Search
  • Yani Kurniawan

LitBeatLite!: Membaca dan Menulis untuk Pendidikan Bersama Laksmi Pamuntjak

Updated: Jun 14

Selamat Hari Pendidikan Nasional!


Litbeat Lite adalah agenda pra-event Litbeat dalam format virtual. Sebuah upaya untuk tetap menghadirkan diskusi, lokakarya, dan program-program terkait literasi dan produk kreatif lain selama masa pandemi. Kita tahu, meskipun tengah menghadapi situasi sulit, kebutuhan masyarakat kita terhadap produk atau aktivitas kreatif tetap ada dan malah meningkat.



Obrolan ini, yang kami beri judul Membaca dan Menulis untuk Pendidikan, merupakan agenda ketiga Litbeat Lite yang khusus dirancang untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional kita. Kita tahu, literasi dan pendidikan merupakan dua teman seperjalanan dan tak bisa dipisahkan. Mustahil jika seseorang berpendidikan tanpa menjadi literate, dan sebaliknya, mustahil juga seseorang menjadi literate tanpa ia berpendidikan. Namun tentu saja, literate dan berpendidikan yang kami maksudkan di sini dalam artinya yang paling luas. Untuk menilai apakah sebuah bangsa berpendidikan atau kurang berpendidikan, salah satu indikatornya adalah seberapa tinggi atau rendah minat baca masyarakatnya.


Namun, seperti yang sama-sama kita tahu, minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah. Apa yang terjadi dengan dalam dunia pendidikan kita? Kenapa justru kita seperti gagal memberikan hal paling mendasar dalam pendidikan, yakni membaca? Belum lagi jika indikasi yang kita pakai adalah menulis. Berapa orang dari masyarakat Indonesia yang bisa mengungkapkan pikiran dan perasaannya melalui tulisan?


Untuk membahas persoalan ini kami mengundang Laksmi Pamuntjak, salah seorang penulis kenamaan Indonesia, untuk membahas bagaimana praktik membaca dan menulis sebagai bagian penting dari pendidikan. Terutama melalui pengalaman-pengalaman personal yang ia alami.


Laksmi Pamuntjak adalah seorang penulis dwibahasa yang karyanya telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa. Ia kerap menulis tentang politik dan budaya di pelbagai media di Indonesia dan luar negeri, termasuk untuk harian Inggris the Guardian dalam 5 tahun terakhir ini.


Laksmi telah menerbitkan 3 buku puisi, Ellipsis, Anagram, dan There Are Tears in Things, satu himpunan fiksi pendek berdasarkan tafsir lukisan, The Diary of R.S.: Musings on Art, satu esai filosofis, Perang, Langit dan Dua Perempuan, dua terjemahan karya Goenawan Mohamad, 5 edisi seri Jakarta Good Food Guide, dan panduan restoran independen dan sastrawi pertama di Indonesia. Laksmi juga telah menerbitkan 3 novel.


Pada 2012, Laksmi mewakili Indonesia di Poetry Parnassus, festival puisi terbesar di London dalam rangka London Olympics. Pada 2016, novel pertama Laksmi, Amba, memenangi penghargaan sastra Jerman LiBeraturpreis. Film berdasarkan novel keduanya, Aruna dan Lidahnya, memenangi dua penghargaan pada Film Festival Indonesia (FFI) 2018.


Novel ketiganya, Fall Baby—novel pertamanya dalam bahasa Inggris—telah diterbitkan pada September 2019 oleh Penguin Random House SEA. Sebelumnya, pada 2018, novel itu telah diterbitkan dalam bahasa Jerman oleh Ullstein Verlag dengan judul Herbstkind.


Q&A Litbeat Lite: Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020


1. Apa arti pendidikan menurut Anda? Dan apa yang sesungguhnya kita rayakan di Hari Pendidikan Nasional ini?


Iya, bagi saya itu pertanyaan penting. Soalnya apa gunanya kita punya hari perayaan ini itu tapi gak menghayati apa yang dirayakan. Saya sendiri, setiap tahun, menjelang 2 Mei, selalu merasa harus berpikir ulang: apa sih artinya, merayakan Hari Pendidikan Nasional? Apa sebenarnya arti pendidikan?


Dari dulu sih saya sering dengar petuah orang tua: yang penting anak harus dididik bagaimana berpikir, bukan didikte apa yang harus ia pikirkan. Tujuan pendidikan---ini kata para ahli—adalah untuk mencetak anak-anak yang berpikir kritis dan mandiri, memiliki pengetahuan tentang diri mereka sendiri, ingin menyumbang secara positif kepada masyarakat, tahu cara berinteraksi dengan sesama, mampu mengatasi atau menyesuaikan diri dengan sejumlah tantangan kehidupan. Pendidikan juga harus mampu mengembangkan kepribadian, bakat, kemampuan fisik dan mental masing-masing anak, mengajarkan mereka tentang perdamaian, toleransi, kesetaraan gender dan persahabatan antar manusia.


Tapi, pada prakteknya, pendidikan mempunyai arti yang berbeda bagi masing-masing orang. Ada yang melihatnya sebagai hak, kebutuhan, tanggung jawab, tantangan, kemewahan, atau impian. Bagi kita yang beruntung, ukuran pendidikan pun berbeda-beda tergantung pada fase hidup mana kita berada. Waktu kecil, kita diajarin untuk belajar dengan serius, lulus ujian, dapetin ijazah, cari pekerjaan, lalu berkarya dan berguna buat orang banyak. Setelah kita dewasa, mungkin begitu juga kita akan nasehatin anak-anak kita. Di setiap tahap kehidupan kita, kita memberdayakan diri kita untuk berpikir, mempertanyakan, memilih, dan mendidik kemampuan kita menilai kehidupan.


2. Dari sudut pandang penulis, bagaimana Anda melihat dunia pendidikan kita hari ini?


Terus terang banyak masalah dalam dunia pendidikan yang masih harus kita atasi. Dari segi akses ke pendidikan, masih ada kesenjangan di setiap level: antar pulau, antara pusat dan daerah, antara daerah urban dan pedesaan, antar kelas sosio-ekonomi.


Menurut data BPS 2018, hanya 37 persen anak terdaftar dalam PAUD atau sekolah usia dini.

Kualitas guru juga sangat gak memadai: 68 persen guru TK gak punya ijazah SMA.

Lalu, 4.2 juta anak antara 7 sampai 18 tahun tidak sekolah. Dari jumlah itu kebanyakan antara usia 16 dan 18 tahun, terutama karena pernikahan usia dini.


Menurut laporan PISA akhir tahun lalu, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara, padahal membaca sangat penting bagi pendidikan.


Nah, apa artinya pendidikan apabila begitu banyak anak Indonesia gak sekolah atau gak punya akses terhadap pendidikan yang memadai? Di pedalaman Papua, anak-anak begitu miskin mereka pergi ke sekolah---kalaupun sekolah---dalam keadaan lapar karena di rumah gak cukup makanan. Mereka bertelanjang kaki ke sekolah karena keluarga mereka tak mampu membeli sepatu. Atau mereka gak sekolah karena jaraknya gak terjangkau, karena kekurangan guru, atau karena gak adanya sekolah. Bagi anak-anak ini, pendidikan adalah kemewahan.


Namun faktanya tetap gak berubah, dan anak-anak ini akan terus dirugikan dalam hidup. Kalau seorang anak buta huruf atau buta matematika, anak itu gak akan dapet pekerjaan. Kemungkinan besar hidupnya gak sehat dan gizinya buruk. Jumlah anak perempuan yang gak sekolah akan melanggengkan ketaksetaraan gender karena semenjak dulu nilai edukasional anak perempuan dianggap jauh kurang dari anak laki-laki. O ya, belum anak-anak dengan disabilitas. Kebanyakan dari mereka gak akan disekolahkan karena mayoritas lembaga-lembaga pendidikan gak punya kemampuan untuk menampung mereka.


Bagi banyak keluarga miskin, sekolah terlalu mahal dan anak-anak terpaksa tinggal di rumah membantu pekerjaan rumah tangga atau bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Ini akan memperpanjang siklus kemiskinan dan ketakproduktifan yang telah memasung keluarga mereka selama beberapa generasi. Mereka gak akan pernah meraih ‘bonus demografis’ yang dibutuhkan untuk masa depan ekonomi bangsa.


Dan seterusnya, dan seterusnya.


Masih ada banyak ketimpangan di negeri ini yang masih akan jadi PR panjang buat kita. Kita masih jauh dari standard yang dipatok Pasal 28 Konvensi atas Hak Anak PBB, bahwa “Semua anak mempunyai hak atas pendidikan bermutu tinggi. Pendidikan Sekolah Dasar harus diberikan secara gratis, pendidikan Sekolah Menengah Pertama harus dibuat aksesibel, dan semua anak harus didorong untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Pemberlakuan disiplin di sekolah harus menghormati hak dan martabat anak.”


3. Kreativitas sering dinomorduakan dalam dunia pendidikan kita, padahal kreativitas bukan milik kerja seni belaka tapi science juga menuntut kreativitas. Bagaimana Anda memandang kreativitas sebagai salah satu tujuan pendidikan?


Memang ada persepsi bahwa scientific thinking, pemikiran ilmiah, dan creative thinking, pemikiran kreatif, atau kreativitas itu dua ketrampilan yang bertentangan, tapi persepsi itu salah. Kreativitas itu gak serta-merta artinya tenaga liar gak berbentuk, atau kebebasan untuk ngaco. Tapi daya imajinasi, atau kemampuan berpikir di luar apa yang sudah disediakan untuk kita, thinking outside the box, adalah ketrampilan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan, apalagi di zaman sekarang.


Keinginan untuk menggali sesuatu lebih dalam, mempertanyakan dan tak hanya menelan bulat-bulat sebuah informasi yang belum tentu benar, mencari tahu tentang sesuatu, mencari solusi atau jalan keluar yang lebih efisien, lebih masuk akal, lebih baik, melihat sebuah masalah dari beberapa sisi, itu semuanya membutuhkan kreativitas.


Dulu, di SMA, di kelas sejarah, saya ingat para murid masing-masing diminta memilih dan memerankan sebuah tokoh penting sejarah. Risetnya kita semua yang harus lakukan, termasuk pemilihan dan penekanan angle dalam narasi, bagaimana memerankan tokoh itu dalam bayangan kita, bagaimana tokoh itu berpikir dan memutuskan hal-hal penting dalam bayangan kita.


4. Apakah membaca dan menulis bisa menjadi sarana pendidikan? Kalau ya, membaca dan menulis seperti apa?


Bagi saya, kebiasaan membaca dan menulis adalah fondasi bagi pendidikan. Saya selalu percaya membaca dan menulis adalah dua sisi dari keping uang yang sama: mereka saling membutuhkan, saling melengkapi. Saya selalu ingat apa yang dikatakan Susan Sontag, filsuf dan penulis Amerika favorit saya: ketika kita menulis, kita sesungguhnya mengasah seni membaca, dengan intensitas dan perhatian ekstra. Dalam pengalaman saya, saya selalu bersemangat membaca ketika kita membaca teks yang bagus, atau inspiratif, atau menyentuh, kita tergerak untuk menulis. Tapi ini mungkin karena saya penulis, ya.


Waktu saya kecil, membaca juga adalah jendela pertama kita ke dunia. Sebelum ada TV, kita pertama kali belajar tentang dunia lewat bacaan kita. Dunia dalam arti dunia yang lebih besar dari tempat tinggal kita, dari rumah kita. Negeri lain, kota lain, budaya lain. Tak mustahil kita belajar berempati, tenggang rasa, menghargai perbedaan dan budaya orang lain, atau berbeda pendapat dengan tetap hormat pada satu sama lain, dari bacaan kita. Dan kesadaran itu terus dipupuk sampai kita besar.


Menulis itu juga bagus untuk melatih berargumen, menajamkan pemikiran, melatih ingatan. Kita jadi belajar menelaah suatu permasalahan, dan memahami serta memperbaiki cara berpikir kita sendiri. Saya selalu lebih ingat sesuatu apabila saya sudah menuliskannya hitam atas putih.


5. Bagaimana pengalaman Anda mengalami dunia pendidikan di Indonesia? Apakah Anda bisa memberikan komparasi dengan pendidikan di negara lain?


Setiap kali saya ditanya tentang arti pendidikan bagi saya, saya ingat guru bahasa Indonesia saya di SD. Namanya Bu Tommy. Bu Tommy itu guru kelas saya di kelas 3 SD---ini kita ngomong tahun 70-an ya—dan juga guru bahasa. Kadang beliau juga ngajar agama—karena sekolah itu sekolah Katolik, bahannya lebih dipusatkan pada pelajaran agama Katolik, meski pendekatannya sangat terbuka dan inklusif.


Bu Tommy bukan saja satu-satunya guru di sekolah yang thinking outside the box, beliau juga berjasa sekali dalam kehidupan saya: ia mendorong saya mengirim tulisan ke majalah-majalah seperti Hai dan Ananda, mendorong saya ikut lomba mengarang, sampai pada tahun 1980 saya menang sayembara mengarang nasional IKAPI. Usia saya baru delapan tahun waktu itu, dan itu pertama kalinya saya berdiri di sebuah podium di lantai atas Aldiron Plaza dan menyampaikan secara verbal inti daripada esai saya, judulnya Perpustakaanku, setelah dilatih ibu saya dan oleh Bu Tommy, sebelum saya menerima piagam penghargaan dari ketua IKAPI dan juga dari Menteri P&K waktu itu, Almarhum Daoed Yusuf. Saya bahkan yakin saya menjadi penulis berkat Bu Tommy ini.


Nah, dari permulaan beliau sangat menekankan pentingnya membaca dan menulis. Waktu itu kurikulum bahasa Indonesia sangat teknis dan hafalan sifatnya: ngafal peribahasa, ngafal kata majemuk, ngafal sinonim dan antonim, ngafal kosakata, tapi hampir gak ada komponen tata bahasanya, dalam arti bagaimana menulis atau menyampaikan gagasan atau menyusun kalimat dan paragraf yang benar dalam hubungannya dengan satu sama lain, bagaimana berpikir tentang alur dan struktur. Juga gak ada komponen gramatika---pengertian mendasar tentang koma, titik, tanda seru, tanda tanya, tanda kurung. Apa artinya subjek, predikat, objek, bagaimana menyusun kalimat yang benar.


Semua itu sangat kurang dalam fondasi bahasa kita. Manifestasinya kita lihat di mana-mana, sampai sekarang: di teks ruang publik, di reportase media, di laporan perusahaan, di caption di museum atau galeri seni rupa. Kalimat-kalimat yang gak utuh, atau gak masuk akal, atau yang gramatikanya amburadul, atau yang banyak memuat repetisi. Maka saya beruntung banget punya guru bahasa seperti Bu Tommy, yang betul-betul mendidik kita semua hal yang tidak ada di kurikulum baku.


Ada empat metode praktis yang diajarkan Bu Tommy.


Pertama, latihan menulis. Beliau mengajarkan bahwa menulis itu banyak jenisnya: fiksi dan non-fiksi, prosa dan puisi, esai, surat, catatan harian, catatan perjalanan, laporan, reportase, cerita, atau doa. Setiap hari Bu Tommy memberi kita tugas menulis.


Kedua, membiasakan diri membaca setiap hari. Beliau selalu bilang, semakin sering kita membaca bacaan bagus, semakin ingin kita menulis. Kita jadi punya rujukan, referensi, begini lho tulisan yang baik. Dalam hal itu, peran orang tua dan keluarga tentunya penting ya. Budaya membaca seringkali dimulai di rumah.


Ketiga, latihan mengarang fiksi, dan ia membedakannya dari sekadar menulis. Mengarang memerlukan kemampuan bercerita, kata beliau, serta imajinasi dan struktur. Sekali seminggu, Bu Tommy akan menyuruh kita mengarang. Mengarang apa saja: cerpen, cerber, cerita satu halaman.

Kadang, kita diminta menulis doa dengan cara masing-masing, dan saya ingat saya suka terilhami oleh surat-surat dari Injil, kumpulan doa, serta buku-buku kisah kehidupan para nabi yang kami baca di kelas atau di perpustakaan, yang berupa buku komik dengan ilustrasi dan teks yang bagus. Bahasanya begitu bagus, seperti bahasa puisi. Beberapa tahun kemudian, ketika saya mulai baca-baca terjemahan Al-Quran--bukan dalam konteks religius tapi lebih dalam konteks sastrawi--sayapun baru menyadari betapa indahnya bahasanya, seperti dalam Alkitab. Bahasa puisi.


Jadi, pelajaran agama bagi saya menjadi pencerahan sastrawi tentang kehidupan, bukan sekadar petuah, panduan agamis spiritual, filsafat, apalagi segebung aturan dan larangan.


Keempat, beliau juga mengajarkan precis—seni menyarikan sebuah tulisan, argumen, atau situasi. Waktu itu kita gak ngerti bahwa ternyata skill ini penting sekali dalam kehidupan, dengan cepat membaca sesuatu, merangkum sebuah situasi yang kompleks, masuk ke inti sebuah kisah atau narasi dengan cepat, apalagi zaman sekarang, di mana semua serba cepat. Kelak kemampuan ini juga menjadikan kita penulis yang lebih baik: gak berdayu-dayu, ngerti apa yang dimaksud dengan pacing, ritme, efisiensi, presisi.


Entah disengaja atau tidak oleh Bu Tommy, dua mata pelajaran ini—bahasa dan agama--jadi bermakna bagi saya. Berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang isinya cuma hafalan tentang laku baik dan moralitas, atau Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, yang sebenarnya cuma propaganda anti-Komunisme berkedok pelajaran sejarah---dua-duanya tidak ada elemen critical thinking-nya sama sekali, kita belajar berpikir melalui menulis dan membaca.


Dalam pelajaran sejarah, generasi saya yang mengalami masa SD di tahun 70-an dan 80-an, kurang beruntung, karena kami terus-terusan dicekoki propaganda anti-Komunis rezim Suharto. Selain itu, kita tidak belajar sejarah untuk mengetahui arti ‘sejarah’ melainkan untuk menghafal sebundel nama dan tanggal kuno. Contoh hafalan: “Masa pemerintahan Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit, dimulai pada 1350 dan berakhir pada 1389”; “Mahendradatta adalah ratu yang cantik jelita. Ia ibu Prabu Airlangga dari Bali.”)


Kita juga dicekoki nama-nama Sanskerta yang panjang-panjang, puitis, tapi hampa tanpa konteks. Ujian selalu diberi format jawaban a, b, c, d. Kita tak pernah diberi wawasan sejarah atau dilatih menganalisa sejarah dan beberapa versi atau tafsirnya, mengapa hal ini terjadi, pada masa itu apa saja yang terjadi di dunia, apa kaitan ini dan itu. Semua hitam dan putih, gak ada yang di tengah-tengah.


6. Sejauh apa aktivitas membaca membentuk diri Anda secara personal? Adakah karya sastra dan penulis/pemikir yang paling membentuk Anda?


Saya beruntung tumbuh besar di rumah penuh buku dan dalam keluarga pembaca. Orang tua mendidik saya membaca sejak saya kecil. Tante saya, Roswitha Pamuntjak, ikut membesarkan saya di toko buku keluarga, PT Djambatan. Toko buku itu bagian dari usaha penerbitan keluarga saya yang sudah berdiri semenjak tahun 1952—toko buku kedua tertua di Jakarta, setelah Balai Pustaka. Saya begitu kutu bukunya sampai saya terkenal ke mana-mana gak pernah gak bawa buku. Di rumah pun saya begitu. Mungkin juga karena anak tunggal ya, saya sudah biasa dengan kesendirian.


Buku pertama yang saya baca yang meninggalkan jejak yang lama sekali adalah Jane Eyre karya Charlotte Bronte. Kisahnya tentang seorang pengasuh anak sebatang kara yang bekerja untuk seorang bangsawan dan jatuh cinta padanya. Dari dulu entah kenapa saya tertarik dengan cerita-cerita tentang perempuan yang kuat dan tabah dan berjiwa independen terutama dalam menghadapi ketakadilan, ketaksetaraan dan cinta yang sulit. Jane Eyre juga seorang pembaca—dan saya banyak belajar dari caranya melihat dan menilai kehidupan melalui bacaannya. Prosa Charlotte Bronte dalam Jane Eyre juga kaya dan indah sekali, cemerlang bahkan—dan kapanpun saya membaca ulang karya ini, dalam usia berapapun, hal itu selalu tetap menggugah saya. Selalu ada saja bagian buku yang membuat saya: aah, bagusnya deskripsi ini, aduuh, luar biasa sekali dia menguraikan soal ini itu. Saya selalu merasa terharu, terdidik ulang tentang empati dan tentang pengorbanan setiap kali saya membaca buku ini.


Buku kedua yang sangat membekas adalah Portrait of a Lady-nya Henry James—Isabel Archer, tokoh utama dalam novel itu, sebagaimana banyak tokoh perempuan dalam novel-novel Henry James, perempuan yang pintar, terdidik, dan berwawasan luas, cantik—tapi sering diperlakukan seperti objek, objek untuk dikagumi dan didambakan oleh laki-laki. Tokoh-tokoh perempuan Henry James kebanyakan sadar akan kekurangan diri mereka sendiri, tapi mereka punya integritas moral, mereka tahu apa yang benar dan salah, mereka berani melangkah atau mengambil keputusan yang mereka yakini adalah benar, atau keputusan etis yang terbaik demi kebaikan semua orang, meskipun kadang mereka sendiri harus berkorban.

Henry James bagi saya juga adalah connoisseur atau ahli/penikmat/pemerhati psike manusia—nyaris tak ada satupun tipe manusia atau suatu situasi eksistensial manusia yang belum pernah digalinya dalam karya-karyanya.


Dua lagi tokoh yang penting dalam membentuk cara-cara pandang saya tentang dunia—saya bicara gak cuma satu, tapi pelbagai cara pandang, terutama tentang cara-cara pandang tentang seni rupa, adalah Susan Sontag dan John Berger. Susan Sontag adalah penulis, intelektual publik, dan pekerja film Amerika, terutama himpunan-himpunan esainya yang awal, Against Interpretation, Styles against Radical Will, Regarding the Pain of Others, On Photography, Illness as a Metaphor, The Way We Live Now. Cakupannya luas—dari media, budaya, film, fotografi, hingga hak azasi manusia, komunisme, ideologi kiri sampai sastra dan seni rupa. Erudisinya luar biasa, prosanya gemilang.


John Berger adalah seorang pemikir budaya dan penulis Inggris. Karyanya yang paling tersohor, Ways of Seeing, atau Pelbagai Cara Pandang, atau Cara-Cara Memandang Dunia, saya baca dalam sebuah mata kuliah pemula di universitas, dan betul-betul membentuk cara saya berpikir tentang dunia, dan juga tentang seni rupa. Kita semua punya partikularitas kita masing-masing. Maka semua upaya untuk memaksakan cara pandang tunggal—Islam yang tunggal, misalnya, atau gaya maupun estetika tunggal atau ideologi tunggal—terhadap dunia tak akan mungkin berhasil.


Sementara novelis yang paling memengaruhi saya adalah Toni Morrison, penulis besar yang baru saja meninggal beberapa bulan lalu. Ia contoh penulis yang bisa memadukan presisi dan kecenerlangan puisi dan tema-tema besar kemanusiaan seperti ketakadilan, perbudakan, penjajahan, ketakbebasan dan keterbelengguan manusia. Ia ibarat seseorang yang bisa menulis ‘kecil’ dan ‘besar’. Ada kalimat dalam novel pertamanya yang saya baca, Beloved, yang selalu menggema dalam diri saya, dan baru saja saya pakai sebagai judul pidato kunci saya di ANU minggu lalu: “Freeing oneself is one thing; claiming ownership of one’s freed self is another.” “Membebaskan diri kita adalah satu hal: mengklaim diri kita yang telah terbebaskan adalah lain hal.” Toni Morrison, Nadine Gordimer dengan novelnya, July’s People, Burgher’s Daughter, Renata Adler dengan karyanya yang sebagian memoir sebagian narasi jurnalisme sebagian meditasi filosofis, Speedboat, dan Christa Wolf, penulis Jerman dengan karyanya The Quest of Christa T, sebuah novel luar biasa tentang identitas dengan elemen otobiografi. Saya juga suka dengan cerita-cerita pendek dan novel-novel A.M. Homes, Jeanette Winterson dan Lorrie Moore.


7. Apakah Anda ada berencana untuk meluncurkan buku baru? Dan dengan situasi seperti sekarang, dampak apa yg Anda sangat rasakan sebagai penulis?


Ya, minggu depan Insya Allah versi bahasa Indonesia dari novel saya ketiga, Kekasih Musim Gugur, akan diluncurkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sebelumnya versi bahasa Jermannya sudah terbit dua tahun lalu dan diluncurkan di Berlin bulan September 2018. Lalu versi aslinya dalam bahasa Inggris, Fall Baby, diterbitkan oleh Penguin Random House SEA bulan Oktober 2019. Nah akhirnya, inilah versi bahasa Indonesianya. Saya bilang versi, bukan terjemahan, karena saya menulis ulang karya ini, bukan sekadar menerjemahkan.


Novel ini adalah sekuel novel saya yang pertama, Amba, dan tokoh utamanya adalah Srikandi, anak Amba dan Bhisma di luar nikah. Srikandi ini adalah seorang perupa kontemporer yang telah melanglang buana, tinggal di berbagai kota di dunia, tapi gak bisa melepaskan diri dari sejarah keluarganya yang kelam, yang ternyata ada kaitannya dengan luka sejarah bangsa. Srikandi berasal dari generasi yang sama sekali berbeda dengan ibunya, Amba, jadi sensibilitasnya, modernitasnya, dan kebebasannya bertutur dan bersikap sangat berbeda dari Amba.


Kisah ini bukan saja kisah Srikandi, atau kisahnya mengukuhkan dan menemukan identitasnya yang majemuk, dan berdamai dengan masa lalu, tapi juga kisah Dara, sahabat yang lalu jadi musuhnya. Dara ini seorang aktivis politik. Srikandi dan Dara berbeda dari segi latar belakang keluarga, agama, serta sosial-ekonomi, cara mereka berjuang pun sangat berbeda, yang satu sebagai seniman, yang satunya lagi sebagai aktivis. Tapi nilai-nilai yang mereka perjuangkan sama: Indonesia yang toleran, terbuka dan demokratis.


Novel ini juga menyoroti hubungan antara ibu dan anak---antara Srikandi dan ibunya, Amba, dan antara Srikandi dan anak tirinya, Amalia, dan juga antar teman---antara Srikandi dan Dara. Novel ini juga menyoroti seni rupa, dan bagaimana seni rupa bisa menjadi instrumen melawan lupa dan perlawanan atas ketidakadilan. Jadi mereka yang menggemari seni rupa akan menemukan banyak seniman dan tafsir tentang karya mereka di novel ini, dari politik seni rupa Sudjojono sampai Djoko Pekik, dari gejolak abstrak Umi Dahlan sampai aspek seksualitas I GAK Murniasih, perupa Bali. Bagi mereka yang telah membaca Amba, membaca Kekasih Musim Gugur pasti akan terasa sebagai kelanjutan cerita yang belum selesai. KMG juga bisa dibaca sebagai novel yang berdiri sendiri.


Saya tentunya sangat prihatin akan dampak krisis Coronavirus ini pada dunia penerbitan dan toko buku. Toko buku harus tutup, bisnis penerbitan macet, percetakan terhambat kerjanya, masyarakat gak lagi bisa pergi ke toko buku dan membeli buku. Karyawan kehilangan mata pencaharian, penulis juga kelimpungan gak bisa menjual karyanya.


Saya sendiri pernah mendirikan toko buku, Toko Buku Aksara, di tahun 2000-an, jadi saya tahu persis tantangannya, apalagi di sebuah kota yang minat bacanya tak terlalu besar dibanding kota-kota atau negeri-negeri lain pada umumnya. Maka saya betul-betul bersemangat nih menerbitkan novel saya dalam bentuk e-Book dulu, supaya pembaca bisa tetap mendukung penerbit dan toko buku dengan membeli novel itu lewat Gramedia Pustaka Utama online, baru nanti kalau masa PSBB sudah lewat, novelnya akan tersedia dalam bentuk fisik. Rencananya, KMG akan diterbitkan dalam bentuk e-Book tanggal 11 Mei. Jangan lupa ya, bagi yang berminat membelinya, beli bukunya di GPU online.


8. Saran buat meningkatkan minat baca tulis selama masa pandemi ini


Sekitar seminggu yang lalu, saya sempat posting di IG 9 tips saya untuk melawan frustrasi dan terus bersemangat menulis. Kali ini 6 tips saya meningkatkan minat baca tulis selama WFH:

  1. Bikin daftar buku apa saja yang ingin dan harus dibaca dalam sebulan. Bikin target kapan, berapa buku yang harus dirampungkan. Ini sebuah komitmen, jadi harus kita lakukan. Percaya deh, setiap kali target tercapai, kita akan merasa happy, karena kita merasa produktif dan ada sesuatu yang baru yang telah kita pelajari.

  2. Setiap kali nonton film yang bagus di Netflix atau di channel manapun, biasakan diri mengamati strukturnya. Nonton film bukan berarti males-malesan atau gak ngapa-ngapain. Saya sering mendapat ilham dari film-film atau seri drama TV yang asyik karena menulis script TV yang bagus gak gampang—kita bicara pacing, ritme, menyusun dialog, mengonstruksi adegan, membangun karakter tokoh, membangun koherensi internal, berpikir secara visual, meringkas dan memadatkan—dan itu semua bisa diterapkan dalam tulisan kita.

  3. Untuk para penulis dan non-penulis: biasakan diri menulis sesuatu, apa saja, setiap hari. Tentang kejadian sehari-hari, tentang perasaan atau observasi kita, tentang ide-ide kita yang paling banal sekalipun. Gak ada yang gak berharga apabila kita menuliskannya.

  4. Untuk para penulis: gunakan waktu dan ruang yang ada untuk berlatih menulis. Kemarin saya baru chatting sebenar di WhatsApp dengan Pak Sapardi. Beliau bilang: “Sastra adalah cara penulis menyampaikan gagasannya, bukan gagasan yang disampaikannya, yang pada hakikatnya sama sejak sastra ditulis.” Kita hanya bisa meningkatkan kemampuan kita menyampaikan gagasan dengan berlatih terus menerus: membaca tulisan-tulisan yang bagus, melakukan riset, mencatat, merenung, mencari metafor yang segar, membuat daftar kosakata baru, serta mengedit dan menyempurnakan tulisan.

  5. Jangan anggap enteng apapun yang kita lakukan atau alami, bahkan yang gak ada hubungannya dengan dunia aksara atau tulis-menulis. Masak-masak di rumah, olahraga, menikmati lukisan atau gambar, mencuci mobil, menata ulang rumah, mendengarkan musik, semua bisa jadi bahan untuk memperkaya kosakata dan ekspresi: tentang warna, nada, aroma, bunyi, tekstur, komposisi, juga tentang perasaan dan emosi kita.

  6. Ini sudah pernah saya katakan, tapi akan saya katakan lagi: Tetaplah pede! Percayalah bahwa kita mempunyai sesuatu yang berharga untuk disumbangkan melalui tulisan kita.


#litbeat #litbeatlite #laksmipamuntjak

0 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram