• Admin

Industri Kreatif yang Berkesadaran Sosial dan Lingkungan



Oleh Fariq Alfaruqi


Memasuki 2021, mestinya kita melihat dunia dengan cara yang berbeda sama sekali ketimbang tahun-tahun lampau yang pernah kita lalui. Pandemi yang melanda dunia sepanjang tahun lalu telah membuat kita untuk tidak hanya bersiasat dengan rutinitas ekonomi maupun sosial, namun juga memaksa kita untuk menimbang ulang apakah business as usual yang berlangsung selama abad modern ini sudah tepat. Apakah sumber energi, pakaian, pangan, dan berbagai material lain yang menunjang kehidupan kita telah diproduksi dan dikonsumsi dengan cara-cara yang mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan hidup?





Ada banyak kajian, ulasan, dan refleksi yang memperlihatkan bahwa pandemi bukan datang begitu saja menimpa manusia selayaknya kutukan, akan tetapi adalah konsekuensi dari aktivitas produksi manusia yang serakah, eksploitatif terhadap alam dan manusia lain, serta tidak mengenal kata cukup. Pola produksi yang merusak ekosistem bumi tersebut, dengan satu dan lain cara, ikut mengkondisikan mutasi virus, yang sebelumnya hanya bercokol di tubuh hewan, kini mampu menyerang manusia. Sebagaimana yang dipaparkan dalam riset berjudul COVID‑19 and Importance of Environmental Sustainability oleh Naveen Kumar Arora dan Jitendra Mishra, tentang bagaimana manusia mengintervensi kehidupan alam liar yang berdampak pada rusaknya biodiversitas.


Bahkan jika kita lebarkan sudut pandang, pandemi ini tidak hanya menyerang kesehatan fisik belaka, ia justru memperlihatkan betapa problematisnya sistem ekonomi dan sosial yang selama ini kita jalankan dengan penuh kebanggaan, sebagai suatu capaian tertinggi dari peradaban manusia. Orang-orang dengan mudah kehilangan pekerjaannya, ketimpangan sosial semakin tampak, hilangnya kepedulian sesama manusia, dan berbagai persoalan lainnya. Kita tiba-tiba menyadari betapa bergantungnya manusia pada pasar, kita ternyata tidak punya akses langsung pada sumber pangan dan kebutuhan hidup lain tanpa mekanisme pasar itu. Dan ketika pandemi melumpuhkannya, kita tidak tahu cara memperoleh kebutuhan tersebut.


Meskipun saat ini upaya untuk mencari vaksin dan berbagai cara penanganan COVID-19 semakin gencar dilakukan, namun pandemi yang terjadi sekarang bukanlah yang pertama dan terakhir menimpa manusia. Pandemi ternyata adalah semacam siklus yang menunjukkan bahwa telah terjadi disekuilibrium antara manusia dan alam. Bahwa manusia telah bertindak keluar dari batas-batas yang mampu ditanggung oleh alam. Tidak ada cara lain yang bisa kita tempuh selain mengubah arah masa depan, cara berproduksi, serta model interaksi antar manusia serta antara manusia dengan lingkungannya. Dan siapa pun harusnya berada atau malah turut membuat jalur perubahan tersebut.


Ya, kita mungkin dengan mudah bisa menuduh praktik mana yang paling berdampak buruk pada rusaknya ekosistem di bumi. Berbagai aktivitas pertambangan, industri garmen, atau berbagai limbah prabik skala besar lainnya tentu adalah aktivitas yang paling berdampak buruk pada lingkungan. Namun persoalannya, kita justru menganggap praktik-praktik eksploitatif tersebut penting demi kemajuan peradaban manusia. Kalaupun terjadi kerusakan pada alam, hal itu kita anggap tidak permanen dan bisa ditanggulangi nantinya. Kita terlanjur mengamini kepercayaan bahwa bumi beserta seluruh isinya ini terhampar untuk memenuhi kebutuhan manusia.


Dari mana lagi nilai-nilai tersebut kita peroleh kalau bukan dari buku, film, dan berbagai produk budaya lainnya. Melalui pelbagai ekspresi kebudayaan tersebutlah nilai-nilai diinternalisasi, saling mempengaruhi, dan tentu saja ikut bertanggung jawab atas pembiaran atau bahkan memberi legitimasi untuk seluruh aktivitas yang menempatkan bumi hanya sebagai objek eksploitasi manusia tersebut. Baik produsen maupun konsumen, pelaku kebudayaan dan industri kreatif, dengan kadarnya masing-masing telah menyumbangkan kerusakan yang terjadi saat ini dan pada gilirannya menjadi bagian tak terpisahkan dari kemunculan pandemi di seluruh dunia.


Demikianlah kami di Yayasan 17.000 Pulau Imaji, yang juga bergerak di bidang industri kreatif, juga ingin terlibat dalam mengarahkan wacana, model produksi dan distribusi pelbagai produk kreatif di negeri ini ke arah yang lebih etis untuk kehidupan sosial yang lebih baik dan keberlangsungan lingkungan hidup jangka panjang. Jika pada mulanya konsentrasi kami lebih terarah pada penguatan ekosistem industri kreatif, maka untuk tahun-tahun selanjutnya kami ingin memberi porsi yang lebih besar pada berbagai wacana dan produk kreatif yang memiliki kesadaran sosial, lingkungan, kesetaraan gender, dan isu-isu progresif lain.


Sepanjang 2020 lalu kami perlahan telah memulainya. Dalam penyelenggaraan Jakarta Content Week, misalnya, kami merancang sejumlah program terkait kerja-kerja kreatif berbasis persoalan sosial dan lingkungan hidup. Bagaimana sebuah penerbitan buku yang memberi akses pada masyarakat disabilitas dan kaum minoritas lainnya, tentang platform literasi dan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat, perihal konten kecantikan yang edukatif, pola konsumsi makanan sehat, ketahanan pangan, fesyen berkelanjutan, sistem pengelolaan desa mandiri, dan berbagai produk industri kreatif lain yang menawarkan perubahan-perubahan sosial di berbagai bidang.


Dari sana kami belajar bahwa ada banyak program, produk, agenda, kampanye atau gerakan dalam industri kreatif yang berangkat dari isu-isu sosial dan lingkungan hidup kemudian berupaya menawarkan solusinya masing-masing. Meskipun tidak terjun langsung dalam kerja advokasi atau aksi lapangan, banyak masyarakat yang dengan caranya masing-masing ikut bergerak ke arah model kehidupan yang lebih etis. Seorang food blogger, misalnya, tidak lagi sekadar mewartakan tentang jenis makanan tertentu, tapi menelusuri perjalanan makanan tersebut dari bahan baku sampai terhidang di restoran. Kemudian ia memaparkan betapa problematisnya rantai pangan tersebut.


Memasuki 2021, kami ingin memetakan lebih rinci di bagian mana industri kreatif bisa dan mampu berpartisipasi menuju arah emansipasi sosial dan ekonomi berkelanjutan tersebut, ikut mendorong tumbuh-kembanganya produk dan kerja kreatif yang memiliki kesadaran politis dan emansipatif, serta tidak lagi memposisikannya sebatas hiburan atau alat untuk memperoleh keuntungan finansial belaka, namun juga mesti sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat.


***

12 views0 comments
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram