• Admin

Keluarga dan Literasi di Masa Pandemi

Updated: Aug 3

Oleh Yona Primadesi

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) berdampak pada seluruh tatanan kehidupan manusia, salah satunya dalam praktik literasi. Bencana kesehatan ini secara langsung telah menihilkan relasi dan peran masyarakat serta sekolah. Praktik-praktik literasi dikembalikan pada lingkungan keluarga sebagai sokoguru utama pendidikan, sebagaimana yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara (1977). Pandemi telah mengubah rumah menjadi pusat pendidikan awal dan berkelanjutan bagi anak. Orangtua dalam lingkungan keluarga menjadi pusat literasi anak. Tentu saja keterlibatan orangtua dalam membangun interaksi yang bermakna bagi anak menjadi kunci suksesnya praktik literasi di lingkungan keluarga.



Semestinya, perubahan ini bisa menjadi angin segar. Keluarga dengan azas kekeluargaan dan gotong-royongnya memiliki kewenangan yang lebih luas dalam membentuk habitus literasi anak. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang mengeluh kerepotan menghadapi perubahan yang tiba-tiba tersebut. Selain persoalan psikologis, seperti ketidaksiapan, kegamangan orangtua terhadap pemanfaatan materi digital dan daring oleh anak, kendala eksternal seperti dukungan infrastruktur dan ketersediaan sumber informasi dan pengetahuan, juga menjadi persoalan lainnya. Hal ini kemungkinan terjadi, salah satunya dikarenakan literasi masih dilihat dari perspekif psikologi kognitif dengan model otonomi.


Perspektif ini mendefinisikan literasi sebagai rangkaian pengetahuan dan keterampilan (membaca dan menulis) yang diperoleh pada usia-usia tertentu dan harus diajarkan serta dikembangkan dengan cara yang sama (Lambirth, 2011). Literasi diposisikan sebagai keterampilan yang dipelajari atau diajarkan tanpa memandang konteks dan latar belakang si pembelajar. Semua individu dianggap memiliki kemampuan garis pengetahuan yang sama dalam semua kondisi. Tentu saja ini bakal menjadi persoalan, terutama di masa pandemi.


Literasi sudah seharusnya dipandang sebagai praktik sosial. Sehingga untuk memaksimalkan kompetensi literasi, dilakukan melalui proses sosialisasi dengan memerhatikan latar sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan demografi individu. Keluarga, dalam hal ini orangtua, dituntut untuk mampu memunculkan varian interaksi komunikasi yang bermakna sesuai dengan kondisi keluarga tersebut.

Kebingungan orangtua perkara, ‘apa lagi yang harus dibaca anak?’, ‘bagaimana mendapatkan buku yang bagus?’, ‘apa yang harus dilakukan dengan buku ini?’, ‘saya harus apa setelah anak saya membaca buku ini?’, ‘saya sudah tidak punya buku untuk dibaca anak, bagaimana literasi bisa saya jalankan?, atau ‘apakah akses digital yang dilakukan anak, aman?’ setidaknya mampu diminimalisir.


Selain itu, literasi bukan hanya perkara frekuensi anak membaca atau kuantitas buku yang dibaca anak. Literasi lebih kepada keterampilan atau kecakapan anak yang diperoleh dengan membaca, menulis, dan oraliti secara tepat sesuai dengan konteks sosial dan budaya (Street, 2003). Buku, bukan satu-satunya komponen utama dalam praktik literasi. Kehadiran buku, justru akan berperan lebih maksimal ketika ketiga komponen literasi lainnya hadir, yaitu bahasa lisan, bahasa tulis, dan bahan kaya teks.


Di masa pandemi, saat akses terhadap buku dinilai terbatas, orangtua semestinya bisa memaksimalkan pemanfaatan tiga komponen literasi lainnya dalam proses belajar anak. Kolaborasi antara bahasa lisan, bahasa tulis, dan bahan kaya teks, sangat bisa dilakukan. Misalnya, orangtua yang memiliki anak hobi bereksperimen di dapur, bisa memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai bagian dari praktik literasi.


Ketika anak mencoba resep baru, orangtua bisa memanfaatkan bahan kaya teks, seperti komposisi bahan sebagai media belajar. Anak juga bisa diminta untuk menggunakan bahasa tulis dengan cara menuliskan resep dan tahap-tahap pengolahan masakan yang benar. Kedua hal tersebut bisa diperkuat dengan oraliti berupa cerita kepada anak selama aktivitas berlangsung: mengapa menggunakan kuning telur bukan putih telur, mengapa ketika menggoreng minyak sayur berdesis saat terkena percikan air, atau fenomena-fenomena lainnya yang mungkin terjadi.


Bagi orangtua yang anaknya memiliki ketertarikan terhadap flora, bisa melakukan praktik-praktik literasi dengan mengajak anak berkebun atau sekadar mengamati pertumbuhan tanaman yang ada di sekitar lingkungan rumah. Setiap peristiwa sebagai bagian interaksi dengan anak dalam lingkungan keluarga, bisa dimanfaatkan sebagai bentuk praktik literasi. Sehingga aktivitas dan interaksi bersama anak menjadi sebuah pengalaman yang bermakna bagi anak.


Pemanfaatan empat komponen literasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak akan menjadi maksimal ketika orangtua mengambil peran. Peran tersebut, menurut Hannon dikenal dengan istilah ORIM: Opportunities, Recognition, Interaction, dan Model (1995). Kesempatan, pengakuan, interaksi, dan keteladanan yang ditunjukkan dan diberikan oleh orangtua kepada anak dalam setiap interaksi dan aktivitas akan menjadi pengalaman belajar yang tidak hanya bermakna, tetapi juga menyenangkan.


Misalnya saja dalam pemanfaatan bahan kaya teks berupa katalog belanja daring. Orangtua bisa memberikan kesempatan kepada anak dengan mengajak anak berbelanja menggunakan katalog daring, meminta anak untuk memilih beberapa barang yang dibutuhkan, membandingkan harga, melihat penawaran promosi, keterpercayaan situs belanja, prosedur belanja yang mudah dan aman, sebelum akhirnya anak menentukan pilihan. Interaksi dibangun dengan mendiskusikan pilihan produk dengan tujuan membantu anak untuk memilih barang dengan bijak sesuai kebutuhan dan kemampuan, serta memilih cara berbelanja yang mudah dan aman. Orangtua juga harus memberikan keteladan berupa contoh sikap hanya akan memilih dan membeli barang berdasarkan kebutuhan, harga, kualitas, dan keamanan transaksi. Dengan demikian, kegiatan belanja daring tidak semata menjadi sebuah kesenangan, melainkan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.


Hal serupa juga bisa dipraktikkan dalam pemanfaatan fasilitas internet sebagai sumber belajar. Kesempatan diberikan kepada anak dengan bantuan orangtua menggunakan internet untuk membantu mengerjakan tugas dari sekolah, mengunduh musik yang disukai, atau menonton film. Jangan lupa memberikan apresiasi kepada anak atas upaya anak mencari berbagai sumber informasi di internet sebagai bentuk pengakuan. Interaksi terjadi antara orangtua dan anak, misalnya dengan memanfaatkan online educational games untuk tambahan latihan atau sekadar bermain bersama. Orangtua juga harus menjadi teladan dengan mendampingi dan membantu anak tentang cara penelusuran informasi yang efektif secara benar dan akurat.


Ruang yang lebih terbuka untuk berkomunikasi, berdiskusi, perasaan dihargai dan didengarkan sangat dibutuhkan dalam proses belajar anak, terutama di masa pandemi. Sumber belajar tidak hanya dari buku. Orangtua bisa memanfaatkan semua modal yang ada di sekitar anak sesuai dengan kondisi lingkungan keluarga. Pemanfaatan materi yang ada di sekitar anak justru akan lebih kontekstual. Selain itu materi yang disukai anak, akan membantu anak dalam mengeksplorasi diri dan lingkungannya.


Lingkungan keluarga yang kondusif menjadi faktor utama yang akan sangat menentukan perkembangan kompetensi literasi anak di masa pandemi. Untuk menjadikan anak sosok individu yang aktif dan kritis, orangtua berperan penting dalam menumbuhkan daya literasi. Orangtua menjadi faktor terpenting untuk memberikan stimulasi-stimulasi yang penting bagi pertumbuhan literasi anak, partner primer bagi anak.

Referensi

Dewantara, Ki Hadjar. 1977. Pendidikan. Yogyakarta: Majlis Luhur Persatuan Taman Siswa

Hanon, Petter. 1995. The Orim Framework. The University of Sheffield.

Lambirth, Andrew. 2011. Teaching Early Reading and Pheonic: Creative Approaches to Early Literacy. London: Sage.

Street, B. 2003. “What’s “new” in New Literacy Studies: Critical Approaches to Literacy in Theory and Practice.” Current Issues in Comparative Education 5 (2): 77.

Yona Primadesi

Akademisi dan praktisi bidang informasi, khususnya literasi pada anak ini lahir di Padang, Sumatera Barat. Mendirikan komunitas Sahabat Gorga yang bertujuan untuk mendampingi dan memfasilitasi anak-anak dalam mengembangkan kompetensi literasi. Buku pertamanya, Dongeng Panjang Literasi Indonesia (2018).. Sedang mempersiapkan buku kedua, Bunda, Ada Dinosurus di Kamarku!. Saat ini menetap dan berkegiatan di Yogyakarya.

98 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram