• Admin

Ke Mana Masa Depan Perbukuan Indonesia Pasca Pandemi

Updated: Aug 3

oleh:

Dewi Ria Utari

Membayangkan masa depan perbukuan kita di masa pandemi ini, mau tidak mau kita memerlukan banyaknya karakter semacam Liesel di film The Book Thief yang diangkat dari novel berjudul sama karya Markus Zusak. Bagi yang belum pernah membaca novel ini dan atau menonton filmnya, Liesel adalah seorang gadis kecil yang memahami dunia yang tengah ia hadapi, yaitu dunia di masa perang dunia kedua, melalui kecintaannya pada buku. Ketika pemerintah Jerman melarang peredaran buku-buku yang dinilai membahayakan posisi pemerintah, Liesel secara sembunyi-sembunyi belajar membaca dari seorang pemuda Yahudi yang disembunyikan orangtua angkatnya di rubanah rumahnya. Ketika kemampuan membacanya semakin meningkat, Liesel mendapatkan oase pengetahuan dari buku-buku yang dipinjamkan oleh istri walikota secara diam-diam.


Dari sisi akses terhadap bacaan, situasi pandemi yang kita alami saat ini tidaklah sekritis yang dialami Liesel. Kita masih memiliki kebebasan membaca apa pun dalam format apa pun: cetak, elektronik, audio. Yang terbatasi adalah kemampuan kita untuk mengunjungi toko buku dan perpustakaan untuk memilih buku-buku yang akan kita baca secara berhadapan langsung. Karena itulah, akankah dalam situasi yang tak bisa kemana-mana ini, kita memiliki dorongan untuk membaca buku sekuat Liesel?

Dari dulu, kita memerlukan banyak Liesel untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang peringkatnya cukup memalukan. Terlebih lagi di saat ini, ketika industri perbukuan kita tidak lagi bisa melakukan kampanye-kampanye yang sepantasnya dikarenakan situasi yang serba memprihatinkan ini. Promosi-promosi berbau kegiatan temu fisik, sudah tidak lagi memungkinkan. Sehingga apa lagi yang bisa dilakukan para pelaku industri ini untuk mendorong penjualan buku?

Secara logika, kita bisa menyatakan bahwa saat-saat berada di rumah, adalah saat yang tepat di mana kita memiliki waktu untuk membaca buku. Namun buku mesti bertarung dengan banyaknya platform hiburan yang bisa diakses di rumah. Segala jenis platform hiburan berebut perhatian – yang tidak ada di zaman Liesel – dari youtube, media sosial, siaran berita televisi yang tak henti-hentinya menyiarkan informasi terbaru tentang COVID-19, hingga aplikasi film-film langganan seperti Netflix, Amazon Prime, Viu, Hooq dan lain sebagainya.

Wajar jika situasi kompetisi platform hiburan semacam ini telah mendatangkan kerugian yang memprihatinkan bagi para penerbit buku. Apalagi ditambah dengan menurunnya daya beli masyarakat seiring situasi ekonomi global yang terpuruk akibat wabah. “Buku bagaimanapun harus diakui bukan kebutuhan utama masyarakat seperti Indonesia, jadi waktu di rumah tidak dipakai buat baca,” ujar Ronny Agustinus, pemilik penerbit indie, Marjinkiri.

Penurunan penjualan pun bagai menelan pil pahit sejak Maret tahun ini. Marjinkiri mengalami penurunan penjualan hingga 55%. “Diperparah dengan dolar naik. Sementara kertas, bahan cetak dan yang lainnya impor, serta dipatok dolar,” kata Ronny.

Sementara Kesaint Blanc mengalami penurunan sekitar 31% untuk penjualan di toko buku. “Kami sedikit terbantu dengan penjualan di BBW (Big Bad Wolf) pada Maret lalu,” kata Alvinta Purba, Direktur Kesaint Blanc. Mizan juga mengabarkan cukup terbantu penjualan buku fisiknya di BBW pada Maret lalu, meski tetap saja harus menerima penurunan penjualan hingga 40% untuk Maret 2020. “Jika situasinya terus seperti ini, kami memperkirakan April akan turun hingga 60%,” ujar Ditta Sekar Cempaka, PR Corporate PT Mizan Pustaka. Persentase penurunan penjualan juga dialami grup Gramedia, salah satunya Gramedia Pustaka Utama yang mengalami penurunan sekitar 70% setelah 61 toko buku Gramedia tutup untuk sementara.

Meski tak banyak, situasi pandemi ini telah mendatangkan peningkatan penjualan buku secara online, termasuk penjualan buku berformat elektronik. “Penjualan e-book di google playbook ada peningkatan sekitar 15%,” ujar Siti Gretiani, General Manager Gramedia Pustaka Utama. Penjualan buku secara online melalui website Gramedia Pustaka Utama juga mengalami peningkatan sebesar 300%. Adapun Kesaint Blanc juga merasakan sedikit peningkatan dalam hal penjualan online. Sementara Mizan sudah banyak melakukan promosi penjualan online. “Di awal april ada program di mizanstore dengan diskon 30-70%. Kami juga melakukan program outoftheboox, bekerja sama dengan shopee dan tokopedia, dengan memberikan diskon 25 hingga 90%, di mana 90% untuk buku-buku lama,” kata Ditta.

Walaupun tak banyak dan belum sebanding dengan penjualan di masa normal dan melalui toko buku, sebenarnya situasi pandemi ini memperlihatkan kesempatan untuk meningkatkan penjualan buku secara online dan buku berformat elektronik. Kebiasaan membaca buku format kertas mungkin perlahan-lahan mulai tergantikan, walaupun dalam hal ini, kita memerlukan kampanye lain di sisi hak cipta. Di masa corona ini, muncul pula fenomena yang memprihatinkan di mana banyak masyarakat yang mendistribusikan buku-buku format pdf secara ilegal.

Melihat situasi semacam ini, sejumlah negara sebenarnya telah melakukan antisipasi. Mereka mengaktifkan perpustakaan untuk bisa diakses secara online oleh masyarakat, termasuk memberikan insentif kepada perpustakaan untuk membeli buku-buku online dari penerbit dan termasuk pembelian buku-buku elektronik dan audio kepada penerbit.

Pemerintah Republik Ceko memberikan dana kepada perpustakaan pusat untuk membeli e-book dari para penerbit senilai € 370.000. Pemerintah Inggris memberikan dana kepada perpustakaan senilai £ 1 juta untuk membeli e-book dan buku audio. Adapun pemerintah Irlandia mengeluarkan dana € 200.000 untuk membeli 5000 e-book dan audiobook bagi perpustakaan umum.

Harapan yang sama tentu juga dimiliki para pelaku industri perbukuan di Indonesia. Insentif-insentif dari pemerintah seperti yang sudah dilakukan negara-negara lain sangat diperlukan, termasuk juga keringanan pajak tentunya. Tentu saja, harapan ini sangat diperlukan untuk segera terwujud jika kita memang masih menginginkan negeri ini memiliki minat baca dan peningkatan kemampuan literasi. Apalagi mengingat sebagian besar industri perbukuan Indonesia masih berskala usaha kecil dan menengah.

Jika kondisi pandemi ini masih terus berlanjut – bahkan hingga akhir tahun atau tahun depan – dan tanpa ada bantuan dari pemerintah, sebagian penerbit mungkin akan berguguran. Marjinkiri saat ini telah mencoba bertahan dengan memotong gaji para editor. “Kekurangannya mungkin akan dibayarkan nanti saat kondisinya telah membaik,” ujar Ronny. Arus keuangan di Kesaint Blanc juga diperkirakan hanya akan bertahan hingga Mei jika situasi dalam negeri tidak membaik. “Itu pun kami sudah menyampaikan ke karyawan, mungkin THR baru akan dibayarkan Desember,” ujar Alvinta. Baik Gramedia dan Mizan sebagai penerbit yang lebih mapan sekali pun, sudah mulai mempertimbangkan sejumlah skenario untuk bertahan, di antaranya mungkin pengurangan komponen gaji di sejumlah level atas.

Melihat situasi mencemaskan ini, Ronny menitipkan harap pemerintah segera melakukan bulk buying untuk perpustakaan dan lembaga-lembaga baca masyarakat. Pun pengurangan pajak. “Bahkan pembebasan pajak untuk penerbit UMKM selama masa wabah yaitu Maret hingga Juni, itu sudah sangat membantu,” kata Ronny. Insentif-insentif agar masyarakat membeli buku juga diperlukan.

Bertahan hidup dari masa pandemi, tidaklah semata-mata bertumpu pada kemampuan fisik. Kita juga sudah sepantasnya mempersiapkan kemampuan nalar dan berpikir kritis untuk menjalani dunia pasca pandemi dengan segala perubahan situasi dan kondisi yang akan terjadi. Dan untuk itu kita terus memerlukan buku. Ada satu pesan dari Max Vandenburg, si pemuda Yahudi di The Boof Thief kepada Liesel. “Words are life, Liesel. Di keyakinan agamaku, kami diajarkan bahwa setiap yang hidup, setiap daun, tiap ekor burung, semata hidup karena memiliki kata rahasia tentang hidup. Itulah satu-satunya perbedaan kita dengan seonggok lumpur. Yaitu kata. Kata-kata adalah kehidupan.”

Akankah kita meyakini hal-hal ini – kata, teks, buku – untuk menyelamatkan kehidupan kita setelah masa-masa gelap ini?

#mei2020 #newsletter #article #dewiriautari

1,372 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram