• Yani Kurniawan

Gelas Kosong

Updated: Aug 10

Oleh Heru Joni Putra

Setiap Agustus kita selalu bersuka-cita. Entah suka-cita yang disebabkan oleh tingginya rasa nasionalisme atau suka-cita yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan nasionalisme itu sendiri. Bisa saja kita kita bahagia hanya karena ada hari liburnya.



Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia tak cuma soal lomba makan kerupuk yang ditunggu-tunggu oleh rakyat kecil. Tetapi juga momen untuk mendapatkan diskon belanja yang berserakan di mana-mana, apalagi buat yang lahir di bulan ini. Dan tak cuma soal persaingan gengsi antar anggota Paskibra, tetapi juga soal sumber rezeki para penjual bendera dan pernak-pernik lainnya.


Agustus barangkali juga satu-satunya momen di mana sebagian besar kita mempunyai semangat cinta tanah air yang melimpah-ruah. Dan hanya di bulan ini, para pendiri bangsa boleh bangkit dari kuburnya untuk memberikan tepuk-tangan, katakanlah sebagai penghormatan pada semangat rakyat Indonesia yang begitu nasionalis. Bahkan para penjahat negara pun tak kalah dengan yang lainnya. Koruptor bisa saja meneteskan air mata melihat kibaran merah-putih.


Pada gilirannya, kita bisa saja berkata bahwa segala yang dikaitkan dengan nasionalisme memang tak bisa dipercaya begitu saja. Ada yang mengatakan bahwa nasionalisme itu adalah gelas kosong. Ia bisa diisi oleh apa saja. Bahkan oleh hal-hal yang saling berbenturan sekalipun.


Dan agaknya memang begitulah yang terjadi sejak zaman perjuangan kemerdekaan. Sejak munculnya, nasionalisme selalu berwajah ganda. Dan kini mungkin sudah berlipat ganda. Nasionalisme kita, di masa tertentu, diisi oleh semangat kerakyatan. Di sisi lain penuh-sesak oleh semangat militer. Ada pula semangat nasionalisme yang diisi oleh kepentingan agama. Bahkan, tak kalah ironisnya, nasionalisme yang bersifat kedaerahan.


Bagaimana dengan ranah sastra?


Kontribusi sastra pada isu kemerdekaan sering kali dipandang sebagai bagian dari hiburan belaka, seperti sesi pembacaan puisi. Tentu banyak sekali lomba baca puisi yang bertemakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kita tentu sudah akrab dengan puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar. Untuk tema ini, puisi itu tentu sama populernya dengan “Karawang-Bekasi” karya Chairil Anwar.


Tapi, itu tentu saja hanya contoh umum. Dari karya-karya lain, yang mungkin tak sepopuler puisi di atas, kita juga bisa menemukan isi lain untuk gelas kosong yang sama.


Bila setiap kemerdekaan kita tak bisa lepas dari sosok Soekarno, maka buku Kuli Kontrak (1984) karya Mochtar Lubis (1922-2004) justru tampak tendensinya untuk menggambarkan Soekarno jauh dari kesan seorang pahlawan. Bahkan presiden pertama kita itu cenderung digambarkan sebagai penipu rakyat Indonesia. Apa yang disebut Soekarno sebagai revolusi ternyata tak ada urusannya dengan kepentingan rakyat sama sekali. Soekarno tampak hanya sekadar didewa-dewakan daripada dipuja-puji karena memang memedulikan rakyat. Bahkan, selain menyinggung soal sosok Soekarno, dalam buku ini juga terdapat kritik terhadap sikap nasionalisme yang berlebihan. Nasionalisme dibahas sebagai sesuatu yang mengganggu hidup manusia, yang membuat manusia mempunyai semakin banyak beban dalam hidupnya. Tentu, pertikaian Soekarno dan Mochtar Lubis dapat menjadi konteks penting untuk menelisik buku ini lebih jauh.


Lain lagi dengan Ahmad Damhoeri (1915-2000). Ia adalah seorang penulis yang menarik tapi jarang dibicarakan. Perjuangan kemerdekaan adalah isu yang tak pernah ia luputkan dalam perjalanannya sebagai pengarang. Termasuk dalam cerita anak yang ditulisnya. Tahun 1953 ia menerbitkan sebuah cerita anak berjudul Terompah Usang yang Tak Sudah Dijahit. Di buku ini, tokoh utamanya adalah sandal (terompah) yang sudah usang dan berpindah dari satu kaki ke kaki lain. Suatu kali sandal itu bertemu dengan sepatu tentara. Dari sepatu tentara itulah kita diberi cerita tentang nasib miris para pejuang setelah kemerdekaan.


Banyak yang hidup melarat di negeri yang telah dibelanya mati-matian sementara di sisi lain banyak pejuang yang mendapatkan hidup layak bermewah-mewah setelah masa kemerdekaan. Pejuang-pejuang itu bernasib sama ketika merebut kemerdekaan. Tapi, setelah kemerdekaan, jalan nasib tak lagi sama. Novelet ini mungkin bisa jadi salah satu contoh cerita anak yang punya kandungan sejarah yang menarik.


Soal revolusi, kita juga ingat Idrus (1921-1979). Ia salah satu penulis prosa yang penting di angkatan 45. Pada tahun 1946 ia mempublikasikan novelet Surabaya. Karya ini menunjukkan gaya yang berbeda dalam menghadirkan tema kemerdekaan. Ceritanya di sekitar perjuangan kemerdekaan Indonesia. Penjajah dan pejuang dalam cerita itu sama-sama menjadi bahan olok-olokan, yaitu sebagai pertempuran antara badut dan koboi. Gara-gara karya ini, Idrus dianggap kontra-revolusi. Barangkali Idrus bukan kontra-revolusi, tapi ia hanya ingin mengajak kita untuk melihat sisi lain dari perjuangan kemerdekaan, sisi yang tak boleh kita luputkan juga, yaitu ketika di masa perjuangan kemerdekaan itu antara penjajah dan pihak bangsa Indonesia sama-sama melakukan penindasan terhadap rakyat Indonesia, mencari kesempatan dalam kesempitan, menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai tipu-muslihat. Paling tidak, novelet ini menyentil kita bahwa sejarah bukan hitam-putih di mana ada pihak yang selalu jahat dan ada pihak yang selalu suci.


Di dekade 40-an, ada lagi kisah yang tak kalah menarik dari salah satu penyair yang juga jarang dibicarakan, yaitu Asmara Hadi (1914-1976). Penyair ini termasuk angkatan Pujangga Baru. Dibanding corak umum puisi rekan seangkatannya, puisi Asmara Hadi justru terlalu patriotik. Maka, sangat wajar bila JU Nasution di tahun 1965 mengumpulkan puisi-puisi Hadi dalam satu buku yang diberi judul Asmara Hadi Penyair Api Nasionalisme. Dibanding Muhammad Yamin, puisi-puisi Asmara Hadi jelas lebih terang-terangan bicara soal nasionalisme Indonesia, terutama puisi yang ditulisnya di dekade 30-an. Ia pernah diasingkan dengan Soekarno ke Ende, bukan karena puisinya yang lantang, melainkan karena aktivitas pergerakannya. Justru di zaman Jepang, terjadi hal yang menarik. Asmara Hadi di era itu tak terlalu banyak lagi menulis puisi patriotik seperti dekade sebelumnya. Ia lebih banyak menulis puisi yang cenderung romantik. Maka suatu kali ia menulis puisi tentang bunga dan kumbang. Bunga yang layu sehabis diisap kumbang. Mungkin bagi kita hari ini, puisi bunga dan kumbang terlanjur dipandang sebagai kisah kasih laki-laki dan perempuan. Tapi, tidak begitu di mata Jepang saat itu. Puisi bunga dan kumbang justru dianggap sebagai ancaman. Bunga yang layu agaknya dianggap sebagai simbol rakyat Indonesia yang dijajah dan kumbang yang menghisap madu dianggap sebagai simbol Jepang di penjajah.


Demikianlah sekilas percabangan cara melihat dalam isu kemerdekaan. Semua itu, tentu saja, hanya sedikit sekali dari sekian banyak lagi kisah di sekitar kemerdekaan Indonesia. Daftar di atas masih bisa kita perpanjang lagi. Apalagi bila kita tambahkan dengan karya-karya yang ditulis di abad ini. Sampai sekarang, isu di sekitar kemerdekaan Indonesia tak pernah habis-habisnya menjadi perhatian para sastrawan. Semakin jauhnya cita-cita kemerdekaan dari kenyataan yang kita hadapi sekarang, barangkali, menjadi salah satu sebab-musababnya.


Sebagai penutup, mari kita simak sekali lagi puisi Hamid Jabar (1949-2004) yang berjudul “Proklamasi, 2” ini:

Proklamasi, 2

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia Untuk kedua kalinya!

Hal-hal yang mengenai hak asasi manusia, utang piutang dan lain lain Yang tak habis-habisnya INSYA-ALLAH akan habis diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo Yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, 25 Maret 1992 Atas nama bangsa Indonesia Boleh - siapa saja



Heru Joni Putra lahir 13 Oktober 1990 di Payakumbuh (Sumatra Barat). Lulusan Sastra Inggris Universitas Andalas dan Pascasarjana Cultural Studies Universitas Indonesia. Buku puisinya, “Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa” (2017), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh George A Fowler, dan sedang dipersiapkan untuk terbit oleh Lontar dengan judul "Will Badrul Mustafa Never Die? Verse From the Front".

25 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram