakan, ini sudah susah sekali fokus. Mungkin karena penulis ini adalah orang-orang kreatif, yang pada prosesnya saja sudah sangat menyita waktu.

Kan beda ya antara menulis dan berorganisasi. Kalau misal ada satu lembaga yang mampu mencairkan sekat-sekat keterbatasan pandangan tadi, saya rasa ini akan bisa menjadi semacam wadah yang lumayan ideal. Minimal dia bisa menampung banyak suara di banyak lini penerbitan.


8. Saat pandemi sudah lewat, bagaimana penerbitan bisa bangkit? Strategi apa yang kiranya perlu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan dan menutup kerugian karena pandemi?


Yang pertama sih diskon. Lalu kemudahan untuk pembaca mendapatkan produk. Dan beberapa penerbit sudah melakukan ini. Diskon sampai 90%, lalu free ongkos kirim. Daripada buku numpuk di gudang.


Di sini penerbit bisa mengambil alih jadi outlet. Buku ngga harus dijual lewat toko buku. Sempat kepikiran untuk bikin audiobook – tapi untuk saat ini, sepertinya susah untuk promosi di saat ini.

Aspek-aspek penjualan harus tetap dikulik oleh penerbit.


9. Bagaimana dengan komunitas? Apa peran yang bisa mereka galakkan untuk membantu masyarakat dalam inisiatif stay at home ini. Apakah mereka bisa kerjasama dengan penerbit untuk menyalurkan buku atau peran aktif lainnya?


Kuncinya sebetulnya satu. Apapun yang mau dilakukan oke, asal dilakukan dengan koridor anjuran pemerintah. Social Distancing.


Masalahnya komunitas ini kan biasanya gerak dengan kumpul-kumpul. Jadi harus ada alternative lain. Mulai dari peningkatan minat baca, atau diskusi dipindah ke daring. Saya lihat sudah banyak yang memulai.


Penerbit saya, Bentang, sudah mulai bikin banyak acara IG Live. Mulai dari editor, proofreader.

Janet Denefee dari Ubud juga akan bikin online food festival.

10. Apakah Penerbit bisa meminta pemerintah untuk melakukan bulk buying? Untuk nanti disalurkan ke taman-taman baca atau perpustakaan-perpustakaan.


Saya agak mendua soal ini. Ini tentu saja bantuan besar buat industri. Tapi saat pandemi ini, prioritas harusnya ada di survival, basic needs, makanan, logistic. Tapi kalau pandemic sudah lewat, mungkin bisa dipertimbangkan. Bacaan bisa jadi salah satu fasilitas penyembuhan.


11. Btw, kita kan beberapa kali ketemu di International Book Fairs. Indonesia kan cukup rajin hadir di beberapa pameran, termasuk Bologna, London & Frankfurt. Mbak Dee punya agent kah?


Ada, tapi sifatnya masih per buku. Saya ada agent untuk buku saya Perahu Kertas dan Supernova yang pertama. Terakhir Filosofi Kopi diterjemahkan ke Bahasa Jepang, tapi tidak melalui agent.


12. Saya lihat mulai ada beberapa penulis yang memakai agent. Ahmad Fuadi, Laksmi Pamuntjak dan Ayu Utami. Dari pengalaman Mbak Dee, perlu ngga sih?


Dari pengalaman sih perlu banget ya. Dari pengalaman ikut book fair, saya lihat yang punya hajat kan agent dan penerbit. Kita datang kan seperti bintang tamu saja. The real businessnya adalah antara penerbit dan agent.


13. Menurut saya agent can only do so much. Dia kan harus tetap punya materi yang perlu dijual. Mbak Dee sepakat ngga sih kalau kita bilang seperti ini. Salah tau problem kita adalah: kita ngga punya banyak agent di Indonesia, dan kedua, terjemahannya. Penerjemahan harus oke, editor juga harus oke dan itu kan biayanya ngga murah.


Bukan hanya ngga murah, orang-orangnya juga susah dicari. Penerjemahan kan bisa makan satu tahun. Penulis bisa saja punya uang, tapi penerjemahnya sedikit. Penerjemahan ini kan perlu dibangun bertahun-tahun dan harus sistematis. Karena kalau ngga, ini kaya jadi rombongan besar yang perlu diangkut. Kalau transportasinya ngga teratur, kadang ada kadang ngga, ya mentok. Ngga keangkut-angkut. Harus ada funding yang jelas dan teratur. Dan harus ada juga pembinaan, kaderisasi penerjemah yang baru yang harus serius.


Penerjemah harus jadi profesi yang seksi. Penerjemahan kan jembatan internasional.


Kadang-kadang saya gerah. Orang-orang banyak bilang, kenapa sih susah sekali menembus pasar ini, kenapa ngga diterjemahkan ke bahasa ini? Kenyataannya kan susah sekali. Ini kan susah sekali, kita ngga bicara soal capital saja, tapi juga soal SDM. Ini kan harusnya dilakukan puluhan tahun yang lalu.


But better late than never. Kita kan baru mulai pas jadi GoH di Frankfurt Book Fair 2015. Baru mulai ada upaya serius.


Pertanyaannya Menteri baru misalnya, masih punya prioritas yang sama ngga? Ini estafet bisa diteruskan ngga? Kalau ngga ya jadi kaya tadi, transportasi yang kadang ada kadang ngga.


*Dee juga bicara tentang workshop menulisnya yang bernama Kaizen Writing Workshop. Info lebih lanjut: bit.ly/kaizendee2


#litbeatlite #deelestari

10 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram