• Yani Kurniawan

Jendela Kebebasan dalam Pembatasan

Updated: Aug 10

Oleh Ni Made Purnama Sari

Ada satu hal yang belakangan rutin saya lakukan: bila tiba menjelang petang, kursi kayu di sisi jendela yang membuka pemandangan ke beranda pondokan tak pernah luput saya singgahi, baik untuk sekadar istirahat maupun duduk membaca. Kemudian entah bagaimana ceritanya, pepatah lama itu pun tebersit, dan sedikit banyak membikin saya tersenyum, “Buku adalah jendela dunia.” Peribahasa itu bukan hanya indah, sekaligus menjanjikan kebebasan. Sekelebat saya ingat akan waktu yang sekarang, ini masa 2020 dan sebentar lagi 75 tahun lahirnya negara Indonesia kita—namun kilasan aneka peristiwa tak ayal membuat hati saya dihinggapi getir. Buku yang kini banyak bertebaran, agaknya tak cukup menawarkan kita lapang pandang ‘kemerdekaan’.



Di belantara aneka pilihan, kita kerap terpikat kepada apa-apa yang disukai, termasuk dalam hal opsi-opsi bacaan apalagi kepercayaan atas sumber-sumber informasi. Pada mulanya barangkali ini hal yang wajar, persis seperti seorang dara menyenangi warna merah ketimbang gaun serba hitam. Andai itu semata sebagai preferensi pribadi, saya amat menghargainya. Namun, akan menjadi persoalan bila pilihan-pilihan personal ini ditegaskan, disebarluaskan, bahkan diyakini sebagai satu-satunya sesuatu yang sahih, bahkan dalam konteks paling ekstrem: meniadakan kemungkinan-kemungkinan yang berlainan. Rasanya saya tidak perlu menerangkan bentuk-bentuk kongkrit dari fenomena tersebut sebagaimana yang bermunculan dalam ruang-ruang publik dunia maya akhir-akhir ini.


Ada yang gandrung kepada buku-buku botani lantaran keterpukauannya terhadap ilmu pengetahuan. Ada yang masih memilih liputan mendalam yang disajikan surat kabar maupun majalah cetak dibandingkan artikel-artikel serba sekilas. Ada yang mungkin lebih intens membaca fiksi ketimbang buku-buku humaniora. Kita bebas mencerna bacaan apa pun yang kita minati, terutama jika dia dilakukan atas kesadaran pribadi. Meskipun ideal tapi ungkapan barusan sebenarnya terkesan naif. Pada kenyataannya acap pula preferensi bacaan kita ditentukan aneka sebab yang juga berasal dari luar diri kita. Beberapa menyimak buku-buku sejarah versi A dan tak percaya kepada tuturan historis alternatif karena pengaruh lingkaran pendidikan dan pergaulannya. Seseorang tak mau memeriksa ulasan-ulasan dari para pakar serta lebih mudah menyebarkan potongan unggahan di linimasa karena rekannya kerap pula demikian, yang seluruhnya makin panas dalam taburan bumbu politik.


Lebih-lebih, sekian dari kita mungkin tak mau melirik buku-buku karya penulis baru, yang berasal dari pelosok terpencil, atau komunitas minoritas dan termarjinalkan, hanya lantaran sikap skeptis kalau penulis yang belum punya nama pastilah isinya tidak bagus-bagus amat—sembari diam-diam lupa (semoga tidak dengan sengaja) bahwa minimnya pengenalan nama serta akses keterbacaan karya penulis-penulis terpinggirkan ini berkorelasi dengan sekelumit persoalan dunia perbukuan dan literasi kita, katakan yang sederhana misalnya, minimnya modal cetak buku yang tak memungkinkan kualitas produksi hingga perluasan distribusinya.


Di tengah pandemi yang membatasi ruang gerak keseharian, linimasa media sosial sering jadi pelarian untuk mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Yang saya temukan terkadang mengejutkan: seorang pengguna (saya tak kenal siapa, unggahannya selintas lewat) menyayangkan pilihan bacaan pengguna lain yang menurutnya “masih jauh dari intelek”, atau perdebatan kecil perihal layakkah sebuah buku disebut sebagai karya sastra yang ujung-ujungnya mencibir preferensi bacaan seseorang. Memang ada baiknya kita turut mengedukasi pengguna media sosial ataupun rekan-rekan lain, teristimewa perihal kualitas bacaan, kendati semuanya mestilah kembali berpulang kepada diri mereka masing-masing. Saya meyakini bahwa seseorang bakal mengalami ‘pertumbuhan bacaannya’ sendiri seiring dengan makin hausnya dia akan pengalaman dan bacaan-bacaan baru. Tidak ada seseorang pun yang mau tinggal di titik yang sama, dia pasti akan berpindah, dan tugas kita, juga siapapun dalam dunia literasi maupun industri perbukuan, ialah menyediakan aneka kemungkinan bacaan bermutu yang tetap murah dan mudah diakses. Pasti bakal lebih mantap kalau diperkaya dengan kanal-kanal ulasan maupun kritik perbukuan demi menandingi kecenderungan asal komentar yang kadang bikin gemas itu.


Bukan hanya kita manusia, buku-buku turut menghadapi aneka peristiwa pembatasan. Yang memilukan: sejarah dari masa ke masa menunjukan betapa buku sering kali dimusnahkan karena dia menyimpan kenyataan ‘berbahaya’ bagi kelanggengan kekuasaan. Ini pun terjadi di negeri ini. Kita melihat sifat-sifat otoritarian secara samar menyalin diri ke dalam bentuk-bentuk lebih mutakhir, nyaris ke dalam sistem berpikir masyarakat kita kini yang permisif atas pelarangan ide-ide berseberangan, sensor isu sosial-politik-budaya di alam demokrasi, masih mengguritanya oligarki kekuasaan, persoalan transparansi informasi serta pembatasan aksesnya bagi khalayak, hingga pelanggaran terhadap hak-hak publik. Seluruhnya bahkan kian menjadi tanpa ketajaman serta kedalaman literasi kita hingga terbentuklah silang sengkarut kabar bohong yang mengaburkan data fakta, perundungan, bahkan usaha-usaha ‘membenarkan’ keyakinan sendiri.


Dalam konteks ini, pertimbangan memilih buku atas dasar preferensi bacaan pribadi tidaklah cukup. Buku, jendela dunia itu, memang tak bisa membuka pandang sebebas-luasnya dan selalu ada bingkai yang membatasinya. Satu karya tak akan mampu memberikan kita perspektif baru seutuhnya. Karena itu kita memerlukan seluas-luasnya bacaan agar kita dapat membandingkan sebuah fakta dengan kenyataan lainnya, atau suatu pemahaman disandingkan bersama pengertian-pengertian yang berbeda. Membaca adalah bagian dari proses mencari, entah itu kenyataan, ‘kebenaran’, kebangsaan, identitas, kebebasan, bahkan nasib. Seiring prosesnya, saya kira, juga perlu disejajarkan dengan upaya merawat kemerdekaan berpikir; kita mempersilakan aneka buku terbuka dan terbaca sampai nurani kita menentukan mana yang dapat dipercaya untuk memperkaya akal budi kita, lantas membagikannya.


Pada akhirnya, sembari duduk di kursi kayu dan memandangi jendela yang mengarah ke beranda pondokan, saya pelan-pelan mempercayai bahwa membaca bukan sekadar mengeja kata ataupun memahami isinya, melainkan secara beriringan membebaskan angan, imaji, pikiran, serta pengharapan sampai ke batas-batas nalar; sesekali kita mungkin tersesat di dalamnya, namun saya yakin kepada ucapan Pablo Neruda sang penyair itu, bahwa kita pasti akan menemukan tanda-tanda baru yang diukir penulis-penulis lain, yang bakal mengarahkan pencarian demi pencarian. Barangkali itulah asyiknya perjalanan nan merdeka ini, di mana ujung muaranya masih memancarkan misteri, dan kita senantiasa tergoda sampai ke sana.


Ni Made Purnama Sari lahir di Bali, 22 Maret 1989. Puisi-puisinya telah dimuat di beberapa media dan diterjemahkan ke bahasa Inggris serta Perancis. Kini mengelola kegiatan-kegiatan kesenian bersama Bentara Budaya Yogyakarta.

24 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram