• Yani Kurniawan

Dari Dapur Penerjemah

Oleh Maria M. Lubis

Penerjemah buku adalah “profesi cinta”. Itu yang biasa saya katakan pada teman-teman yang menyatakan berminat terhadap pekerjaan ini. Mengapa? Karena hanya orang-orang yang benar-benar mencintai pekerjaan ini yang bisa bertahan.



Penerjemah buku pada umumnya adalah pekerja lepas, yang dipekerjakan per proyek atau per buku. Tenggat waktu yang diberikan oleh penerbit biasanya singkat. Kadang, malah ada pekerjaan yang harus dicicil—penerjemah harus menyetor bab demi bab untuk mengejar waktu terbit yang ditentukan (biasanya jika ada buku dari penulis bestseller yang akan diterbitkan berdekatan dengan buku aslinya, atau harus berkejaran dengan penayangan filmnya). Dalam waktu sebulan, penerjemah bisa mengerjakan ratusan halaman (bahkan ada yang mencapai 500-600 halaman).


Bagaimana dengan honor? Sayangnya, honor penerjemah buku relatif kecil dibandingkan penerjemah nonbuku. Selama hampir empat belas tahun menjadi penerjemah lepas, honor saya (dan honor rekan-rekan seprofesi) tidak banyak mengalami kenaikan. Kadang kami terpaksa menurunkan harga jika mendapat pekerjaan dari penerbit kecil. Honor dibayarkan setelah pekerjaan selesai, jarang ada penerbit yang memberikan uang muka. Setelah itu, honor masih dipotong pajak, yang setelah dihitung selalu lebih bayar setiap tahunnya. Untuk mengurus kelebihan pembayaran pajak ini membutuhkan waktu dan energi yang cukup besar, jadi biasanya diabaikan begitu saja.


Dengan honor yang bisa dibilang pas-pasan, penerjemah buku dituntut untuk menunjukkan kualitas terbaiknya. Setiap hasil terjemahan pasti melewati mata tajam editor. Jika terjemahan dinilai jelek, bisa-bisa penerjemah tidak akan mendapatkan pekerjaan lagi dari penerbit. Kadang, meskipun penerjemah bisa mempertahankan kualitas pekerjaannya, belum pasti dia akan mendapatkan pekerjaan lagi—mungkin tidak ada naskah yang cocok dengan kemampuan atau keahliannya, atau ada penerjemah baru yang honornya lebih rendah.


Karena alasan ini, sangat jarang ada penerjemah buku purnawaktu, terutama yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga.


Apakah ada solusi untuk hal ini? Sayang sekali, sepertinya hingga saat ini belum ada. Penerjemah buku pun sangat jarang bersuara dalam organisasi penerjemah di Indonesia—HPI—karena merasa tidak mendapat banyak manfaat. Memperjuangkan nasib penerjemah buku itu sulit. Kita tidak bisa menuntut banyak dari penerbit. Karena dulu mengawali pekerjaan di sebuah penerbit, saya memaklumi kebimbangan mereka: mereka harus menjaga harga buku terjemahan agar tidak terlalu mahal, sementara ongkos produksi tinggi dan ada royalti yang harus dibayarkan kepada penerbit buku asli. Belum lagi penerbit diserang oleh pembajakan buku. Juga pandemi Covid-19 yang semakin menurunkan daya beli masyarakat.


Sementara itu, penilaian pembaca tidak memedulikan kesulitan-kesulitan yang dialami penerjemah. Beberapa kali saya menemukan pembahasan di media sosial tentang gugatan terhadap penerjemahan naskah. Yang terakhir saya baca adalah gugatan penerjemahan sastra, yang kualitasnya dinilai semakin memburuk seiring waktu.


Menerjemahkan buku tidak sekadar mengalihbahasakan naskah. Ada perasaan ikut bermain di dalamnya. Penerjemah harus mencari padanan kalimat yang tepat sekaligus enak dibaca. Ia harus memiliki perbendaharaan kosakata yang luas. Ia pun dituntut untuk memahami konteks naskah. Riset harus dilakukan. Apalagi jika menemukan puisi berima—tantangan tersulit dalam pekerjaan ini, menurut saya.


Untuk menerjemahkan buku fiksi, penerjemah harus bisa menjadi aktor. Ia harus meresapi “jiwa” buku dan berperan dengan prima. Jika buku anak yang diterjemahkan, penerjemah harus bisa meresapi jiwa anak dan menampilkan teks yang sesuai dengan kemampuan anak. Begitu pun dengan buku-buku bergenre lain. Saat mengerjakan buku roman misalnya, penerjemah harus bisa meresapi perasaan orang yang dilanda asmara, mengungkapkannya dengan kalimat-kalimat yang lebih puitis dibandingkan buku thriller atau buku fantasi.


Setelah mengungkapkan sekian banyak duka dan tantangannya, sekarang akan saya tampilkan bagian menyenangkannya.


Semua penerjemah buku adalah kutu buku yang memulai kecintaan mereka terhadap buku sejak kecil. Mengerjakan sesuatu yang menjadi kegemaran adalah sesuatu yang sangat menyenangkan (Meskipun begitu, tetap saja ada kemungkinan bahwa kegemaran ini akan berkurang karena berubah menjadi kewajiban—tapi, biasanya para penerjemah memiliki hobi selain membaca).


Selain itu, penerjemah buku biasanya cukup puas karena menjadi salah satu orang pertama yang membaca sebuah naskah. Saya juga mengenal beberapa penerjemah buku yang sangat puas karena bisa membagikan kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan kepada pembaca.


Satu lagi yang menyenangkan adalah apresiasi pembaca. Rasanya ada tambahan energi baru saat membaca resensi yang menyatakan bahwa pekerjaan seorang penerjemah enak dibaca. Saya sendiri senang jika ada peresensi yang memberi kritik dan saran terhadap pekerjaan saya secara cukup mendetail. Tanpa harus baper, ini adalah salah satu cara meningkatkan kualitas terjemahan, bukan?


Setelah membaca paparan saya tentang suka-duka, tantangan dan hambatan para penerjemah buku, setujukah Anda jika ini adalah “profesi cinta”?

Maria M. Lubis

(penerjemah dan editor buku, juga menulis buku anak)

421 views
Subscribe to Our Newsletter

© 2020 17000 Pulau Imaji

Jl. Pulo Nangka Tengah No. 29,
Pulo Gadung Jakarta Timur 13260, Indonesia

+62 42886726

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram